Selasa, 15 Juli 2014

Gegara Kartu Ucapan

Ini salah satu hal konyol yang pernah aku lakukan di masa kecil. Didasari oleh sebuah perasaan bernama cemburu...
Waktu itu, adek aku, Dian, berulang tahun entah yang keberapa. Pokoknya, dirayakan dengan sebuah pesta ulang tahun. Kecil-kecilan gitu, Cuma ngundang temen-temen di dusun tempat tinggal. Waktu itu, Dian dapet lumayan banyak hadiah. Karena banyak, jadi aku bantuin bukain kado. Nah pada salah satu kado, aku menemukan sebuah kartu ucapan. Isi dari kartu ucapan itu membuat aku marah dan mutung sama Dian, hahahaha
Kurang lebih, isi kartu itu berisi tentang jadilah anak yang baik dan rajin, jangan lupa belajar dan semoga menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. Klise kan? Tapi ada satu kata yang bikin aku cemburu luar biasa. Dalam kartu itu tertulis “semoga Mbak Dian semakin cantik.”

Cantiknya itu meeeenn yang bikin aku mutung sama Dian. Bukan karena banyakan kadonya Dian.
Karena seumur-umur aku gak pernah dapet ucapan ulang tahun yang isinya “semoga tambah cantik” jadi aku marah. Aduuuuhh, berhubung dari kecil udah bakat mendes, marahlah yaa aku kalo ternyata ada yang lebih cantik dari aku. Jadi selama beberapa hari aku cuek sama Dian hingga akhirnya aku protes. “Bunda, kok aku gak pernah dapet ucapan kaya Dian sih? Gak pernah ada yang ngucapin semoga aku semakin cantik!” Aku lupa Bunda jawab kaya gimana, yang pasti sejak itu aku mulai melupakan surat ucapan itu.

Toh, aku menemukan kata lain yang lebih unyu. Mbak aku bilang kalo aku manis. Kyaaaaaaa, aku seneng deh dan udah gak mau lagi dibilang cantik. Soalnya manis terasa lebih unyu, umumumumu~


Senin, 14 Juli 2014

Saat Kamu Memiliki Uang

Beberapa hari ini, karena liburan aku bokek. Enggak dikasih uang saku sama Bunda dan enggak minta juga karena enggak bakal kemana-mana.
Lalu hari ini aku belanja. Dipegangin uang yang cukup banyak. Cukup bisa untuk foya-foya. Cukup untuk belanja apa aja.
Tapi hari ini Tuhan menegurku. Memperlihatkan seorang bapak yang sedang mengepak brem jualannya yang masih banyak. Menantangku untuk berbagi dengannya. Menantangku untuk menunjukkan seberapa besar aku akan peduli pada orang disekitarku.
Aku menghampirinya, mengingat bahwa Vincent suka makan brem. Aku ingin membelinya. Satu bungkus tujuh ribu lima ratus rupiah. Kata bapaknya, “Saged kirang, Mbak-bisa kurang harganya, Mbak.”
Aku tidak berniat mengurangi harganya dan menyerahkan uang sepuluh ribu rupiah. Bapak itu meminta tambah dua ribu rupiah, aku pikir agar memudahkan kembalian. Tapi bapak itu memasukkan 2 plastik brem dengan total 12.000 rupiah. Aku dan adik sudah berjalan menjauh namun mengingat bahwa aku hanya menyerahkan 12.000 yang seharusnya berharga 15.000.
Aku kembali untuk bertanya. “Bapak, saya Cuma memberi 12.000, apa itu cukup?”
Bapak hanya menjawab, “Benar kok, Mbak. Memang saya hargai segitu.”
Dan aku hanya bisa menjawab terima kasih.


Mempunyai uang itu ternyata cukup menyakitkan. Mengingat ada yang lebih membutuhkan namun berani memotong sebuah harga dan merasa segitu sudah cukup sedangkan masih banyak yang tidak pernah merasa cukup dan mencari lagi. Mempunyai uang ternyata tidak semudah itu. Saat kamu memiliki lebih, ingin mencoba berbagi dan ternyata masih ada orang yang lebih berbesar hati untuk memberi. Bagiku, dengan uang yang Bunda berikan hari ini, tidak serta merta membawa kebahagian seperti yang dibayangkan.

Kalo Gede Mau Jadi Apa?

“Susan, Susan, Susan, kalo gede mau jadi apa?
Aku kepingin pinter, biar bisa jadi dokter.”


Ada yang masih ingat lagu ini?
Lagu yang dinyanyikan Kak Ria dan Susan si boneka yang enggak gede-gede itu sering aku dengarkan saat kecil.
Nah, lagu itu juga bisa diganti liriknya sesuai impian masa kecil kita. Kalo buat aku nih, Desti, liriknya jadi begini:
“Desti, Desti, Desti, kalo gede mau jadi apa?
Aku pingin jadi manten, biar pake gaun cantik.”

Okee sip! Itulah cita-cita masa kecil aku.
Yang masih sering jadi ledekan Bunda sampai aku segede gini. Dulu aku memang punya cita-cita itu. Kata Bunda, aku selalu menjawab itu setiap ada yang bertanya cita-citaku. Kalo ditanya alasannya jawaban aku karena aku pingin pake gaun dan didandani cantik.
Yak, dan alhasil aku sukaaaa banget ngaca dan pake gaun cantik!
Sampe ada satu ruang yang jadi kamar ganti yang berisi beberapa lemari tempat baju orang serumah. Sehabis sekolah aku sering bermain sendiri disana, berkaca berpindah-pindah dari lemari satu ke yang lainnya. Udah gitu suka beli dress cantik yang mengembang gitu, itu lhooo yang mekrukdan kalo aku muter bisa membesar dan terbuka. Sampai kelas 5 SD sepertinya aku masih punya gaun seperti itu. Oh iya, aku bahkan suka main baju Bunda untuk aku coba pakai. Aku suka dandan-dandanan. Pake selendang atau apa aja, dililitkan ke badan dan aku reka menjadi sebuah gaun. Enggak Cuma bergaya Eropa, aku juga penganut gaya India gituuuu. Suka sok-sokan jadi manten India yang pake sari gitu, yang roknya panjang-panjang, kalo muter bisa wah banget dan selendang panjang menutupi kepala.

Oke sip! Ternyata dari kecil aku sudah bakat mendes. Okeee~

Dan aku masih tetap bercita-cita jadi manten, yes! Hahahaha

Rabu, 09 Juli 2014

Did I?

“Did I ever say that I love you?”

Akhir-akhir ini, aku lagi sering menanyakan ini.
Tiba-tiba aku ragu dan tidak yakin bahwa semua orang yang aku sayang tidak mengetahui betapa aku mencintai mereka.

Hal ini berawal dari sebuah kunjungan singkatku dan Bunda saat menengok saudara.
Saudaraku itu sakit jantung, sudah akut. Terpaksa sering lepas-pakai masker oksigen dan keluar-masuk rumah sakit. Saudaraku itu dulu yang mengasuh aku. Menemaniku dan adik-adik saat Ayah dan Bunda bekerja.
Aku khawatir, seorang yang dulu menjagaku sekarang bisa begitu lemah dan terbaring di rumah sakit. Saat itu, aku menatap Bunda. Aku tidak ingin terlambat, aku tidak ingin tiba-tiba menyadari Bunda yang ada di ranjang itu. Tanpa sempat mengucapkan betapa aku mencintainya.
Itu sebabnya aku langsung menanyakan pertanyaan ini begitu keluar dari ruangan. Dan aku langsung menanyakan ini kepada beberapa orang lain. Aku merasa perlu memastikan semua orang tahu aku mencintai mereka.

Did, I ever say that I love you?
Kalo sudah, ijinkan aku mengucapkan ini lagi. I Love you. All of you..
Dan kalo belum, maafkan aku karena belum mengutarakannya, saat ini aku akan mengucapkannya. I love you. All of you..

Selamat pagi semua, semoga ucapan cinta ini bisa memberi semangat buat kalian. Siapapun yang membaca ini. Yang mengenalku dengan baik, hanya sekedar mengetahuiku atau tidak mengenalku.

I Love you~~

Sabtu, 05 Juli 2014

Apa Adanya

“Jangan cintai aku apa adanya, jangan. Tuntutlah sesuatu agar kita jalan kedepan.”
-Tulus, Jangan Cintai Aku Apa Adanya-



Aku lagi suka banget mendengarkan lagu ini.
Hampir tiap malem aku jadiin lagu pertama yang kuputar untuk teman tidur. Rasanya magic aja mendengarkan lagu ini.

Lagu ini membawa konsep yang 180 derajat berbeda dari yang biasa kita tahu. Kita diajak untuk mencintai seseorang apa adanya. Menerima dengan iklas keadaan dan hal yang dimiliki orang tersebut. Belajar menerima dan mencintai apa adanya.

Namun, Tulus mengubah konsep itu.
Tulus tidak mau dicintai apa adanya. Tulus lebih mau orang yang dicintainya itu menuntutnya, menuntutnya agar menjadi lebih baik dan bisa berjalan kedepan.

Buat aku, permintaan Tulus ini realistis juga manis. Ia tidak memaksa kita untuk mencintai apa adanya, ia merasa bahwa sebuah tuntutan juga ada baiknya. Ini realistis bukan? Mencintai apa adanya tidak semudah itu dilakukan, sebuah tuntutan tidak bisa dihindarkan. Hanya saja, sebuah tuntutan ini menjadi manis karena Tulus mengajak kita menjalani tuntutan itu bersama. Agar bisa jalan ke depan.

Saat

"Saat dulu aku pernah sakit karena mencintaimu tanpa persiapan, suatu saat aku bisa mencintaimu tanpa banyak berharap dan tanpa menyakitiku lagi.."
- Desti, 4 Juli 2014. Sebuah pesan untuk teman -

What If

"What if, what if.. Kan itu yang paling menyenangkan yaa berkata kalau saja."
- Najwa Shihab, Hitam Putih -