Kamis, 23 Januari 2014

Kado Ulang Tahun: In Different Ways


Happy Birthday my girl, my best friend, my kind-hearted roommate, my always-rempong-with-so-many-rituals girl!!
Selamat datang di tahun 16! Gimana rasanya menjadi seseorang dengan umur 16 tahun?
Sengaja nih menuliskan kado ini setelah kamu melewati beberapa hari dalam 16 tahunmu, aku tidak ingin memberatkanmu dengan berbagai doa atau pesan. Aku ingin kamu menikmati dulu waktumu, hehe soalnya tahun-tahun ini kamu akan mulai banyak memikirkan berbagai hal. Lebih ribet, lebih dalam dan lebih galau lagi memikirkan tentang hidup, keluarga, sekolah, teman, kegiatan bahkan pacar. Pada tahun ini kamu akan memasuki fase galau dalam hidup. Mungkin bagian galau of life yang pertama.
Mungkin akan sedikit berat, karena kamu harus terbiasa dengan semesta dan keadaan yang memaksakan kamu untuk mulai memasuki dunia dewasa yang lebih cepat, lebih rumit lagi. Tapi, aku harap kamu mau menjalani fase ini. Tidak bersembunyi dalam zona nyaman dan hati-hati yang biasa kamu jalani. Fase ini, memang sebuah bagian dalam hidup yang harus kamu jalani karena kamu akan menjadi orang yang lebih baik dan siap untuk menghadapi fase lain dalam hidup.

Saat berumur seperti kamu dulu, saat itu aku adalah seorang Desti ganjen. Juga Desti yang nakal dan memberontak.
Kamu pasti ingat, aku sering berkaca sendiri didepan cermin, rajin menyisir rambut, dan mencoba berbagai gaya manis. Saat itu kamu hanya bisa berteriak, “Kamu gila yaa mbak? Ngaca terus!”. Namun, saat ini, sepertinya kamu sudah lebih berteman baik dengan sisir. Kamu juga sering senyum-senyum sendiri setelah merapikan rambut. Aku ingin membalas teriakanmu kala itu, tapi aku hanya bisa cemberut dan berkata, “Tuhkan, kamu belom ngerasain aja sih enaknya jadi cantik dan manis dicermin. Ketagihan deh sekarang.”
Aku benarkan? Kamu ketagihan berkaca sekarang?
Hahahaha, itu wajar. Itu memang salah satu pretelenhidup yang harus kamu lalui dalam fase ini.

Aku yang lain adalah aku yang nakal dan pemberontak.
Yang masih hingga sekarang. Masih suka main gak jelas, bahkan sekarang pulang hingga larut. Bangun siang dan malas-malasan, males mandi pula. Jarang mengikuti keinginan orang tua. Bebas semauku sendiri.
Kamu pasti ingat, bagaimana aku dulu memaksa masuk sekolah jauh, enggak mau berangkat naik bis, berantem memilih jurusan di sekolah dan kuliah dengan Ayah, bermain bersama teman, bahkan mengikuti kegiatan yang menyita banyak waktu. Saat itu, sebuah fase itu yang harus aku lalui.

Aku sering merasa terganggu saat kamu bilang, “Mbak enak, gak perlu belajar bisa masuk UGM. Aku harus belajar biar bisa masuk UGM. Pasti sulit buat aku ngejar UGM.”
Aku enggak tau gimana ceritanya aku bisa masuk UGM. Aku bilang karena aku beruntung. I’m a lucky girl. Untungnya pula, saat itu aku berani berantem dengan Ayah. Memilih IPS dan bisa memaksimalkan otakku sehingga ada tiket emas yang membantuku masuk UGM. Kebetulan juga aku bukan pembelajar formal yang harus duduk manis seperti kamu, sehingga terlihat betapa aku anak yang beruntung, yang tidak perlu banyak belajar.
Aku beruntung, Darl. Kamu rajin.
Itu kuncinya. Kamu harus mengakui bahwa kita memiliki cara belajar yang berbeda. Itu yang seakan mempermudah jalanku. Tidak juga. Aku juga mengalami banyak rintangan. Ayah dan Bunda tidak pernah benar-benar mempercayaiku belajar karena aku selalu menyalakan musik dan bernyanyi saat belajar. Aku harus melalui fase itu, tidak seperti kamu. Ayah dan Bunda selalu mendukungmu, mempercayaimu. Itu yang harus kamu gunakan untuk ikut menyusul UGM-ku.

Saat kamu iri dengan ‘kepintaranku’, aku hanya seorang kakak biasa yang juga iri padamu.
Lihatlah kamu sekarang. Kamu tumbuh menjadi gadis manis, dengan rambut panjang yang tertata rapi, berkacamata, rajin belajar, rajin beres-beres. Kamu juga lebih dewasa, lebih tenang, enggak pecicilan, sudah sangat wanita. Kamu tumbuh menjadi seorang anak gadis harapan orang tua dan sangat wife-able, mungkin saat ini sudah ada beberapa ibu yang menginginkanmu jadi menantunya. Itu sebabnya banyak cowok melihat kamu berbeda, kamu memiliki charm sebagai cewek yang manis. Yang bikin kamu punya banyak penggemar.
Tapi ada kalanya kamu bilang, “Enak ya Mbak jadi kamu? Ceria, banyak temen, aktif. Aku pengen kaya kamu.”
Saat itu pula, aku ingin menjadi seseorang yang seperti kamu. Aku juga pengen tau jadi cewek wife-able sejak dini, bukan cewek pecicilan dan stress kaya gini, hehehe. Kalo aku bisa, aku juga akan seperti kamu, biar Bunda gak ngomel-ngomel melulu sama aku. Tapi sepertinya Tuhan dan Semesta lebih ingin membentukku seperti ini. Tuhan dan semesta ingin aku menjadi cewek yang aktif, yang bisa loncat sana-sini, dan aku juga lebih nyaman seperti ini.
Percayalah, saat dewasa nanti, kamu pasti akan lebih tertata, titi dan telaten daripada aku. Aku pasti masih akan kebingungan mencari barangku.
Percayalah, Tuhan dan Semesta sudah bekerjasama untuk membentuk dirimu yang seperti itu. Coba saja, saat kamu harus melakukan banyak hal seperti aku, mungkin kamu akan tidak nyaman.

Manusia memang tidak pernah puas ya?
Begitu juga aku dan kamu.
Kamu selalu ingin seperti aku, aku selalu ingin seperti kamu.
Kamu selalu melihat apa yang aku lakukan dalam hidup ini adalah kehidupan yang kamu impikan, begitu juga dengan aku.

Setiap orang akan melalui pretelan hidup yang berbeda selama hidupnya.
Dan aku harus melalui berbagai pretelanitu. Jalan itulah yang harus aku lalui. Untuk bisa kuat dan menjadi Desti yang sekarang.

Kamu pasti juga akan melalui pretelan hidup. Mungkin saja berbeda dengan apa yang aku lalui.
Aku tidak minta kamu untuk melalui pretelanhidup yang sama denganku dalam fase ini. Kamu pasti akan mengalami hal yang berbeda, yang akan membentukmu menjadi Dian yang kuat, berani, tangguh dimasa depan. Tentu saja yang berbeda dengan kuat, berani dan tangguh yang aku punya.
Kamu tidak harus seperti aku dan iri denganku.

Kamu tidak harus melalui dan melakukan hal yang sama sepertiku.
Tuhan dan Semesta memang menyediakan jalan ini untukmu. Jalan inilah yang harus kamu lalui, untuk menjadi Dian yang seutuhnya. Kamu masih ingin seperti aku? Bisa, cobalah sedikitlah bersenang-senang dan rileks. Sedikitlah keluar dari zona nyaman dan kehati-hatian yang biasa kamu lakukan, tapi tidak merubah seluruh dirimu. Percayalah, aku lebih suka kamu yang seperti ini. Yang lebih dewasa dibanding aku, yang lebih rapi dan teratur daripada aku.
Kamu harus lebih menerima dan nyaman dengan dirimu. Aku juga harus mengalami pretelan hidup itu kok.
Semua orang punya sesuatu yang berbeda dalam hidupnya. Semua orang punya hal yang tidak dimiliki orang lain, yang menjadi nilai plus dan ciri khas orang itu.

Every person is worth to be and always have their own values, in different ways.
Kamu selalu punya nilai tersendiri akan dirimu, in different ways. Yang membedakan kamu dari orang lain. Yang membedakan kamu dari aku.
Itu yang harus kamu pahami. Perbedaan itu yang harus kamu lihat dan resapi, lalu hargai dirimu dan orang lain. Dengan segala perbedaan yang ada.

Welcome to sixteen years life, Girl!
Have a nice and beautiful life. Have a exciting and wonderful journey, enjoy it!
Wish the best for you J
Hidup tidak semudah apa yang kamu imajinasikan, semakin lama semakin banyak hal yang harus dilalui dan diselesaikan. Selamat menjalani, selamat belajar dan selamat menilai dan menghargai dirimu.
I always love you.. :*


PS: Karena kamu sudah sangat manis dan wife-able, kamu boleh lho pacaran duluan, aku iklass~ hihihi

Minggu, 19 Januari 2014

Surat Cinta Untuk Kamu, Teman yang Aku Rindukan..

Hari ini dapet kejutan..
Saat bergelung ditengah selimut karena merajuk dan kedinginan karena gak enak badan, satu stiker Cony memeluk Brown di Line jadi kejutan yang sangat menghangatkan.
With that sticker, i’m finally find my missing friend.
Begitu di chatsama ia langsung nangis, begitu di chatsama dia langsung sadar kalo kangen berat!

Ya Tuhaann..
Kapan ya kita terakhir ngobrol, Mel?
Kapan yaa kita terakhir diem-dieman ngeliatin jalan di dalem bis?
Kapan kita terakhir kali ngobrol gak jelas ngalor-ngidul?
Apakah udah selama itu?

Saking bingung dan senengnya, aku sampe bingung mau bales chatmu. Cuma bisa tanya kabar dan tanya apa udah ketemu aa EXO apa belom? Hahahaha, rasanya konyol banget. Sekonyol air mata yang jatuh lhoo, Mel.

Aku inget banget pertama kali kita ketemu.
Waktu itu kamu masih kucel, hahaha. Masih bingung karena baru pertama di Jogja. Dengan pede dan sok-sokan seperti biasanya, aku deketin kamu yang bingung. Lalu semesta berkonspirasi, menyatukan kita dalam satu kelas dan kita mendadak jadi kembar dempet. Nemenin kamu kemana-mana, ngajarin kamu naik bis dan nginget gang rumahmu bahkan berkesempatan bertemu ‘Om penjaga rumah’ Tantemu.
Maen, Photobox, nonton, makan mie ramen, keliling naik trans Jogja, opa-opaan sama pacar kamu dulu. Itu senengnya. Itu lucunya. Sama kamu, Mel..
Sedihnya ada, cemas juga. Waktu kamu telpon aku, Cuma diem aja, terus sms bilang kalo kamu sedih. Karena seseorang yang lagi jauh..
Waktu kamu tiba-tiba gak masuk sekolah, karena sakit. Terus aku dapet sms dari Tante kamu, dari pacar kamu. Khawatir banget rasanya, Mel. Sejak itu jadi agak lebay over protective-nya sama kamu. Takut kamu kenapa-napa, karena kamu dari jauh. Begitu juga sama kejadian yang menggemari seseorang itu, Mel. Aku Cuma pengen jagain kamu, tapi kayanya salah cara. My bad~

Kamu juga misterius. Sangat misterius malah..
Enggak bener-bener kenal kamu, Mel. Kaya ada sesuatu yang enggak kamu jelasin banget, yang bikin aku bertanya-tanya, yang lain juga kok. Keluarga kamu, kesukaan kamu, masalah kamu, kayanya enggak bener-bener tau. Itu kenapa kami suka kepo-kepo kamu, karena kami pengen kamu percaya sama kami, biar kamu enggak merasa sendiri.
Tapi kayanya salah cara juga, Mel. Another, my bad~

Tiba-tiba juga, semua terasa semakin jauh karena kamu beda kelas sama kami. Kamu dikelas sebelah, Cuma sering ketemu waktu istirahat dan dikit-dikit smsan. Kamu punya temen baru, kesenengan baru. Enggak papa sih, Mel. Kami seneng kok, karena mungkin kami belum bisa ngikutin kesukaan kamu dan mereka bisa. Jadi disatu sisi kami seneng, kamu semakin keliatan bahagia, kamu jadi semakin terbuka. Dari kelas sebelah, kami ikut seneng buat kamu, Mel. Sayangnya, kami gak gerak cepat untuk ngejar itu, jadi kami semakin ketinggalan. Aku juga salahnya gak berusaha ngejar, gak berusaha untuk bener-bener ngerti kamu..
Salah cara lagi yaa, Mel? Again, my bad~

Sekarang, kamu sudah di seberang samudra, sudah ditempat yang dua jam lebih cepat dari tempat aku menulis, Mel.
Sudah mengenal dunia yang lebih besar, lebih lebar, lebih penuh hal-hal baru. Mengejar hal yang emang sangat kamu sukai dan cintai, yang jujur luput dari kepekaanku sebagai teman. Kamu benar-benar selangkah lebih maju.
Aku jadi iri, juga sedih banget karena harus pisah dari kamu. Kamu masih tetap polos, masih tetep kangen sama pisang goreng Bunda-yang bikin aku tambah nangis kejer.

Aku kehilangan banyak momen tentang kamu, Mel.
Kehilangan banyak kesempatan buat kenal kamu lebih dekat, buat mengambil kesempatan dan memiliki posisi menjadi orang yang selalu mendukung kamu.
Aku juga terlambat karena gak nyari kamu sejak satu tahun yang lalu. Terlambat banget sampe tiba-tiba cemas karena menyadari Twitter dan Facebook kamu sudah deactive. Again and again, my bad~

Sekarang, dengan jarak terpisah ratusan kilometer dan waktu terlambat 2 jam dari tempat kamu bergelung dalam selimut, I just wanna say that I miss you, miss you like crazy!
Maaf yaa kalo aku pernah punya salah, maaf yaa kalo aku pernah menekan kamu dengan segala keegoisanku. Maaaaff sekali. A bunch of sorry..

Dan aku hanya berharap, kamu baik-baik disana. Sehat selalu, bahagia selalu, semangat selalu.
Jangan lupa makan, jangan keseringan makan mie instan. Jangan kecapekan, atur waktu jangan sampe sakit.
Tetap menyanyi, tetap berteman degan mixer, tetap bersahabat dengan piano dan berkencan dengan nada. And always be you, definitely you..

Dari Jogja yang hujan hari ini, untuk Seoul yang dingin malam ini ditambah setitik air mata, wish you always live your life up! Aku Cuma berharap kamu bahagia, selaluuuuu.

Cuma satu kata ini, Mel yang paling fasih aku ucapkan, saranghae! *bikin bentuk love ala drama Korea*

Sabtu, 04 Januari 2014

Menertawakan Luka

“Kamu akan sembuh saat kamu sudah bisa menertawakan luka yang pernah kamu alami..”

Kalimat itu, entah sudah berapa kali aku ucapkan untuk teman-teman, maupun orang yang bercerita padaku soal masalahnya. Kalimat itu juga yang sebenarnya menjadi salah satu ‘penyembuh’ saat aku ada masalah.

Kemarin, waktu Sekolah Kaca 23-angkatannya udah banyak anyway, materi dari Sekolah Kaca adalah bercerita. Bercerita apa saja. Terutama tentang dirinya. Maksudnya, selain menstimulus agar mereka biasa berbicara dan mengutarakan pendapat, juga agar mereka mau membuka diri. Itu penting lho, saat reportase, pasti akan ada banyak hal ‘ajaib’ dan mengagetkan yang akan mereka temui, makanya mereka harus belajar untuk membuka diri.

Dari hasil bercerita itu, mereka harus mengerjakan PR. 500 kata tentang cerita menarik dari teman mereka. Setelah aku baca, beragam yaa? Sebagian mulai berani bercerita lebih dalam tentang dirinya. Sebagian masih mencari aman dengan bercerita hal permukaan tentang dirinya. Intinya, semua sudah berani bercerita soal masalah-masalah yang pernah mereka alami. Sekecil apapun itu.

Aku juga pernah punya masalah kok.
Lumayan besar malah. Lumayan sempat bikin pengen kabur dan menghakimi hidup ini. Bahkan, bilang kalo Tuhan itu gak adil. Seriusan.
Tapi, akan ada satu titik dimana kita akan melihat batu untuk berpijak. Kita akan mampu berdiri dan perlahan akan menaiki tangga untuk mengejar ketertinggalan.

Aku suka sesi kemarin.
Aku merasa senang. Senang karena bisa kepo-kepo, hahaha.. Apalagi setelah baca tulisan dari temen-temen. Setiap orang pasti punya cerita, juga punya masalahnya sendiri. Dan gak dipungkiri kalo setiap masalah akan memunculkan luka.
Mas Agung pernah bilang, bahwa masalah remaja yang terbesar adalah merasa kalo masalahnya adalah yang terbesar dalam hidup ini. Itu yang bikin banyak remaja terpuruk karena merasa hidupnya sangat kelam. Padahal, kalo kita mau mendengarkan banyak orang, kita pasti akan ada pada titik menyadari bahwa masalah kita itu gak ada apa-apanya.
Pesan tersirat lain dari sesi kemarin sih sebenernya lebih pada menejem masalah. Ini tersirat banget sih sebenernya, apalagi buat yang masih sekolah, tapi berhubung aku udah berkali-kali ikut Sekolah Kaca, jadi makna tersiratnya udah agak gak tersirat lagi, hehehe. Dengan bercerita, harapannya teman-teman bisa dan mau menghadapi masalahnya. Dengan bercerita kita akan dihadapkan pada paksaan untuk mengutarakan yaa secara tidak langsung kita harus menghadapi fakta yang kita pendam sekian lama. Iya kan? Itu sih, menghadapi masalah dan apa yang pernah kita lalui dalam hidup.

Akhirnya, saat belajar untuk menghadapai masalah kita, kita akan menemukan solusi, akan menemukan ‘penyembuhan’-kaya sakit keras aja buk.
Kita akan merasa bahwa masalah kita ternyata sangat lucu, atau mungkin merasa bahwa masalah kita tidak begitu besar, mungkin kita akan menyadari lalu tertawa.
Dan kamu akan sembuh, saat kamu bisa menertawakan lukamu…

Any problem worth to be, kok J

Rabu, 11 Desember 2013

Informasi Abu-Abu

“Kecelakaan antara KRL Commuter Line dan Truk tangki pengangkut Pertamina terjadi di perlintasan Kereta Bintaro, Jakarta Selatan, Senin (9/12).”

Kutipan berita di atas adalah salah satu berita yang sedang sering dibicarakan. Bahkan, hingga saat ini, dua hari setelah kejadian terjadi, berita kecelakaan KRL Commuter Line  dengan truk pembawa pengakut BBM milik Pertamina di Bintaro masih terus diberitakan. Berita kecelakaan ini menjadi beberapa main newsdi program berita.
Selasa pagi, seperti biasa sambil melakukan beberapa ritual pagi hari, televisi menjadi salah satu barang elektronik yang dihidupkan. Program televisi yang paling sering dipilih pada pagi hari adalah program berita. Hari itu, saya dan keluarga menonton program berita milik salah satu televisi swasta menayangkan program khusus. Program berita tersebut memberi segmen khusus dimana, reporter melaporkan langsung dari lapangan untuk mengabarkan keadaan sekitar satu hari pasca kecelakaan terjadi. Hal ini, bisa dibilang cukup memberi banyak informasi mengenai keadaan saat itu. Reporter lapangan memberikan gambaran bagaimana keadaan sekitar lapangan yang agak macet. Hal ini dikarenakan rel kereta yang belum bisa berfungsi maksimal sehingga banyak commuter tidak bisa menggunakan KRL dan beralih menggunakan kendaraan pribadi, juga karena situasi lalu lintas Bintaro yang memang sudah ramai. Sebagai, penikmat berita, saya cukup puas dengan segmen khusus tersebut, namun saya tidak sempat imengikuti dari awal.
Hanya saja, kepuasan saya sebagai penikmat berita harus sedikit dirusak dengan program selanjutnya yang mengiringi program berita tersebut. Program Infotainmentmembawa pemirsa pada sudut pandang yang 180 derajat berbeda dengan apa yang disajikan sebelumnya. Kedua program tersebut sama-sama mengangkat isu yang sama, yaitu tabrakan kereta di Bintaro. Hanya saja program berita menayangkan perihal kronologi dan keadaan pasca terjadinya kecelakaan, namun Infotainment hadir dengan kecelakaan Bintaro 2013 yang disangkutpautkan dengan kecelakan Bintaro tahun 1987. Pembawa acara Infotainment tersebut juga bernarasi seputar kejadian tersebut, yang secara tidak langsung menggiring penonton televisi untuk ikut memikirkan hal tersebut. Di satu titik, sebagai penikmat media saya bisa sedikit terbantu dengan narasi yang disampaikan, paling tidak saya memiliki gambaran akan tayangan yang akan disajikan. Tetapi, sebagai pembelajar media, saya bertanya-tanya, apakah bisa seorang pembawa acara memberikan narasi yang jatuhnya akan menggiring pola pikir penontonnya?
Infotainment memang masih dipertanyakan kedudukannya. Apakah masuk dalam sebuah hasil jurnalistik atau bukan-hanya sekedar hiburan saja. Diantara masih abu-abunya status Infotainment ini, ditambah dengan bagaimana narasi yang diajukan dalam acara tersebut, khususnya perihal kecelakaan KRL Commuter Line di Bintaro, membawa kebingungan tersendiri. Ada begitu banyak informasi yang tersebar di masyarakat, dengan berbagai pendekatan. Lalu, informasi manakah yang harus dipercaya? Kecelakaan yang memang dipengaruhi faktor human error atau adanya kesalahan teknis, atau kecelakaan yang dipengaruhi hari naas terkait dengan kecelakaan tahun 1987 tersebut?
Salah satu masalah jurnalistik Indonesia saat ini memang bisa dibilang seputar biasnya informasi yang berbasis tentang pengetahuan atau hiburan. Produk jurnalistik saat ini juga seakan-akan bercampur atau malah hanya berisi hal berbau hiburan. Seperti adanya Infotainment yang memberikan cara penyampaian informasi yang lebih ringan, dengan sedikit narasi. Namun, jika disaksikan secara berurutan dimulai dari berita lalu disambung dengan Infotainment, sebuah informasi malah terasa rancu. Bahkan, Infotainmentmenyajikan fakta privat seorang artis yang dikemas seolah-olah menjadi fakta publik yang harus diketahui banyak orang.
Kontroversi program Berita dan Infotainment tidak hanya ada pada kasus tersebut. Ingatkah dengan kasus Eyang Subur dan Arya Wiguna? Kasus ini diawali dengan meledaknya pengakuan Adi Bing Slamet yang merasa ditipu oleh guru spiritualnya, yaitu Eyang Subur yang beralih pada meledaknya emosi dan kebenciaan Arya Wiguna yang juga merupakan murid Eyang Subur. Pada saat itu, kejadiaan ini sangat heboh dibicarakan. Kasus ini pertama kali diangkat dalam program Infotainment dan menjadi pengisi utama setiap program Infotainment. Lucunya, kasus ini ‘naik tahta’ dan masuk dalam program berita. Tentu saja yang diangkat bukanlah soal marahnya Arya Wiguna dan perasaan kecewa Adi Bing Slamet, namun lebih pada sudut pandang penistaan agama dan penipuan. Memang, kedua program ini membawa sudut pandang yang berbeda, namun program Berita yang seharusnya lebih mengejar pada proses pencarian fakta dan mengulas soal penipuan atau penistaan agama tetap saja memunculkan Arya Wiguna sebagai salah satu narasumbernya. Juga membawa masuk emosi Arya Wiguna dan menjadi inti pembahasan. Apakah benar jika hal ini dimasukkan? Belum lagi perihal Angelina Sondakh dan Brotoseno, mantan Penyidik KPK, yang hubungannya juga mengusik para wartawan program berita untuk mengangkatnya. Sama halnya dengan kasus penabrakan, Dul, anak Ahmad Dhani yang banyak bersiar dalam berita tapi tetap mengangkat sosok keterkenalan Ahmad Dhani didalamnya, juga menjadi sosok yang terus dikejar komentarnya.
Biasnya informasi ini sangat mempengaruhi apa yang nantinya akan diterima oleh masyarakat. Tidak menutup kemungkinan masyarakat nantinya hanya akan menangkap secara parsial berbagai informasi yang dibagikan dan tidak cukup kritis untuk membandingkan informasi dari program Berita dan Infotainment. Namun, keadaan sosial masyarakat Indonesia yang lebih menyukai hal-hal yang berbau skandal yang luar biasa bisa jadi menjadi salah satu faktor kenapa program Berita saat ini sedikit memasukan unsur hiburan didalamnya atau komentar kecil seputar kejadian yang sedang terjadi.
Lucunya lagi, saat ini, jika kita memasukkan keyword seputar berita kecelakaan KRL dan truk tangki BBM di Bintaro di search engine, kita akan mendapatkan banyak tulisan. Hanya saja, tulisan tersebut lebih banyak seputar mencocokan dan menyangkutpautkan kecelakaan Bintaro 1987 dan kecelakaan Bintaro 2013 yang sama-sama terjadi pada hari Senin. Mirisnya, Media online berbasis berita menjadi salah satu pihak yang ikut mengangkat kecurigaan tersebut.

Kamis, 05 September 2013

Hidup Bukan Memilih PIlihan Ganda

“Hidup itu memang membuat pilihan.
Namun, hidup tidak memberikan opsi ganda seperti dalam lembar soal ujianmu. Kamu harus mencari sendiri opsi untuk pilihanmu.”
-       Aku, 5 September 2013

Beberapa hari ini, aku dan gerombolan nyinyir lagi membahas banyak hal tentang pendidikan Indonesia. Hal ini di awali dengan sebuah lomba esai yang menarik perhatian untuk diikuti. Dengan beberapa energi kekepoan, kami berhasil menemukan pemenang tahun lalu.
Pemenang esai itu menulis dari sesuatu yang sangat simpel namun menarik. Ia menuliskan tentang pengalamannya bersekolah diluar negeri dan membandingkan metode ujian di negera tersebut dengan Indonesia. Ada sebuah kerisauan dimana, kita, pelajar Indonesia tidak pernah diajari untuk menuliskan pendapat, mengutarakan pendapat, atau diajari logika berpikir. Kita terbiasa dengan metode ujian dengan pilihan ganda. Akhirnya, sistem ini membuat kita terbiasa ingin mendapatkan opsi saat disuruh memilih.

Terbiasa dengan pilihan ganda sehingga kita tidak terbiasa mengutarakan pendapat.
Yak! Benar sekali.
Saat ini pun, saat duduk di bangku kuliah, aku masih merasa sangat asing dengan kebiasaan bertanya setelah materi kuliah usai. Kalo dosen bertanya “ada pertanyaan?”otomastis akan langsung mengheningkan cipta atau mendadak sibuk dengan berbagai hal.
Belum lagi masalah ujian di kampus.
Kita yang dari SD hingga SMA, terbiasa dengan ujian pilihan ganda mendadak kagok dengan lembar jawaban 4 halaman folio dan soal-soal esai. Tak jarang, saat mendapat lembar soal akan dengar beberapa hembusan nafas dari sekitar. Terbiasanya dengan soal pilihan ganda yang sangat terpaku pada materi membuat kelas kadang memaksa dosen untuk mengijinkan ujian open book.

Aku dan gerombolan nyinyir jadi banyak membahas kebiasaan pilihan ganda ini dengan apa yang ada disekitar kami.
Aku yang punya beberapa teman ingin dapet scholarship keluar negeri mendadak ragu dengan syarat pendaftaran yang harus menyertakan beberapa esai, belum lagi dengan kebiasaan ujian disana yang memang serba esai. Aku juga mulai merenungkan kebiasaan kelasku saat akan ujian. Pertanyaan pertama yang dilontarkan akan seputar “ujian open bookgak? Kan lebih gampang kalo open book.” Aku tidak memungkiri, kalo materi yang seabrek itu kadang bikin stress dan membuat kita ragu akan kemampuan diri sendiri. Tentu saja, aku yang masih labil ini juga akan bersorak jika dosen memberi hadiah ujian terbuka. Namun, saat di ruang ujian, aku lebih sering membuat buku terongok tidak tersentuh di meja. Cuma buat ayem-ayem aja bawa buku tebel.

Beberapa hari yang lalu, sewaktu pulang dari kampus. Di utara Fakultas Kehutanan, di pinggir jalan memang ada space untuk baliho-baliho. Nah, salah satu dari baliho tersebut berisi promosi dari salah satu bimbel. Lalu aku teringat zaman ujian SMA. Saat itu, pasti ada banyak bimbel mengadakan try out ke sekolah dan memberikan simulasi menjawab soal ujian dan SNMPTN dengan waktu kurang dari 2 menit. Pilihan jawaban yang ada 5, soal yang Cuma kode-kode susah dimengerti dan waktu yang dibatasi, membuat banyak kita bingung memilih bimbel terbaik. Waktu itu sih Cuma mikirin nilai supaya jadi lebih bagus dan meringkas waktu mengerjakan soal aja, tapi metode cepat ini membuat aku kembali berpikir ulang.

Jadi, sebegitu instan dan mudah kah pendidikan kita?
Instan dalam arti, pola berpikir kita akan dipotong sedemikian rupa agar lebih ringkas dan cepat. Jadi, soal akan sangat cepat kita kerjakan, enggak perlu cara panjang dan ribet. Mudah karena kita sudah disediakan pilihan menuju hal yang benar. Kita tidak pernah diajari untuk berpikir kritis, mengutarakan pendapat kita, merangkai kata-kata dan mencoba menyusun logika kita.

Menulis memang sebuah kebiasaan.
Menjadi kritis juga sebuah kebiasaan.
Dan dua-duanya butuh keberanian.
Sudah sejak SMA aku dan gerombolan nyinyir dipaksa menjadi orang-orang kritis yang rajin menulis. Awalnya susah. Susah banget! Jika disuruh memperhatikan sekitar untuk direnungkan lalu mengkritisi hal itu melalui tulisan, kami akan sangat bingung. Entah apa yang bisa menjadi objek untuk diamati. Menulis dan kritis memang butuh keberanian besar. Keberanian untuk dibilang sok pinter, pengen pamer, dan dinyinyirin temen bahkan guru yang males dengan sesi tanya jawab yang membuat waktu belajar jadi lebih lama.
Kebiasaan dan keberanian inilah membuat aku sedikit terbiasa dengan pertanyaan yang dengan kurang ajarnya muncul saat kuliah dan membuat teman-teman emosi karena aku memperlama jam kuliah- sekalian aku mau minta maaf kalo suka annoying. Hal ini juga yang membuat aku suka diskusi, nggambleh gak jelas, dan enggak teriak histeris saat kuliah pertama ada tugas 500 kata. Ini masalah kebiasaan dan keberanian untuk enggak terpaku pada opsi-opsi pilihan.

Jika direnungkan lagi, masalah sepele opsi ganda untuk ujian ini ternyata juga berpengaruh pada kehidupan. Enggak Cuma masalah pendidikan, dengan logika berpikir yang jauh terasah dengan menulis dan soal esai, membuat kita juga akan terbiasa untuk mempertimbangkan sesuatu dan tidak terpaku untuk menunggu ada opsi untuk dipilih. Aku rasa, soal esai memang ada perlunya. Bahkan sangat perlu. Agar kita bisa mempertimbangkan sendiri kehidupan kita yang kadang memang tidak menyediakan opsi pilihan.

Aku bukan tidak setuju dengan pilihan ganda.
Aku juga merasa senang kok jika ada pilihan ganda. Guru juga akan sangat terbantu karena tidak harus mengkoreksi ratusan lembar jawaban dengan tulisan ceker ayam. Tetapi, jika ternyata pada akhirnya kitalah yang menjadi korban, apakah kita tidak akan mengkritisi ini? Jika ternyata, pilihan ganda ini membuat kita sekolah dengan pakem tertentu dan tidak diberi ruang untuk berpendapat, apakah tidak seharusnya kita mempertanyakan ini?
Soal esai memang ribet dan panjang. Soal esai memang bikin tangan pegel dan memakan waktu lama. Tetapi, seperti yang aku bilang tadi, hidup tidak benar-benar memberikan kamu opsi untuk dipilih. Hidup hanya memaksa kamu untuk memilih dengan klue seadanya yang tersebar di semesta ini. Jika kamu terbiasa memilih dengan pilihan ganda, apakah akan mudah bagi kamu untuk menentukan sebuah pilihan saat tidak tersedia opsi? Dengan klue yang tersebar ini, jika kamu tidak terbiasa untuk berpikir panjang dan mempertimbangkan sesuatu, apakah kamu akan mudah memilih?

Hidup memang sebuah pilihan dan hidup tidak memberikanmu lembar dengan opsi pilihan didalamnya. Kejam ya?

Rabu, 21 Agustus 2013

Sampah Kita



Sabtu kemarin, untuk menutup bulan syukur Gereja dan acara tujuhbelasan, ada pensi kecil-kecilan di Gereja. Waktu diperjalanan, ada banyak banget buntelan sampah yang berhamburan di pinggir jalan. Zandro yang goncengin aku waktu itu tiba-tiba nyeletuk gini, “Wah, emang orang Indonesia itu suka buang sampah sembarangan.” Aku jawab sambil ketawa, “Ya udah kebiasaan kita, Ndro. Lagipula kita juga enggak ada pendidikan cinta lingkungan dan mengolah sampah. Anak ngikutin orang tua buang sampah di kali.”
            Seperti yang kita tahu, ada begitu banyak masalah tentang sampah di Indonesia. Di Jakarta, sampah memenuhi sungai. Di pantai-pantai, selalu ada sampah yang bertebaran yang mengurangi keindahan pantai. Di jalan-jalan kota besar, banyak sampah teronggok enggak terurus, enggak ada yang ngambiliin. Dan seperti yang kita tahu, kita tidak terbiasa memilah sampah agar bisa diolah. Bahkan, bak sampahnya pun enggak konsisten. Sehari warna kuning, besoknya jadi oranye. Jadi bingung juga mau buang sampah di bak yang mana.
            Ngomongin pendidikan Indonesia, memang belum semua orang bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Ada banyak anak yang terpaksa tidak sekolah karena keadaannya. Sekolah juga punya berbagai masalah dengan fasilitas karena ketiadaan biaya. Memang tingkat ekonomi menjadi salah satu tolak ukur tingkat pendidikan Indonesia yang rendah. Awalnya, aku berpikir tentang status ekonomi, tapi sebuah kejadian tadi pagi membuatku berpikir ulang.
            Tadi pagi, habis nganterin bunda kerja, aku mampir ATM bentar. ATM di jalan kaliurang. Nahh, waktu keluar dari pelataran parkir ATM, ada satu mobil yang berjalan di depanku. Tiba-tiba mobil itu berhenti, pintu belakangnya dibuka. Tahu apa yang dilakukan oleh pengendara mobil itu? Ia membuang sampah begitu saja di tepi jalan. Mak wer! Gitu aja langsung dibuang. Setelah ia membuang sampah, ia segera menutup pintu dan mobil itu berjalan kembali. Melihat itu aku mlongo.
            Kalo percakapanku dengan Zandro tentang sampah berhubungan dengan pendidikan yang juga dipengaruhi oleh ekonomi, ternyata masalah sampah bukan hanya sekedar itu. Kalo punya mobil, minimal mapan dong? Kalo gitu, untuk dapat pendidikan yang layak mampu dong yaa? Tapi kenapa buang sampah dengan begitu mudahnya dipinggir jalan?

           Oke, ternyata, masalah membuang sampah berhubungan dengan mental.
           Mental kita. Mental orang Indonesia.
          Mungkin mental kita tidak cukup baik untuk sadar akan lingkungan dan sadar membuang sampah pada tempatnya. Mungkin tidak seratus persen masalah kita-Indonesia bisa diselesaikan dengan pendidikan yang baik. Sampah-sampah di pasar, jalanan, tempat wisata, bahkan bak sampah yang tidak keruan lagi isinya padahal sudah diberi tulisan, sepertinya ini karena mental kita. Mental yang luweh-luweh tentang sampah dan tiba-tiba akan marah dan menyalahkan orang lain karena banjir, bau sampah, tenpat wisata yang kotor.
            Mungkin memang mental kita yang harus pertama kali disentuh agar peduli pada hal-hal remeh seperti itu.
        Mungkin, ini saatnya untuk aku belajar menyimpan sampah dan tidak buang sampah sembarangan. Saatnya untuk mulai memperbaiki mental diri masing-masing J

Gambar diambil dari abisubani33114.blogspot.com

Sabtu, 17 Agustus 2013

Bukak sithik josss~~



Gimana sih memaknai merdeka itu?
Apakah kalian bingung? Sama! Aku juga bingung.

Bingung banget bagiamana harus memaknai merdeka itu.
Apalagi liputan-liputan khas diberbagai berita hari ini seputar HUT RI. Judulnya doang yang seputar kemerdekaan RI, isinya tetep aja judging dan merasa bahwa Indonesia belom merdeka. Dilihat dari ekonominya, politiknya, pemerintahannya, korupsinya, kebebasannya.
Banyak orang yang membicarakan kemerdekaan Indonesia lalu disandingkan dengan berbagai kebobrokan dan keironisan Indonesia. Apakah merdeka memang sebegitu sulitnya untuk dirasakan? Sebegitu ribetnyakah untuk merasakan kemerdekaan? Apakah merdeka itu hanya bisa dilihat dari aspek ekonomi, politik, pertahanan nasional, atau anti korupsi?

Apakah kemerdekaan Indonesia yang sebenarnya? Dan bagaimana, aku yang biasa-biasa ini saja, Cuma anak kuliah ingusan yang berusaha jadi anak baik juga nasionalis, bisa memaknai merdeka?

Lalu, sebuah jawaban muncul dari speaker!
Tadaaaa~ saat sedang asik-asiknya dengerin Adek Sungha Jung melarikan jari-jari panjang dan indah di gitarnya. Saat sedang meresapi betapa ini adek ganteng sangat ajaib, speakersebelah meneriakkan sebuah lagu.
Pengenku smsan, wedi karo bojomu~~

Apa iniiii? Apa Adek Sungha Jung sekarang sudah mulai beralih dari K-popers menjadi dangduters?
Dan, ternyata, kampung yang lagi tirakatan ngadain dangdutan. Ah iyaa! Inget tadi Ayah ngajak ke tirakatan.
Pengen telfon telfonan, wedi karo bojomu~~

Aku sama adek Cuma bisa ketawa-ketawa denger mbak-mbak itu nyanyi lagu itu. Sampe gulung-gulung.
Ketawanya bukan karena merendahkan. Bukan karena merasa jijik sama lagu Dangdut yang katanya musik asli Indonesia tapi untuk kalangan kelas bawah.
Aku ketawa karena adek ternyata bisa ikutan mbaknya nyanyi lagu itu. Aku juga sering denger lagu itu.
Pengenku ngomong sayang, wedi karo bojomu~~

Daan, memang jawaban tentang merdeka itu datang dari sebuah speaker!
Merdeka, buat aku yang masih polos ini ternyata begitu simpel. Gak perlulah mikirin ekonomi, politik, korupsi, krisis kepemimpinan.

Merdeka ternyata bisa didapatkan dari sebuah speaker.
Speaker dari tengah desa yang sedang heboh dengan lagu dangdut dan speaker-ku yang sedang mengalunkan petikan gitar dari Sungha Jung.
Unik bukan?
Ternyata merdeka begitu simpel-nya, tapi juga begitu besar maknanya. Dan bisa kita dapatkan dari hal-hal kecil. Speaker ini mengajariku untuk merdeka dalam memilih selera musik dan tidak membandingkan atau melecehkan selera musik yang lain. Musik itu bahasa universal, tapi tentu saja selera tidak bisa dipaksakan, dan setiap musik punya massanya sendiri.

Berawal dari speakerini, aku harus bisa lebih merdeka lagi dalam menghadapi orang lain.
Merdeka untuk memandang orang lain. Merdeka akan suku, bahasa, agama, pekerjaan, warna kulit, warna mata, bentuk wajah, cara berpakaian, gaya potongan rambut dan apa pun yang menjadi pilihan orang tersebut.
Kalo yang ini aja kita gak pernah merdeka, gimana bisa kita menuntut merdeka dari sisi ekonomi, politik, budaya dan lain-lain? Kan rakyat Indonesia sangat beragam, dan kita harus bekerja keras bersama-sama. Gak bisa lagi picky atau menuntut agama, suku, bahasa orang lain untuk sama dengan kita supaya Indonesia bisa maju. Mau enggak mau, mereka orang Indonesia juga. Yang sama-sama punya keinginan seperti kita, jadi kita harus belajar menerima yang berbeda itu. Belajar untuk merdeka.

Terima kasih Adek Sungha Jung, berkat lagumu dan dirimu yang orang Korea itu, aku harus belajar sedikit tips-trik menjadi groupies Korea yang baik, juga nasionalis yang mendukung pemusik Indonesia.
Terima kasih, tirakatan desa, maaf gak bisa ikut tirakatan, maaf ternyata aku masih kurang cukup sadar budaya untuk ikut berserikat secara tradisional dan mencintai budaya Jawa, aku masih harus banyak belajar untuk mengenal berbagai kegiatan khas Indonesia yang lain.
Terima kasih, mbak yang nyanyi dangdut tadi, maaf aku kadang suka nyinyir dan sarkatis sama lagu yang mbak nyanyiin, padahal banyak yang bahagia karena mbak, ternyata aku belum cukup rendah hati untuk menerima segala perbedaan yang ada, aku masih harus belajar menjadi nasionalis sejati dan mencintai berbagai kesenian rakyat Indonesia.

Selamat Malam Indonesia, selamat ulang tahun Indonesia!
Semoga tambah jaya, semoga sukses selalu, bahagia selalu, Indonesia selalu. Have a great year, enjoy every second of your 68th life and make a wonderful and meaningful thing for the whole country!
Terima kasih karena sudah begitu indah dan bermakna. Terima kasih karena sudah begitu berwarna!

Bukak sithik joossss~

foto diambil dari the-marketeers.com