Selasa, 03 Juni 2014

Hai Euphoria!

Bersama pasukan begadang yang belum komplit

Beberapa minggu ini, karena sebuah mata kuliah, aku sedikit kehilangan semangat untuk kuliah. Seperti sebuah peribahasa, karena nila setitik rusak susu sebelanga, itulah keadaan yang sedang aku alami. Sebuah mata kuliah sedikit menghancurkan mooduntuk mata kuliah yang lain.
Aku butuh refill passion lagi. Benar-benar butuh dan harus secepatnya!

Aku pernah ngobrol dengan teman soal menyerah atau tidak pada keadaan semester yang semakin melelahkan ini. Kami berakhir pada satu kesimpulan, kami hanya mengeluhkannya tapi pada akhirnya kami tidak sebegitu tega untuk berhenti. Itu sedikit semangat dan passion kami pada jurusan yang kami pilih. Namun, jika boleh sedikit membandingkan, aku sedikit ingin memiliki semangat teman dari konsentrasi saudara. Meriset produk, membuat sebuah media iklan, pulang subuh. Mereka lelah, berkantung mata namun tetap passionatepada tugasnya.

Mungkin, aku butuh refresh dan merasakan euphoriamengerjakan tugas hingga subuh, berkelompok, bisa saling bercerita bila lelah dan ditemani secangkir coklat atau kopi.
Aku ingin merasakannya. Aku ingin memiliki kenangan merasakan tekanan tugas dengan gembira karena bersama-sama dengan suasana yang berbeda.
Aku ingin mengkomplitkan ceritaku sebagai mahasiswa dengan hal ini. Dengan cerita ini.

Hari ini, malam ini, dengan semangat tempur, aku dengan bantuan 5 teman membuat sebuah kenangan baru dalam cerita hidup yang dimasukan dalam bab “Kuliah”.
Aku semangat! Aku merasakan euphoria itu.

Selamat datang euphoria. Selamat datang semangat baru untuk kuliah, yeeeeyyy!

Senin, 02 Juni 2014

Ada Game-nya Gak?

Aku melangkah mantap. Memasuki ruangan terbuka yang hiruk pikuk, kuat dengan aroma makanan dan rokok. Aku berusaha mencari tempat kosong untukku duduk. Bersama dengan temanku, aku berusaha mencari tempat yang nyaman untukku makan.
Setelah mendapatkan tempat dan memesan makanan, aku duduk. Asik dengan duniaku. Dari kejauhan, aku melihat sepasang mata penasaran menatapku. Mata kecil itu berbinar. Memperlihatkan minat dan rasa ingin tahu yang besar. Aku berusaha mengacuhkannya. Berusaha tidak semakin menarik perhatiannya.

Namun, si kecil itu cukup bernyali ternyata.
Walau aku sudah memasang wajah angkuh, kaki kecilnya tetap berjalan yakin mendatangiku. Senyum lebarnya tercetak jelas pada wajah bundarnya. Oh aku tidak suka ini, erangku dalam hati. Aku melihat teman didepanku mengernyit bingung. Tiba-tiba si kecil sudah berdiri didekatku. Tersenyum dengan lebar.
“Ada game-nya gak?” tanyanya lantang. Dengan senyum berbinar.
Aku ingin menjawab tidak. Namun teman didepanku terlalu membuka diri untuk kedatangannya. Akhirnya, aku terpaksa menunjukkan koleksi game yang aku miliki. Aku terpaksa membiarkannya memainkan memainkan game-ku.
Aku tidak begitu suka. Sedang temanku hanya tersenyum menenangkan.

Seperti anak kecil pada umumnya.
Ia mudah sekali bosan. Tidak lama bermain game-ku, ia mengedarkan pandangannya. Aku tau apa isi kepala kecil itu. dia berusaha mencari mangsa lain. Yang bisa dimainkan game-nya.
Benar saja. Ia langsung turun dari kursi dengan lincah. Berusaha mendekati orang lain. Sayup-sayup aku mendengar suara cemprengnya bertanya. Pertanyaan yang sama yang diberikan padaku.
Aku tersenyum miris. Anak kecil ini.

Keesokan harinya, aku memperhatikan apa yang si kecil itu lakukan. Ternyata benar. Dia memang selalu mencari orang agar bisa memainkan gadget ditangan mereka. Ia akan melemparkan pertanyaan yang sama. Duduk dikursi dengan berani. Mendekat pada si pemilik lalu memainkan game didalamnya. Selalu seperti itu. Begitu setiap harinya.
Lagi-lagi, aku hanya bisa tersenyum miris.

Suatu hari, temanku datang bersama sekotak pensil warna dan buku kecil penuh gambar. Aku tersenyum lebar melihatnya.
Dengan semangat, temanku itu mencegat si kecil. Mengajaknya bermain warna-warni pensil kayu. Mewarnai berbagai gambar yang ada didalam buku. Ia berusaha sebisa mungkin membuat si kecil betah. Jika ia mulai bosan dengan mewarnai, ia membuatkan pesawat terbang kertas. Ia mengajak si kecil memainkannya, menerbangkannya jauh. Aku bisa melihat binar antusias dimatanya. Aku bisa mendengar mulutnya berteriak girang dan tertawa lepas. Aku bisa melihat diri si kecil itu. Hanya dengan sebuah pesawat lipat.
Namun, kegembiraanku tidak lama.
Bersama dengan bosan yang selalu menghampiri jiwa kecil ini. Begitu pula si kecil ini mudah melupakan pensil warna dan pesawat terbang kertas. Segera setelah bosan menghampiri, ia mengedarkan pandangannya. Mencari seseorang untuk dihampiri. Dan benar saja. Ia langsung melangkahkan kakinya. Bertanya pertanyaan khas mulut kecil itu, “ada game-nya gak?” Lalu dengan mudah, banyak yang tersenyum bangga dan segera merengkuhnya, membawanya duduk dekat dan memainkan game bersama.

Aku tidak suka pemandangan itu.
Aku memandang kosong si pensil warna, buku kecil dan pesawat terbang kertas. Aku bisa melihat senyum lemah mereka. Aku melihat semangat mereka kembali meredup.
Aku lalu mengedarkan pandanganku. Melihat keadaan sekeliling kantin ini. Ditengah ramainya manusia diruangan ini, aku bisa melihat kegiatan serupa. Makan dengan tenang, berhadapan dengan teman mereka dan memainkan gadget ditangan mereka. Berbicara pada layar menyala yang pas digengaman tangan.
Aku tersenyum tipis melihat keadaan itu.
Dan aku mendongakkan kepalaku. Pemilikku tengah tersenyum memandang layarku yang menyala. Asik ngobrol dengan seseorang. Ia tidak menghiraukan gadis manis didepannya yang tengah mewarnai sebuah matahari, sendiri tanpa berbicara. Pemilikku ini asik memainkan jarinya pada layarku.

Senyumku semakin lemah.
Aku bisa merasakan perasaan pensil kayu, buku gambar, pesawat terbang lipat juga gadis itu. Aku tau kenapa mereka hanya bisa tersenyum tipis.
Lalu, aku mencari si kecil itu lagi.
Aku tau kenapa ia dengan berani menghampiri banyak orang dan melontarkan kalimat “ada game-nya gak?” Aku tau kenapa ia memiliki kalimat itu. Si kecil ini terlalu terbiasa melihat banyak orang sibuk dengan gadgetditangannya. Pikiran si kecil itu merasa bahwa akan ada kebahagiaan dari sekotak kecil layar menyala yang bisa disentuh.


Dan aku kembali tersenyum tipis. Sedikit menertawakan keberadaanku saat ini.

Minggu, 01 Juni 2014

Benarkah Miskin Pujian?

Plating-nya bagus banget, ada warnanya, pemilihan piringnya juga pas. Good job!”
“Masakan kamu ini baru bener-bener inovasi. I really like it, keep the good work.”
“Kalo diliat sekilas, sebenernya masakan kamu biasa aja, tapi setelah dicoba, apalagi kalo pake mayonese, rasanya tambah enak. Wonderful!

Setiap Minggu sore, aku dan kedua adikku pasti menyempatkan waktu dan bookingtelevisi untuk menonton sebuah reality show di salah satu televisi swasta. Acara tersebut merupakan sebuah acara yang diikuti anak-anak yang menunjukkan kemampuan mereka mengolah makanan. Nonton karena asyik aja. Ada tontonan yang lumayan menghibur, mana ada chef ganteng dan adek unyu yang chubby lagi. Kenapa harus dilewatkan coba kan?
Awalnya, biasa aja menyaksikan acara ini. Tidak ada pikiran-pikiran jelek tentang acara ini. Sampai suatu hari, dosen disalah satu mata kuliah bilang bahwa acara tersebut bisa saja merupakan sebuah eksploitasi anak. Sejak saat itu, aku tidak lagi sekedar menikmati si chef ganteng atau adek chubby. Aku mulai memperhatikan segala tetek bengek acara tersebut.

Salah satu yang aku dapatkan adalah kalimat-kalimat diatas.
Jika diperhatikan, adek-adek ini gayanya sangat kekinian. Hampir sebagian besar fasih Bahasa Inggris, bahkan ada yang indo. Tidak jarang beberapa percakapan juga dilakukan dengan Bahasa Inggris. Aku tidak mau mendiskreditkan semua peserta yang masih anak-anak itu sudah kehilangan nasionalisme mereka. Aku tidak mau mendiskreditkan jika mereka tidak menghayati bahasa Ibu mereka, Bahasa Indonesia.
Yang aku perhatikan adalah pujian dari para chef master. Good job, good boy, wonderful, excellent, keep your good work, good, great job, well done, cool, tasty, keep it up juga banyak yang lainnya.

Aku merasa aneh.
Kenapa harus selalu mengunakan Bahasa Inggris? Tidak bisakah memberikan kebiasaan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik? Jujur aku merasa agak sedikit, hmmm, kurang pas dengan harus selalu menggunakan Bahasa Inggris. Bahasa Indonesia aja tidak semudah yang dibayangkan. Jika memang harus, setidaknya kita harus cukup memahami artinya, bukan hanya sekedar menjadi tren.
Lalu, aku merasa semakin aneh. Karena aku berusaha membahasaindonesiakan kata-kata sifat tersebut.
Good itu baik. Greatjuga bisa diartikan baik.
Wonderful berarti hebat. Excellentjuga bisa berarti hebat.
Well done berarti bagus.
Aku juga berusaha membandingkan dengan kamus. Hampir semua kata pujian itu akan berarti baik, bagus, hebat. Yaa berputar dengan arti yang itu itu saja.

Dan aku termenung.
Aku ingat. Pertama kali aku mendapat pujian eksplisit sewaktu aku sekolah adalah di SD. Untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Aku selalu tersenyum lebar saat lembar tugasku akan berisi coretan guruku. Good, excellent atau wonderful. Aku suka variasi pujian itu.
Aku jarang mendapatkan pujian atas tugas yang memuaskan untuk pelajaran lain. Saat aku mendapat pujian, yaa paling hanya itu. Bagus sekali atau hebat. Aku tidak mendapat banyak variasi pujian. Bahkan, aku tidak bisa melihat bahwa guruku itu benar-benar memujiku. Tidak seperti guru Bahasa Inggrisku.

Aku sering mendengar bahwa, orang Indonesia tidak terbiasa untuk memuji. Orang Indonesia tidak terbiasa memberi umpan balik berupa pujian pada orang lain.
Yaa, secara tidak langsung, aku bisa melihatnya dari pujian para chef master. Kosa kata memuji dalam Bahasa Inggris ternyata lebih banyak dan menyenangkan, juga bervariasi.
Benarkah jika Bahasa Indonesia tidak memiliki cukup banyak kata pujian? Adakah yang bisa membantuku dengan menyebutkan kata pujian yang lain?

Mari kita kumpulkan. Agar kita bisa semakin sering memuji orang lain tanpa harus meminjam kata. Agar kita terbiasa memuji dan menghargai usaha orang lain.

Sabtu, 31 Mei 2014

Melakukan Saat Kecil, Mengingat Hingga Besar

Salah satu cita-citaku adalah bekerja pada sebuah media bersegmentasi anak atau bekerja pada lembaga masyarakat untuk anak dan remaja. Entah sejak kapan mulai mencintai anak-anak dan dunia remaja. Ketertarikan itu pun sudah mulai saat ini aku tumbuhkan, berusaha untuk mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan dunia anak dan remaja.
Pembicaraan semalam dengan Mbak Ameng, Mbak Dhita dan Anas juga semakin menguatkanku untuk serius dalam dunia tersebut. Hanya berbekal pertanyaan apa yang paling menarik selama SD, meluncur berbagai cerita menyenangkan sewaktu kecil.
Cerita soal bagaimana antusiasme otak kecil kita pada pertumbuhan sebiji kacang panjang, mendirikan sebuah tenda dengan simpul-simpul, menyentuh putri malu dan menunggunya mengembang lagi. Semuanya terasa menyenangkan dan berkesan. Membuat kita mengenang hal itu hingga dewasa. Melakukan sesuatu secara langsung memang membekas secara lama. Terlebih saat anak-anak, semangat kita yang tidak ada habisnya dimanfaatkan untuk belajar banyak hal baru.

Aku ingat, ketertarikanku pada memasak dan sering membantu Bunda karena Bunda pernah mengajakku membantunya memasak sewaktu kecil. Bertahap hingga Bunda mendampingiku membuat masakan pertamaku sendiri, sebuah sup sayur. Karena kesan pertama itu, aku jadi terbiasa dengan memasak. Aku jadi menyukainya hingga saat ini.
Aku juga ingat sebuah percobaan kecil dari Sensei-ku sewaktu SMP. Ia memberikan sebuah lem gel dan garam pada kami. Ia membiarkan kami mencampur kedua bahan itu, mengaduknya hingga lem berubah menjadi semacam lilin. Hmmm, apa tepatnya barang itu aku tidak bisa menjelaskannya. Yang pasti lem dan garam itu bercampur menjadi satu menjadi semacam mainan karet yg lengket. Ingat mainan kenyal berwarna-warni berbagai bentuk? Yang bisa menempel di dinding saat kita lontarkan? Naaah, benda itulah yang menjadi hasil eksperimen kami. Yang masih teringat jelas euphoria sekelas saat memainkannya.
Berbagai hal kecil yang aku baca sewaktu kecil juga banyak membekas. Jauh sebelum mengenal pelajaran Geografi soal nama dan bentuk awan, sudah sejak SD aku bercerita dongeng awan tentang bentuk dan namanya pada temanku karena membacanya dari sebuah majalah. Saat musim penghujan, aku juga sering melihat langit sore. Memperhatikan warna apa yang menjadi dominasi di langit, kuning atau oranye? Dari majalah yang sama, aku mengetahui bahwa warna langit senja bisa mengindikasikan cuaca saat malam, akan cerah atau hujan.
Banyak melakukan hal-hal baru dan eksplorasi saat anak-anak, membuatku sering memperhatikan banyak hal disekitarku. Juga memiliki banyak pengetahuan untuk dibawa hingga saat ini. Ada kenangan yang bisa diceritakan saat dewasa nanti.


Itulah yang ingin aku berikan bagi anak-anak kelak dan alasan ingin masuk dalam dunia anak dan remaja. Rasa ingin tahu dan sebuah pengalaman yang bisa mereka bawa hingga besar. Aku ingin semakin banyak anak memiliki sesuatu untuk diingat, melakukan banyak hal untuk dikenang. Sama seperti apa yang aku, Mbak Ameng, Mbak Dhita dan Anas alami. Yang membuat kami dapat bercerita seru sambil tertawa tiada henti.

Selasa, 08 April 2014

Cinta Ternyata..

            “Yang setia, kalah dengan yang selalu ada.”
            “Yang setia, kalah sama yang selalu ada? Sedih ya, setia kalo gak ada sama aja. Kok agak gak adil ya?”
            “Ya emang kadang gitu, Dess. Kita tuh terlalu nyari fairness. Padahal pada kenyataannya Cuma ada win and lose. Termasuk dalam cinta.”
            “Ternyata cinta juga justice, bukan fairness? Iyalah, cinta aja kadang harus berakhir di pengadilan kok.”
            “Nah, itu dia, bener men. Cinta itu berarti klise banget ya Des? Hahaha..”
            “Iya, cinta nih ternyata...”

Hilda dan Aku

Selasa, 8 April 2014

Rabu, 02 April 2014

Ada Banyak Hal dan Rasa..

            “Aku pernah bertanya, Del. Kapan aku bahagia,” ucapku dengan senyum tipis.
            “Kamu sering, Des. Bahagia. Tertawa di kelas,” jawabnya cepat.
            “Tidak semua tawa itu artinya bahagia, Del,” ucapku lagi.
            “Iya, aku tau. Tapi setidaknya, cara kamu tertawa itu membuat banyak orang disekitarmu ikut tertawa.”
            “Iya, Del. Aku dulu mempertanyakan, sekarang aku mencoba memaknainya. Selalu memaknainya.”


Ada banyak hal dan rasa yang tidak bisa dengan mudah kamu ungkapkan…
Kadang aku memilih tertawa, menangis atau menuliskannya.
Seperti hal dan rasa yang kita bagi di Hall kemarin siang, seperti apa yang melatarbelakangi aku menuliskan ini.

Seperti ini.

Selasa, 25 Maret 2014

Mari Menikmati

“Musik itu untuk dinikmati, bukan untuk diadu”
Tagline dari sebuah merek kopi ini sedikit membuatku berpikir kemarin pagi.
Diantara kesibukan mempersiapkan diri untuk berangkat kuliah, kalimat itu membuatku berhenti sejenak dan berpikir sebelum akhirnya tersenyum tipis.
Kalimat itu menyadarkanku akan sesuatu. Juga mengajak untuk move on.

Aku dan teman-teman Padakacarma habis melewatkan weekend indah dan berkesan di Gunung Kidul. Kami ada ‘kelas’ cantik dan pintar bersama Ocean of Life Indonesia (OLi). Selama weekend itu, kami menghabiskan waktu kami untuk belajar dan tinggal bersama OLi. Kami tinggal di sebuah rumah limasan yang berdiri di sebuah bukit dan menghadap langsung ke laut. What a beautiful home. Lalu, kami juga belajar banyak hal. Tentang biogas, cara membuat MOL (mikro organisme lokal) dari buah Maja bahkan aku berkesempatan mencicipi buah Maja yang ternyata manis dan berbau seperti wine, tracking dan mengamati pantai juga memungut sampah yang ditinggalkan pengunjung yang datang ke pantai.

Di sana, kami merasakan betapa nikmatnya hidup sederhana.
Tanpa televisi, tanpa handphone.
Menikmati makan malam sederhana namun menjadi makan malam yang paling mengenyangkan dan nikmat.
Mendengarkan debur ombak dan angin laut.
Membaca sambil melihat pemandangan.
Ngobrol sambil glundungandan tertawa lepas.
Juga waktu yang terasa berjalan lambat. Aku tidak worry atau takut kekurangan waktu. Semua terasa sangat hidup.

Lalu, Minggu sore kami terpaksa harus meninggalkan itu semua.
Kembali pada kehidupan di kota. Ditengah keramaian.
Setelah tidak terganggu sama sekali dengan suara kendaraan, kami pulang ke Jogja dan harus cukup kaget mendengar dan melihat begitu banyak motor dan orang yang sibuk.
Kami pun terserang galau masal dan akut. Menyerang dengan telak.
Selama 2 hari aku masih pada titik tidak rela meninggalkan itu semua. Aku masih sibuk membayangkan dan ingin kembali menikmati hari di rumah kayu tersebut.

Aku sedikit membandingkan. Aku sedikit tidak terima.
Karena waktu terasa berjalan sangat cepat, terasa sangat kurang.
Karena lingkungan sekitarku tidak indah, hanya ada gedung bertingkat dan keramaian kendaraan bermotor.
Karena merasa terikat akan rutinitas, yang sudah seperti cycle yang kujalani by default, yang seakan sudah diatur.
Aku tidak puas dengan hidup dan rutinitasku. Hidup dan rutinitas bersama OLi adalah yang ingin aku lakukan.

Hingga taglinekopi itu menyadarkanku..
Bahwa, hidup itu tentang menikmati bukan untuk diadu.
Tidak ada yang perlu dibandingkan dengan hari-hari biasaku dengan weekend di bersama OLi. Tidak ada yang berbeda dengan hidup di rumahku di Sleman atau dirumah OLi di Watu Kodok.
Yang berbeda hanya aku sudah sejak kecil tinggal di rumah dan lingkungan ini sedang rumah OLi adalah rumah yang baru aku lihat dan tinggali selama 2 hari. Dan yang paling penting adalah, aku menikmati dan menghidupi 2 hari itu sedang aku hanya menjalani dan melewati hari-hari biasaku.

Aku lupa cara menikmati hidup.
Aku lupa bagaimana cara menikmati kamarku yang serba pink ini.
Aku lupa bagaimana harus menikmati hijaunya sawah di belakang rumah.
Aku lupa menikmati suara motor yang berjalan didepan rumahku.
Aku lupa menikmati ruang kuliah serba putih dan dosen yang mengajar.
Aku lupa menikmati ngobrol bersama teman ditemani sepoi angin di hall kampus.
Aku lupa menikmati rutinitasku dan aku membandingkan.
Aku lupa, benar-benar lupa, bahwa hidupku di kota juga harus aku nikmati dengan cara yang sama seperti saat aku di Watu Kodok.

Iya, hidup itu memang untuk dinikmati bukan untuk diadu.
Ini hanya soal perspektif. Soal kebosanan dan kelupaan kita.
Aku memang meninggalkan jejak hidup dan separuh hatiku pada rumah kayu di tebing itu, pantai bersih berpasir putih itu, atau suara alam itu namun aku tidak seharusnya membandingkan hidupku.
Yang harus aku lakukan adalah menjalani dan menikmati hidupku dengan cara yang sama dengan cara aku menjalani dan menikmati 2 hari hidupku itu.
Aku perlu belajar menikmati pemandangan belakang rumahku sama seperti tebing hijau dibelakang rumah OLi.
Aku perlu belajar menjaga kebersihan halaman depanku sama seperti aku menjaga kebersihan pantai.
Aku perlu belajar menikmati suara kendaraan sama seperti aku menikmati suara deburan ombak.
Aku perlu belajar untuk tersenyum dan tertawa sama seperti caraku tersenyum dan tertawa disana.
Aku harus kembali belajar.
Dan antusias dengan segala ornamen kehidupanku. Belajar seakan-akan baru pertama kali aku merasakannya.

Iya, aku harus menikmati hariku dengan cara yang sama aku menikmati hariku disana.
Selamat belajar menikmati hidupmu, Teman. Dan mari semangat juga antusias dengan segala pernik kehidupan rutin kita.

Mari move ondan bahagia.. Yeaaaayy!