Kamis, 18 Juni 2015

Tulis Saja, Kapan Lagi

Tulis saja. Mau berapa lama lagi kamu berpikir dan menentukan nama yang bagus untuk blog-mu?
Tulis saja. Kapan lagi kamu akan kembali menggerakkan jarimu diatas keyboard itu?
Tulis saja. Kapan lagi kamu membebaskan semua kerisauan dalam otakmu itu? Membiarkannya hingga meluap?
Tulis saja. Apa lagi yang bisa kamu lakukan? Saat kamu mengerti bahwa dengan menulis kamu menjadi dirimu.
Tulis saja. Kenapa kamu harus ragu? Kenapa kamu harus merasa bahwa sekian lama kamu tidak menulis membuat kamu tidak bisa menulis?
Tulis saja. Kapan lagi kamu akan menunggu waktu itu untuk datang? Kamu sudah terlalu rindu.
Tulis saja. Karena kamu tahu. Dengan menulis kamu kembali. Mengenali dirimu. Menemukan dirimu diantara tumpukan identitas yang kerap kamu gunakan. Meyakini dirimu dan menerima, bahwa kamu adalah seseorang yang lebih nyaman bercerita lewat kata dan lega saat selesai menuliskannya.

Tulis saja. Kapan lagi.


*Tulis Saja, Kapan Lagi sebenarnya buku karangan Dosen saya, Prof Nunung Prajarto, yang menjadi buku panduan untuk berani menulis saat saya semester 1. Dan saya harus memulai lagi, seperti menjadi mahasiswa semester 1 untuk menuliskan sesuatu. Butuh usaha keras untuk melewatkan dan mengabaikan sejuta alasan untuk tidak mengikuti proyek menulis ini. Lalu, pada akhirnya saya ingat judul buku itu.

Kamis, 06 November 2014

Melepas Cinta Pertama





Sejujurnya aku tidak begitu dekat dengan Ayah. Sering kali, aku merasa tidak cocok dengan Ayah. Kami melewati banyak pertentangan dalam hidup kami. Itu yang membuat kami tidak begitu dekat. Itu yang membuatku lebih memilih lari dan membangun hubungan batin yang kuat pada Bunda, bukan Ayah.
Namun, saat ini kami berusaha mendekatkan diri. Tiba-tiba saat aku bersama priaku, aku mengingatnya. Tiba-tiba, aku sering merindukannya. Entah. Saat ini, aku merasakan hal yang berbeda. Mungkin aku jatuh cinta lagi, pada Ayah. Atau mungkin semua ini karena kami sama-sama menyadari bahwa we getting older.
Aku semakin besar. Seiring dengan berjalannya waktu, aku semakin melihat banyak hal dan semakin menginginkan banyak hal. Dalam benakku, muncul berbagai rekaan menjalani kehidupan sendiri setelah mentas dari bangku kuliah. Bekerja di luar kota, tinggal sendiri dan menjaga diri sendiri, membangun karir dan relasi baru. Aku semakin banyak bermimpi. Sedang Ayah, ia lebih banyak membimbing anaknya membangun mimpi. Yang itu artinya, perlahan tapi pasti, Ayah akan melepaskan anaknya.
Semakin aku dewasa, semakin banyak pula orang baru yang datang dalam hidupku. Mencoba menarik perhatianku. Hingga pada akhirnya, semesta membawakan pria terbaiknya untukku. Pria yang perlahan menggeser pusat pandanganku. Selama belasan tahun hidupku. Ayahlah satu-satunya pria yang aku lihat. Pada dialah aku berlari, bersandar, mencari perlindungan, meminta pertolongan juga orang yang akan siap sedia menjaga. Ayahlah satu-satu pria yang menjadi pusat hidupku.
Tapi, perlahan, seiring dengan aku yang menemukan pria baru, aku meninggalkan Ayah. Aku mencari perlindungan lain. Mencari tempat lain untuk mengadu, menangis, bersandar bahkan berbagi cerita, membangun mimpi baru bersama. Tanpa melibatkan Ayah.
Tanpa sadar, aku mulai berpikir untuk keluar dari rumah, mencari kehidupan lain. Yang itu artinya aku akan meninggalkan Ayah. Keluar dari sayap perlindungannya. Tanpa sadar, aku mulai berpikir membangun hidup baru bersama pria lain. Yang itu artinya aku akan meninggalkan Ayah. Mencari sayap baru untuk berlindung.
Dan itu artinya, Ayah harus melepaskanku. Merelakan burung kecilnya terbang keluar dari sarang. Membiarkan anak gadisnya jatuh cinta pada pria lain. Itu artinya, Ayah harus merelakanku. Untuk tidak bergantung lagi padanya. Yang paling berat adalah membiarkan pria lain mengambil perannya. Membiarkan seorang pria, memasuki hidup anaknya, memberikan perlindungan pada anaknya, memberikan bahu untuk anaknya bersandar dan dada bagi anaknya menangis.
Sering aku melihat Ayah menatapku nanar. Bahagia sekaligus sedikit tidak rela saat priaku menjemputku. Ayah akan memperhatikanku, melepasku dengan senyum tipisnya dan membiarkanku menghilang dibalik pintu. Mungkin, cara ini yang ia gunakan untuk perlahan melepaskanku.
Orang bilang, seorang Ayah akan berat melepaskan anak gadisnya. Melepaskan anak gadisnya pergi dari rumah atau melepaskan anak gadisnya lari mencari perlindungan pada pria lain. Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa seorang Ayah, suatu saat harus bisa merelakan anaknya keluar dari benteng perlindungan yang ia berikan.
Saat ini, mungkin itulah yang terjadi.
Saat ini, kami sedang berusaha menikmati waktu kami bersama….

Foto diambil dari viralnova.com

Sabtu, 18 Oktober 2014

Cantik


“Cantik itu sederhana. Saat kamu menyadari bahwa sebuah hasil jepretan kamera terasa lebih sempurna dengan senyumanmu. Juga saat kamu paham bersama siapa kamu tersenyum."


Pagi ini cukup menyenangkan menemukan foto diatas beserta quote itu ada di timeline.
Quote itu tiba-tiba muncul begitu melihat diri sendiri ada didalam foto. Bukan sombong atau merasa cantik banget, tapi rasanya paham banget kenapa bisa senyum seperti itu.
Ini bukan sekedar karena kamu pergi sama pacar dan difoto sama dia. Tapi ini soal bagaimana menikmati waktumu bersama orang yang berarti. Saat kamu paham bersama siapa kamu tersenyum dan karena siapa kamu tersenyum. Saat itulah kamu cantik.


Selamat malam. Selamat istirahat. Selamat menemukan senyum cantikmu yang lain.

Jumat, 10 Oktober 2014

Halo, Teman Baru!

To someone who says I am mature girl by reading this blog, aku terharu dan tersanjung, sincerely.
Tunggu, aku sama sekali tidak menyindir atau malah ingin mengejekmu. Serius, aku merasa tersanjung dengan pujianmu. Aku merasa, yaaa, aku senang. Saat itu, aku seperti sedang mendapatkan teman baru. Ibarat seorang anak yang sedang bertengkar, saat itu kamu menyodorkan padaku sebuah lollipop. Dan sejak saat itu, kita berteman baik.

Boleh kah aku jujur?
Aku agak kaget. Karena, aku nyaris sudah lupa pada hal itu. Aku sama sekali tidak mendengarkan apa saja yang kamu ucapkan saat itu. Lalu bagaimana perasaanku? Saat itu aku terkejut. Aku juga tidak bisa memungkiri jika ada sedikit sembilu yang aku rasakan. But, I didn’t take it too much, sama sekali. Menurutku itu bukan hal besar. Saat itu, aku merasa bahwa aku hanya kurang berusaha. Berusaha mencuri hatimu. Agar bisa menjadi temanmu.
Serius. Aku tidak memikirkan itu terlalu berat. Memang benar katamu, setiap orang akan punya beragam first impression. Aku berusaha memakluminya, jadi aku hanya bisa berkata “dia belum mengenalku” saat ada banyak suara berbicara tentangku. Respon itu juga yang aku berikan saat itu.

Tenaaaang, aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Hanya, abang aku yang satu itu sedikit lebay. Maaf kan yaa? Ada banyak reaksi untuk mempertahankan orang yang kita sayangi, itu mengapa dia melakukan hal itu. Aku harap, kamu bisa memahami itu, kamu tidak apa-apa kan? Jangan sedih yaa. Bilanglah padaku, jika kamu sakit hati karena si abang jelek itu, aku akan menjewernya! Itu sudah janji seorang teman.
Yang perlu kamu pahami adalah, tidak ada salahnya belajar dari hal yang sedikit menyakitkan. Tidak ada yang salah pula dengan mengabaikan apa yang terjadi dan pahami maksud dibaliknya untuk memperbaiki diri. Hanya itu pesanku.

Satu yang paling membuatku terharu adalah saat kamu bilang bahwa ingin mengenalku lebih dan bermain lagi bersamaku. Yaaaayyy!! I want too..

Kuharap, kamu bisa membaca pesan ini. Aku sengaja menuliskannya disini, karena berawal dari tulisan dari blog inilah kita berteman. Maka pesan ini aku sampaikan lewat media yang sama. Don’t mind to call me, dear. You know how to reach me, right? Can’t wait to see you again, hope it soon enough..

Selasa, 16 September 2014

1001 Alasan

“Ada 1001 alasan untuk menunda mengerjakan sesuatu. Namun, ada 1001 alasan pula untuk mengerjakannya sekarang juga.”

-Mas Agung-

Selamat menjalankan aktivitasmu!
Semoga tidak ada yang kamu tunda hari ini. Semoga saat kamu menundanya lalu muncul alasan lain yang segera mendorongmu melakukannya :)

Senin, 15 September 2014

Aku Serius

Aku terduduk diam. Bersisian dengannya yang juga terdiam. Ada banyak hal yang ingin kami bicarakan. Aku tahu dari helaan nafas yang ia keluarkan. Sama beratnya denganku.  Masih teringat jelas bagaimana pertengkaran kami semalam. Hanya karena sebuah chatyang berakhir dalam situasi seperti ini. Sangat tidak menyenangkan. Padahal, semalam kami saling berseru rindu. Namun, jarak yang dimunculkan lengan kursi ini terasa lebih jauh dibandingkan kedekatan yang kami rasakan semalam lewat chat. Ada kelabu menggantung dimatanya, juga segumpal sesak didadaku.

Dia mulai berbicara. Lirih. Mengunci mataku. Kebiasaannya agarku tak banyak bertingkah. Aku terlalu banyak menyimpan hormon heboh dan dia yang akan menyeimbangkannya. Mata tenangnya yang akan membekukanku. Dia terlalu mengenalku.

Dia berbicara. Selalu diawali dengan permintaan maaf. Katanya, maaf karena menyakitiku. Selepas satu kalimat itu, semua omelan meluncur lancar dari bibirku. Membuatku lebih ringan dan senyum lembut muncul dibibirnya. Dia selalu begitu.

Kami saling mengungkapkan desakan perasaan di hati kami. Sekaligus memperbaiki dan memperkuat hubungan ini. Setelahku dengan meledak-ledak berbicara dan dia dengan tenang juga tegas meluruskan, permasalahan semalam seakan tak pernah ada. Kami, sekali lagi, meneriakkan rindu yang masih mengganjal. Selalu secepat ini kami bertengkar dan selalu secepat ini pula jantung kami kembali berdebar.


Di penghujung malam, dia berkata “Aku menjalani ini dengan serius. Kamu mau kan?”

Senin, 01 September 2014

Cerita Horor



Aku punya cerita horror karena katanya aku mistis..
Dan kemistisanku berhubungan dengan banyak hal di hidupku, salah satunya dengan ringtone hape aku. Kata temen-temen ringtone sms aku seram. Bikin suasana jadi menakutkan.Padahal menurut aku ringtone itu lucu. Kebetulan juga mirip sama kakak sepupu aku yang sebelumnya tinggal satu kamar. Jadi suka tebak-tebakan, yang bunyi hape siapa. Tuh kaaann, kurang lucu apa sih ringtone aku?
Tapi temen-temen aku banyak yang enggak terima dengan kelucuan yang aku ceritakan.

Sampai suatu hari, aku merasakan betapa ringtone itu sangat menyeramkan….
Suatu pagi, saat aku tertidur lagi di liburan semester. Aku menaruh hape aku dalam sebuah plastik yang menggantung di dekat tempat tidur. Saat sedang setengah sadar waktu bangun tidur, aku mendengar suara ketukan. Pertama, aku hanya kaget. Kedua, ada suara ketukan lagi. Aku membuka pintu kamar yang kebetulan aku tutup. Tidak ada orang. Aku mulai ketakutan, karena aku tidak bisa menemukan siapa yang mengetuk pintu. Dan aku cemas, karena aku tidak bisa menemukan hape aku. Sampai ada suara bunyi sms ketiga yang berarti suara ketukan pintu ketiga kalinya. Aku baru sadar kalo itu suara hape aku.

Ternyata memang benar kalo suara ringtone sms aku menyeramkan.. Benar. Suaranya menakutkan dan menegangkan. Aku baru tau kalo ternyata selera aku se-horor itu~~~ Dan aku horror sekali karena aku masih mempertahankan bunyi ringtone itu dan masih tetap menyukainya.


Gambar diambil dari http://ctworkingmoms.com/2013/04/24/knock-knock-jokes-for-kids/