Jumat, 06 Juni 2014

Mantra Setiap Pagi

Aku orang yang cukup percaya pada mantra ini. A good word wil bring a good spirit.
Aku percaya bahwa kata baik atau semangat baik yang kita keluarkan pertama kali di pagi hari akan menjadi mantra untuk hari yang kita jalani. Semangat yang baik akan menghasilkan hari yang baik pula. Aku percaya bahwa semesta akan bersinergi dengan aura positif yang kita keluarkan.
Aku berusaha mempercayai itu. Bukan karena apa-apa, aku hanya selalu berusaha untuk membiasakan diri berpikir positif. Tidak ada salahnya kan untuk belajar menjadi orang yang optimis?
Mempercayai hal itu juga menjadi salah satu cara untukku agar tidak males atau emosi duluan setiap pagi. Aku berusaha untuk bersemangat selelah apapun, berusaha untuk tersenyum sesering apapun walau sering pegal mulutnya, tertawa sekeras apapun tanpa ingat rasa malu.
Aku ingin merasakan dan mendapatkan kesan yang membekas setiap harinya. Aku ingin menikmati hariku. Dengan cara apapun, dengan keadaan apapun..

Itu kenapa aku percaya bahwa a good word will bring a good spirit.
Selelah apapun, saat kita tersenyum, saat kita berkata bahwa hari ini akan menyenangkan, pasti kita akan mengusahakan semangat itu. Kita akan berusaha menikmati hari itu. Aku memandang cara itu sebagai langkah encouraging diri kita, memberi semangat.
Semesta akan memberikan tanda baiknya setiap pagi. Semesta akan selalu mengusahakan hari yang indah untuk kita. Lalu kenapa harus kita sia-siakan kesempatan itu?
Kenapa harus merasa ragu untuk mengawali hari dengan tersenyum? Kenapa harus takut untuk tertawa? Bahkan tertawa sampai keselek-tersedak. Karena hari baik adalah bagaimana kamu merangkainya dan mengawalinya di pagi hari, perpanjangan dari apa yang sudah semesta berikan.

A good word in the morning will bring you a whole day of happiness.
Selamat mencoba mantra-nyaaa~ Semoga berhasil!


Terima kasih buat yang pagi ini udah bikin aku ketawa sampe keselek. Semoga, selalu ada orang yang akan membuatmu tertawa juga. Terima kasih buat semangat baiknyaa~

Jujur dan Pergi?

Kemarin siang, aku dan teman-temanku kelingan sek mbiyen-mbiyen. Entah siapa duluan yang mulai, pokoknya kami mulai menyanyi lagu galau jaman dulu dari sebuah band Indonesia. kami menyanyikan sebanyak mungkin lagu dari Kerispatih.
Salah satu yang kami nyanyikan untuk mengisi kekosongan kantin adalah lagu “Aku Harus Jujur”. Rasanya kalo nyanyi lagu itu lagi sakiiiiiittt banget! Apa lagi kalo liat video klip-nya. Ya ampuuuunn, mereka Cuma bisa senyum-senyum tipis untuk merelakan kepergian seseorang.

Aku tak sanggup menjadi biasa.. Ini aku yang sebenarnyaa~

Kalo liat itu tuh jadi inget dongeng Jaka Tarub.
Mungkin lagu ini bisa jadi soundtrack buat dongeng itu. Lagu ini harus banget dinyanyiin waktu Nawang Wulan menemukan selendanganya, mengakui siapa dirinya yang sebenarnya lalu memilih kembali ke kahyangan.
Kayanya udah paaaasss bangetlah itu!
Terus abis itu, aku bisa membayangkan gimana Jaka Tarub yang tersenyum dengan sedikit penyesalan namun tidak bisa berbuat apa-apa sekaligus Nawang Wulan yang tersenyum tidak rela namun tetap harus kembali. Rasanya, pasti krunyus-krunyus! Dan pasti senyumnya gak jauh-jauh dari Mbak sama Mas yang ada di video klip..

Pertanyaanku adalah, apakah jika kita membuka identitas kita, mengakui siapa kita yang sebenarnya, kita tidak punya pilihan lain selain pergi?
Apakah kata “maafkan aku harus jujur” memang hanya bisa berteman dengan perpisahan?
Gak bisa bayangin saat kita memang hanya bisa tersenyum tipis untuk melepas orang pergi saat mengakui sesuatu..

Maafkan kali ini aku harus jujur~~

Kau harus tau siapa aku sebenarnya~~

Utang..

Aku kemarin beruutang..
Berutang tulisan. Seharusnya, sehari sekali aku menuliskan sesuatu. Untuk melatihku juga untuk menceritakan sesuatu yang aku alami hari itu.
Namun, kemarin aku berhutan. Aku berutang tulisan karena pusing yang berputar yang menjadi dampak dari begadang dan kurang tidur. Karena utang kemarin, karena bolong untuk tidak menulis, hari ini sedikit sulit untuk menulis. Sedikit kaku untuk merangkai kata untuk membayar utangku..

Karena hanya sekali tidak menulis, ternyata sedikit kaku jika harus memulainya lagi.

Ahh, ternyata benar, jika menulis harus dibiasakan dan merupakan kebiasaan. Karena terbiasa itu kamu akan menikmati saat menulis dan bisa belajar mengolah pengalaman sesederhana mungkin menjadi luar biasa. Maka aku kembali menulis lagi. Untuk membayar utang juga untuk membiasakan diri…

Rabu, 04 Juni 2014

Hampir Tengah Malam

Aku selalu menyukai waktu seperti ini.
Hampir tengah malam. Terdiam, terjaga diantara kantuk.
Bersama gelap, aku berusaha mengingat segala hal yang pernah aku lalui hari ini. Kejadian apa yang bisa membuatku tertawa, menangis, tersipu, menggerutu. Bersama siapa menghabiskan hariku dan membuat kenangan baru.

Aku selalu menyukai waktu seperti ini.
Hampir tengah malam. Sendiri, tersenyum ditemani senyap.
Bersama tenang, berteman dengan waktu yang bergulir lambat. Menata berbagai hal, mimpi, harap dan semangat. Mencoba mereka segmen baru bagi satu hari kehidupanku.

Bersama waktu yang beranjak, bersama bulan yang bergerak menjauhi malam dan menyongsong matahari yang siap merekah fajar.
Aku selalu menyukai waktu ini. Hampir tengah malam.
Dimana aku tersenyum akan segala kenangan yang aku dapatkan, juga harap yang aku gantung untuk hari baru yang akan datang.
Aku selalu menyukai sensasi ini.

Tak pernah ragu melepas waktu yang berlalu juga tak pernah lelah menanti hal baru untuk dilalui.

Selasa, 03 Juni 2014

Hai Euphoria!

Bersama pasukan begadang yang belum komplit

Beberapa minggu ini, karena sebuah mata kuliah, aku sedikit kehilangan semangat untuk kuliah. Seperti sebuah peribahasa, karena nila setitik rusak susu sebelanga, itulah keadaan yang sedang aku alami. Sebuah mata kuliah sedikit menghancurkan mooduntuk mata kuliah yang lain.
Aku butuh refill passion lagi. Benar-benar butuh dan harus secepatnya!

Aku pernah ngobrol dengan teman soal menyerah atau tidak pada keadaan semester yang semakin melelahkan ini. Kami berakhir pada satu kesimpulan, kami hanya mengeluhkannya tapi pada akhirnya kami tidak sebegitu tega untuk berhenti. Itu sedikit semangat dan passion kami pada jurusan yang kami pilih. Namun, jika boleh sedikit membandingkan, aku sedikit ingin memiliki semangat teman dari konsentrasi saudara. Meriset produk, membuat sebuah media iklan, pulang subuh. Mereka lelah, berkantung mata namun tetap passionatepada tugasnya.

Mungkin, aku butuh refresh dan merasakan euphoriamengerjakan tugas hingga subuh, berkelompok, bisa saling bercerita bila lelah dan ditemani secangkir coklat atau kopi.
Aku ingin merasakannya. Aku ingin memiliki kenangan merasakan tekanan tugas dengan gembira karena bersama-sama dengan suasana yang berbeda.
Aku ingin mengkomplitkan ceritaku sebagai mahasiswa dengan hal ini. Dengan cerita ini.

Hari ini, malam ini, dengan semangat tempur, aku dengan bantuan 5 teman membuat sebuah kenangan baru dalam cerita hidup yang dimasukan dalam bab “Kuliah”.
Aku semangat! Aku merasakan euphoria itu.

Selamat datang euphoria. Selamat datang semangat baru untuk kuliah, yeeeeyyy!

Senin, 02 Juni 2014

Ada Game-nya Gak?

Aku melangkah mantap. Memasuki ruangan terbuka yang hiruk pikuk, kuat dengan aroma makanan dan rokok. Aku berusaha mencari tempat kosong untukku duduk. Bersama dengan temanku, aku berusaha mencari tempat yang nyaman untukku makan.
Setelah mendapatkan tempat dan memesan makanan, aku duduk. Asik dengan duniaku. Dari kejauhan, aku melihat sepasang mata penasaran menatapku. Mata kecil itu berbinar. Memperlihatkan minat dan rasa ingin tahu yang besar. Aku berusaha mengacuhkannya. Berusaha tidak semakin menarik perhatiannya.

Namun, si kecil itu cukup bernyali ternyata.
Walau aku sudah memasang wajah angkuh, kaki kecilnya tetap berjalan yakin mendatangiku. Senyum lebarnya tercetak jelas pada wajah bundarnya. Oh aku tidak suka ini, erangku dalam hati. Aku melihat teman didepanku mengernyit bingung. Tiba-tiba si kecil sudah berdiri didekatku. Tersenyum dengan lebar.
“Ada game-nya gak?” tanyanya lantang. Dengan senyum berbinar.
Aku ingin menjawab tidak. Namun teman didepanku terlalu membuka diri untuk kedatangannya. Akhirnya, aku terpaksa menunjukkan koleksi game yang aku miliki. Aku terpaksa membiarkannya memainkan memainkan game-ku.
Aku tidak begitu suka. Sedang temanku hanya tersenyum menenangkan.

Seperti anak kecil pada umumnya.
Ia mudah sekali bosan. Tidak lama bermain game-ku, ia mengedarkan pandangannya. Aku tau apa isi kepala kecil itu. dia berusaha mencari mangsa lain. Yang bisa dimainkan game-nya.
Benar saja. Ia langsung turun dari kursi dengan lincah. Berusaha mendekati orang lain. Sayup-sayup aku mendengar suara cemprengnya bertanya. Pertanyaan yang sama yang diberikan padaku.
Aku tersenyum miris. Anak kecil ini.

Keesokan harinya, aku memperhatikan apa yang si kecil itu lakukan. Ternyata benar. Dia memang selalu mencari orang agar bisa memainkan gadget ditangan mereka. Ia akan melemparkan pertanyaan yang sama. Duduk dikursi dengan berani. Mendekat pada si pemilik lalu memainkan game didalamnya. Selalu seperti itu. Begitu setiap harinya.
Lagi-lagi, aku hanya bisa tersenyum miris.

Suatu hari, temanku datang bersama sekotak pensil warna dan buku kecil penuh gambar. Aku tersenyum lebar melihatnya.
Dengan semangat, temanku itu mencegat si kecil. Mengajaknya bermain warna-warni pensil kayu. Mewarnai berbagai gambar yang ada didalam buku. Ia berusaha sebisa mungkin membuat si kecil betah. Jika ia mulai bosan dengan mewarnai, ia membuatkan pesawat terbang kertas. Ia mengajak si kecil memainkannya, menerbangkannya jauh. Aku bisa melihat binar antusias dimatanya. Aku bisa mendengar mulutnya berteriak girang dan tertawa lepas. Aku bisa melihat diri si kecil itu. Hanya dengan sebuah pesawat lipat.
Namun, kegembiraanku tidak lama.
Bersama dengan bosan yang selalu menghampiri jiwa kecil ini. Begitu pula si kecil ini mudah melupakan pensil warna dan pesawat terbang kertas. Segera setelah bosan menghampiri, ia mengedarkan pandangannya. Mencari seseorang untuk dihampiri. Dan benar saja. Ia langsung melangkahkan kakinya. Bertanya pertanyaan khas mulut kecil itu, “ada game-nya gak?” Lalu dengan mudah, banyak yang tersenyum bangga dan segera merengkuhnya, membawanya duduk dekat dan memainkan game bersama.

Aku tidak suka pemandangan itu.
Aku memandang kosong si pensil warna, buku kecil dan pesawat terbang kertas. Aku bisa melihat senyum lemah mereka. Aku melihat semangat mereka kembali meredup.
Aku lalu mengedarkan pandanganku. Melihat keadaan sekeliling kantin ini. Ditengah ramainya manusia diruangan ini, aku bisa melihat kegiatan serupa. Makan dengan tenang, berhadapan dengan teman mereka dan memainkan gadget ditangan mereka. Berbicara pada layar menyala yang pas digengaman tangan.
Aku tersenyum tipis melihat keadaan itu.
Dan aku mendongakkan kepalaku. Pemilikku tengah tersenyum memandang layarku yang menyala. Asik ngobrol dengan seseorang. Ia tidak menghiraukan gadis manis didepannya yang tengah mewarnai sebuah matahari, sendiri tanpa berbicara. Pemilikku ini asik memainkan jarinya pada layarku.

Senyumku semakin lemah.
Aku bisa merasakan perasaan pensil kayu, buku gambar, pesawat terbang lipat juga gadis itu. Aku tau kenapa mereka hanya bisa tersenyum tipis.
Lalu, aku mencari si kecil itu lagi.
Aku tau kenapa ia dengan berani menghampiri banyak orang dan melontarkan kalimat “ada game-nya gak?” Aku tau kenapa ia memiliki kalimat itu. Si kecil ini terlalu terbiasa melihat banyak orang sibuk dengan gadgetditangannya. Pikiran si kecil itu merasa bahwa akan ada kebahagiaan dari sekotak kecil layar menyala yang bisa disentuh.


Dan aku kembali tersenyum tipis. Sedikit menertawakan keberadaanku saat ini.

Minggu, 01 Juni 2014

Benarkah Miskin Pujian?

Plating-nya bagus banget, ada warnanya, pemilihan piringnya juga pas. Good job!”
“Masakan kamu ini baru bener-bener inovasi. I really like it, keep the good work.”
“Kalo diliat sekilas, sebenernya masakan kamu biasa aja, tapi setelah dicoba, apalagi kalo pake mayonese, rasanya tambah enak. Wonderful!

Setiap Minggu sore, aku dan kedua adikku pasti menyempatkan waktu dan bookingtelevisi untuk menonton sebuah reality show di salah satu televisi swasta. Acara tersebut merupakan sebuah acara yang diikuti anak-anak yang menunjukkan kemampuan mereka mengolah makanan. Nonton karena asyik aja. Ada tontonan yang lumayan menghibur, mana ada chef ganteng dan adek unyu yang chubby lagi. Kenapa harus dilewatkan coba kan?
Awalnya, biasa aja menyaksikan acara ini. Tidak ada pikiran-pikiran jelek tentang acara ini. Sampai suatu hari, dosen disalah satu mata kuliah bilang bahwa acara tersebut bisa saja merupakan sebuah eksploitasi anak. Sejak saat itu, aku tidak lagi sekedar menikmati si chef ganteng atau adek chubby. Aku mulai memperhatikan segala tetek bengek acara tersebut.

Salah satu yang aku dapatkan adalah kalimat-kalimat diatas.
Jika diperhatikan, adek-adek ini gayanya sangat kekinian. Hampir sebagian besar fasih Bahasa Inggris, bahkan ada yang indo. Tidak jarang beberapa percakapan juga dilakukan dengan Bahasa Inggris. Aku tidak mau mendiskreditkan semua peserta yang masih anak-anak itu sudah kehilangan nasionalisme mereka. Aku tidak mau mendiskreditkan jika mereka tidak menghayati bahasa Ibu mereka, Bahasa Indonesia.
Yang aku perhatikan adalah pujian dari para chef master. Good job, good boy, wonderful, excellent, keep your good work, good, great job, well done, cool, tasty, keep it up juga banyak yang lainnya.

Aku merasa aneh.
Kenapa harus selalu mengunakan Bahasa Inggris? Tidak bisakah memberikan kebiasaan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik? Jujur aku merasa agak sedikit, hmmm, kurang pas dengan harus selalu menggunakan Bahasa Inggris. Bahasa Indonesia aja tidak semudah yang dibayangkan. Jika memang harus, setidaknya kita harus cukup memahami artinya, bukan hanya sekedar menjadi tren.
Lalu, aku merasa semakin aneh. Karena aku berusaha membahasaindonesiakan kata-kata sifat tersebut.
Good itu baik. Greatjuga bisa diartikan baik.
Wonderful berarti hebat. Excellentjuga bisa berarti hebat.
Well done berarti bagus.
Aku juga berusaha membandingkan dengan kamus. Hampir semua kata pujian itu akan berarti baik, bagus, hebat. Yaa berputar dengan arti yang itu itu saja.

Dan aku termenung.
Aku ingat. Pertama kali aku mendapat pujian eksplisit sewaktu aku sekolah adalah di SD. Untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Aku selalu tersenyum lebar saat lembar tugasku akan berisi coretan guruku. Good, excellent atau wonderful. Aku suka variasi pujian itu.
Aku jarang mendapatkan pujian atas tugas yang memuaskan untuk pelajaran lain. Saat aku mendapat pujian, yaa paling hanya itu. Bagus sekali atau hebat. Aku tidak mendapat banyak variasi pujian. Bahkan, aku tidak bisa melihat bahwa guruku itu benar-benar memujiku. Tidak seperti guru Bahasa Inggrisku.

Aku sering mendengar bahwa, orang Indonesia tidak terbiasa untuk memuji. Orang Indonesia tidak terbiasa memberi umpan balik berupa pujian pada orang lain.
Yaa, secara tidak langsung, aku bisa melihatnya dari pujian para chef master. Kosa kata memuji dalam Bahasa Inggris ternyata lebih banyak dan menyenangkan, juga bervariasi.
Benarkah jika Bahasa Indonesia tidak memiliki cukup banyak kata pujian? Adakah yang bisa membantuku dengan menyebutkan kata pujian yang lain?

Mari kita kumpulkan. Agar kita bisa semakin sering memuji orang lain tanpa harus meminjam kata. Agar kita terbiasa memuji dan menghargai usaha orang lain.