Rabu, 20 April 2016

Pukul Lima

Dari 24 jam waktu yang berputar di dunia ini, waktu manakah yang paling kamu suka? Ada banyak orang di muka bumi ini yang secara tidak langsung membentuk kesepakatan tentang waktu yang paling disuka.
Pendaki gunung mungkin akan menyatakan saat matahari terbit adalah waktu yang paling indah. Melihat kemegahan matahari yang terbangun dan memunculkan keindahan luas tanpa batas bersamaan dengan awan yang berarak. Pedagang pasar memulai harinya pada pukul 3 pagi, waktu dimana kehidupan dimulai. Mencari nafkah, keluar dari gelungan selimut dan berbaur dengan hangatnya suara tawar menawar. Pecinta pantai akan berlari, berlomba mengejar momentum matahari terbenam di dasar samudra. Membawa bias warna laut dan deburan ombak melebur menjadi warna gelap yang pekat. Tidak ada waktu yang paling tepat dan romantis selain malam hari bagi para pecinta kembang api. Membiarkan letupan kembang api membuat jejak lukisan cahaya di langit. Penggiat konser akan merasa pukul 8 adalah waktu yang paling pas untuk mengeluarkan bintang utama. Waktu yang cukup malam namun masih panjang untuk bernyanyi dan berteriak bersama.
Tapi, seorang Kanaya Nareswari, merasa pukul lima sore adalah waktu yang paling romantis. Tidak gelap namun juga tidak terang. Matahari pada pukul lima menatapnya teduh. Pukul lima mengingatkan ia untuk 'pulang'. Waktu itu seakan membuatnya berhenti di tempat persinggahannya. Memikirkan sebuah tempat yang ia sebut rumah.
Sama seperti hari ini. Walau kini ia tidak berada di titik paling jauh dari hiruk pikuk kota, pukul lima selalu membuatnya rindu. Untuk itulah ia duduk disini. Di sebuah beranda café kesukaannya. Naya akan datang pukul setengah lima dan beranjak saat jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah enam. Ia akan selalu duduk di kursi untuk dua orang, disudut paling jauh di lantai dua café ini. Ditemani secangkir coklat hangat yang akan ia isi lagi saat habis. Ia hanya akan diam, menikmati setiap detik yang ia lalui bersama pukul limanya.

Entah sejak kapan, Gana memperhatikan pelanggan café-nya itu. Menginjak pukul lima, Café akan sepi pengunjung. Membuatnya bisa rehat sejenak dari balik coffee maker-nya dan memperhatikan satu persatu pelanggan yang datang. Saat itulah ia melihat seorang perempuan yang datang ke café, langsung memilih ke lantai dua dan memesan secangkir coklat hangat. Lalu ia akan beranjak pergi pada pukul setengah enam. Setelah memesan dua sampai tiga cangkir coklat panas. Pelanggan yang tanpa sadar selalu ia perhatikan selama dua bulan ini, di saat ia tidak lagi bersembunyi dibalik coffee maker.
Pukul setengah lima. Gana melepaskan apron hitam yang ia gunakan dengan sebuah ornament kecil di saku depan yang memperlihatkan logo café-nya. Ia menunggu perempuan itu. Setiap terdengar bunyi lonceng, Gana selalu awas. Memperhatikan siapa pun pelanggan yang mendorong pintu masuk café, menciptakan denting kecil dari sebuah lonceng yang ia pasang diatas pintu. Sudah lima hari perempuan itu tidak datang. Sudah lima hari tanpa sadar ia mendesah kecewa saat pukul setengah enam berjalan tanpa membawa perempuan itu datang untuk singgah dan meminum coklat hangat.
Setelah enam kali pada hari itu, ia mengangkat wajahnya saat mendengar denting lonceng yang tidak kunjung berhasil membawa perempuan itu kepadanya, akhirnya pada bunyi ketujuh lonceng itu berbunyi bersama dengan sosok yang sudah lima hari tidak ia lihat. Dari jam yang melingkar di tangannya, perempuan itu datang terlambat. Gana membiarkan seorang waiter, Anya, berjalan menghampiri perempuan itu untuk menuliskan pesanannya. Saat Anya kembali dengan catatan pesanan ditangannya, Gana mengambilnya.
“Biar saya saja yang buatkan pesanan Mbak itu,” ujar Gana sambil menarik kertas kecil yang ada di tangan Anya.
Tanpa memperhatikan reaksi Anya, Gana segera membuatkan secangkir coklat hangat untuk perempuan misterius itu, membuatkan pesanan minuman yang tidak biasanya ia buatkan. Ia juga memilih untuk membawa pesanan itu dengan tangannya sendiri. Dengan tenang, Gana berjalan menuju lantai dua, menemukan perempuan itu duduk di pinggir beranda, di posisi yang paling pojok. Perempuan itu terlihat sedang memperhatikan jalan yang mulai ramai karena jam pulang kerja. Perlahan Gana menaruh cangkir coklat hangat didepan perempuan itu. Suara tatakan cangkir dan meja kayu beradu menciptakan suara yang membuyarkan lamunan perempuan itu. Dan saat itulah, untuk pertama kalinya, Gana melihat wajah perempuan misterius yang selalu datang pada pukul setengah lima ke café-nya dan memesan secangkir coklat hangat.

Suara tatakan cangkir yang beradu dengan meja kayu membuyarkan lamunan Naya. Ia mengalihkan pandangannya dan hendak mengucapkan terima kasih pada pelayan yang mengantarkan pesanannya. Alih-alih seorang pelayan dengan pakaian berwarna coklat, Naya malah menemukan seorang pria gagah dengan kemeja putih berdiri di sebelahnya.
“Silahkan, ini pesanan Mbak,” ucap pria itu mengambil alih ucapan terima kasih Naya. “Coklat hangat seperti biasa.”
Naya tersenyum mendengar ucapan pria didepannya itu dan segera mengucapkan terima kasih.
“Boleh saya duduk disini?” tanya pria itu yang dijawab anggukan oleh Naya. Ia memperhatikan pria yang duduk didepannya sambil meminum coklat hangatnya.
“Nama saya Gana,” ucap pria itu lagi sambil mengulurkan tangan yang membuat Naya buru-buru menaruh cangkir ditangannya ke tatakan.
“Saya Naya,” jawab Naya sambil melempar senyum kepada si pemilik tangan.
Setelah berkenalan baik Gana dan Naya sama-sama terdiam. Bingung harus memulai percakapan dari mana. Hal ini memberi kesempatan Naya untuk kembali memperhatikan lalu lintas di bawahnya yang memadat.
“Kamu terlambat hari ini,” ujar Gana tiba-tiba. Membuat Naya mengerutkan keningnya bingung. “Hari ini kamu terlambat. Kamu datang pukul 4.40. Biasanya kamu akan datang pukul 4.30.”
Naya tertawa kecil mendengar penuturan pria didepannya ini. “Iya, pesawat yang saya tumpangi sempat delay. Jadi saya terlambat datang ke tempat ini.”
“Hal itukah yang membuatmu tidak datang ke tempat ini selama beberapa hari?”
Pertanyaan baru Gana membawa Naya menganggukan kepala sebagai jawabannya. “Iya. Karena itu selama beberapa hari saya tidak bisa datang kesini.”
Selama ini Naya selalu tidak suka dengan orang yang tiba-tiba datang dan sok kenal. Namun, Gana membawa suasana lain yang membuat Naya tidak keberatan menjawab semua pertanyaannya.
“Jadi, kemana kamu pergi selama lima hari ini?” tanya Gana lagi.
“Pergi ke tempat….” Jawab Naya tersenyum. Ia menyesap coklat hangatnya setelah itu ia menggegam cangkir ditangannya, merasakan kehangat dari cangkir yang menyelimuti kedua telapak tangannya. Naya lalu menatap dalam mata hitam Gana. “Dimana saya akan rindu untuk pulang.”


Bersambung…..

Minggu, 17 April 2016

Jadi, Apakah Cinta Bisa Berhenti?

“Nay, memang benar yaa bahwa cinta itu bisa berhenti suatu saat nanti?”
Aku memandang temanku, Kia, dengan kening berkerut sebelum tertawa terbahak-bahak. Melihatku yang tertawa, Kia langsung memasang aksi ngambeknya.
“Dari semua ekspresi yang ada didunia ini, kenapa kamu memilih tertawa?” tanyanya sebal sambil melemparku dengan boneka minions yang ada didekatnya.
“Bukan,” aku berusaha menghentikan tawaku untuk menjawab pertanyaan Kia. “Aku bukan menertawakan kamu. Tapi menertawakan kebetulan yang terjadi.”
Mendengar jawabanku Kia berbalik mengerutkan keningnya.
“Aku sedang membaca sebuah cerita.” Ujarku sambil menunjukkan HP yang aku pegang. “Dalam cerita itu, kedua tokoh utama adalah orang yang berusaha merasionalkan cinta. Lalu berhenti pada sebuah kesepakatan bahwa pernikahan tidak butuh cinta. Karena setelah beberapa lama cinta sudah tidak perlu lagi.”
Kia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Itu kenapa aku tertawa waktu kamu bertanya seperti itu. Kamu sendiri kenapa bertanya begitu?”
Kia terdiam sejenak. Memandangku dengan mata menyipit. Hal yang dia lakukan saat mempertimbangkan sesuatu.
“Enggak tiba-tiba saja aku ingin bertanya seperti itu. Ragu gak sih kamu saat kamu memilih untuk menikah padahal kamu tahu bahwa cinta mungkin saja berhenti.” Jawab Kia yang aku jawab dengan anggukan.
Aku terdiam. Memikirkan kemungkinan yang terjadi dari hal itu.
“Entahlah. Bagaimana bisa kita membicarakan sesuatu yang tidak pernah kita jalani atau pahami sih, Ki?” jawabku dengan memberikan sebuah pertanyaan balik pada Kia.
“Apakah itu karena mereka sebenarnya bukan jodoh? Banyak orang bilang bahwa kadang kita menikah dengan orang yang bukan jodoh kita.”
Pernyataan Kia barusan semakin membuatku terdiam dan berpikir.
“Mari kita diskusikan cinta itu, Ki. Jika yang kamu harapkan adalah jawaban yang bisa memuaskan keresahanmu.” Jawabku sambil tersenyum. “Tapi mari kita pahami cinta jika yang kamu butuhkan adalah kepenuhan hatimu.”
Kia terlihat tertarik dengan jawabanku barusan. Ia memposisikan dirinya dengan lebih nyaman dihadapanku. Sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang panjang.
“Kata orang, jodoh itu adalah konsepsi yang dibuat manusia, bukan? Kamu sendiri yang bilang saat kamu putus cinta dari Adma. Walau Tuhan sudah menyiapkan seseorang menjadi jodohmu, tapi ada sebuah kisah yang harus kalian usahakan berdua. Dan menurutmu itulah jodoh. Saat kalian sama-sama saling mengusahakan agar saling menemukan, bertemu dan merangkai kisah yang sama.”
“Yap itu benar! Dan aku masih merasa itu hal yang benar sampai sekarang.”
“Ya itu dia, Ki. Bahkan saat kamu sedang berada dalam kisah yang sama dan mengusahakan kisah itu untuk terus ada, apa tiba-tiba kamu ingin berhenti? Kecuali ternyata kedua orang itu tidak merangkai kisah yang sama, hanya sekedar jadi cameo.”
“Bener sih Nay.” Ucap Kia lirih. Setengah tidak yakin. “Itulah kenapa aku percaya bahwa ada kisah yang pasti diusahakan. Tapi misalnya saat dalam masalah besar. Aku jadi takut bahwa cinta bisa benar-benar habis dan berhenti.”
“Jadi menurutmu cinta bisa berhenti?”
“Mungkin saja, Nayaaaaa!”
Aku mengangguk-anggukan kepalaku. “Kalo kita berbicara dalam term, sudah saling menemukan dan merangkai kisah yang sama ya, Ki. Aku rasa cinta tak bisa berhenti. Teman aku pernah cerita, kerap kali kita menyalahartikan rasa yang berbeda setelah kita menikah. Pada stage tertentu cinta kita pada seseorang akan sampai pada titik paling maksimal yang bisa dibuat berdua. Kadang juga titik maksimal itu membuat kebiasaan sedikit berubah, membuat rasa menjadi seakan hambar atau hilang. Disitulah kadang kita mengartikan bahwa cinta itu berhenti. Padahal, rasa cintanya gak berubah, Ki. Cuma bermetamorfosa agar lebih sesuai dan bisa bertahan. Ada lima Bahasa dalam cinta menurut Gary Chapman. Mungkin aja supaya lebih sesuai dengan kehidupan berdua, dari berbahasa cinta melalui kata-kata berubah jadi perbuatan atau hadiah kan?”
“Kamu tau gak gaya pacaran Mama-Papa kamu dulu? Dan mereka pasti pernah berantem atau melalui masalah besar bersama kan?” Tanyaku lagi.
“Tau banget! Kamu kan ngerti sendiri betapa mesranya Mama-Papa aku. Sampe semua anaknya tau semua kisah cinta mereka. Dan sampai sekarang, Papa aku masih memperlakukan Mama aku kaya pacarnya. Nama panggilan jaman pacaran aja masih suka dipake. Ya mana ada rumah tangga, hidup dengan dua kepala atau lebih tidak pernah menghadapi masalah sih, Nay.”
“Ayah dan Bunda aku tidak begitu, Ki. Bunda berasal dari keluarga Jawa yang sangat saklek. Memperlihatkan afeksi secara verbal ataupun tindakan didepan banyak orang adalah hal tabu. Tapi aku masih melihat pancaran rasa hormat dan sayang yang besar saat Bunda melihat Ayah. Begitu pun dengan cara Ayah memperlakukan Bunda dengan sangat halus dan lembut. Keluarga Bunda pun sering berusaha mengintervensi keputusan mereka berdua yang akhirnya jadi konflik diantara mereka.
“Lalu, apa kamu rasa cinta kedua orang tua kita berhenti? Karena Mama-Papamu tetap pada kebiasaannya dan Bunda aku menjadi lebih berani memberitahu perasaannya pada Ayah?” Kia langung menggelengkan kepalanya. “I think we are in the same page here. Kedua orang tua kita dengan gaya yang berbeda, meletup-letup atau pun dalam diam sama-sama tidak kehilangan cintanya. Benar kan? Jadi, tidak semua orang merasa cintanya itu berhenti.”
“Kalau cinta memang tidak bisa berhenti, kenapa kedua tokoh cerita yang kamu baca itu memilih menikah tanpa cinta, yang secara tidak langsung tidak percaya jodoh?”
“Ki, seriuskah kita akan melanjutkan pembicaraan ini? Kamu sudah menikmati sensasinya memfilsafatkan sesuatu?” tanyaku dengan setengah gemas.
“Oh, Naya. Ayolah, aku belajar memahami cinta sama seperti katamu agar aku merasakan rasa penuh itu. Kamu tahu kan? Cinta itu subjek yang surreal. Sedang kita selalu dituntut untuk hidup dengan sesuatu yang real. Lalu bagaimana aku bisa yakin bahwa aku dan seseorang diluar sana sedang saling berusaha dan mampu hidup berdua selamanya?”
“Cinta bukan koperasi dengan asas sukarela, Ki. Tapi badan usaha, dimana semua orang didalamnya harus saling bekerjasama.” Jawabku mencoba berseloroh. “Kalo memang cinta gak bisa jadi sesuatu yang real, buatlah aspek didalamnya menjadi sesuatu yang real. Mungkin dengan kasih bunga, ngajak nonton, ngurusin waktu sakit.”
Aku berhenti sejenak. Memberi jeda waktu sekaligus menarik nafas panjang.
“Kalo soal kedua tokoh itu, masih banyak bagian dari cerita mereka yang belum selesai aku baca.” Aku buru-buru melanjutkan penjelasanku. “Mungkin karena mereka belum menemukan the one, pernah tersakiti seseorang yang kita anggap the one atau bisa jadi ternyata mereka hanya cameo di hidup masing-masing. Kita gak pernah tau akhir cerita yang tidak kita jalani, kan?”
“Bisa jadi, kedua tokoh cerita itu bilang gitu karena mereka menutup hati dan tidak saling mengusahakan. Jangan-jangan kesepakatan mereka itu manifestasi dari rasa takut. Karena mereka belum yakin dan masih terlalu resah. Juga karena mereka tidak mengerti bahwa cinta bisa berubah bentuk dengan rasa yang sama.” tandas Kia dengan nada setengah menggumam.
“Mungkin pada satu titik kita harus siap bahwa cinta kita berubah rupa, Ki. Berubah menjadi kepekaan, kepedulian, keberanian, tanggung jawab atau saling mengusahakan. Tidak lagi dengan bunga, kado atau panggilan sayang.”
“Kedua tokoh itu sama seperti banyak orang disekitar kita yaa? Takut bahwa cinta mereka berupa bunga, kado atau panggilan sayang akan berhenti suatu saat nanti. Padahal itu hanya sebuah fase untuk menyesuaikan kisah mereka.”

“Mungkin saja. Tapi siapa yang siap bukan, jika orang yang kita sayang membuat kebiasaan baru? Bisa jadi kita terlalu ketakutan sampai merasa bahwa pasangan kita ingin menghentikan kisahnya. Bisa saja, apa yang kita bicarakan sejauh ini hanya soal sebuah ketakutan dan rasa tidak aman, padahal subjek surreal yang kita bicarakan ternyata sebuah kepastian namun tidak bisa kita lihat wujudnya.”

Rabu, 02 Maret 2016

Kerinduan Untuk Ayah Kedua



The best part being Mas Agung’s squad and Padakacarma is acceptance.
Aku masuk menjadi bagian Padakacarma, antara tahun 2010 atau 2011. Pada saat itu, aku memilih menjadi reporter remaja KR karena aku sedang ingin berlari. Aku merasa bahwa banyak hal dan orang tidak bisa menerimaku. Otakku, pola pikirku, keanehanku, kata-kata tegasku, kenaifanku juga sebuah luka yang menganga besar menggangu kehidupan remajaku. Aku merasa menjadi bagian dari orang-orang, yang menurut kata Mas Agung adalah pecundang. Bersumbunyi karena tidak diterima secara komunal, padahal punya potensi.

Desti saat SMA adalah Desti yang penuh ketakutan dan insecurities.
Aku pernah tidak punya teman karena kata-kata tegasku, pola pikirku atau kenaifanku. Aku menghabiskan masa SMP-ku dengan kepura-puraan. Dan saat SMA, aku masih Desti yang sering menangis karena melihat iklan televisi, masih Desti yang suka nyinyirin hal kecil, masih Desti yang tidak akan ragu menegur orang atau berbicara random tentang banyak hal. Mungkin tingkat keabsurdanku lebih tinggi lagi saat SMA. Desti dan kompleksitasnya menjadi ketakutan tersendiri saat aku SMA. Weirdo.
Lalu, berkenalan dengan Mas Agung membuat aku menerima diriku sendiri dan menjadi bagian Padakacarma seperti menemukan rumah baru. Mas Agung membantuku melewati banyak hal dan kerisauanku menjadi dewasa yang terperangkap dalam tubuh remaja. Ia sering membiarkanku bercerita apa saja dengan menggebu-gebu, memikirkan banyak hal tentang masa depan yang seharusnya dan sebaiknya, membiarkan aku meluapkan emosiku dengan berbagai pisuhan, membantuku menyelesaikan beberapa kepingan-kepingan puzzle spiritual. Mas Agung menjadikanku teman diskusinya dengan berbagai isi otakku yang random. Mas Agung membiarkanku ‘menjadi tua’ dengan berbagai percakapan absurd dan cenderung memfilsafatkan sesuatu. Mas Agung mendukungku untuk menerima gift yang Tuhan berikan, membantuku mengasahnya. Mas Agung memberi peluang bagi pikiran idealisku, ketegasanku, kenaifanku menjadi karakter kuatku.
Mas Agung memberi kesempatan agar aku menjadi diriku sendiri. Dan Mas Agung memberikan apa yang selama ini aku cari. Penerimaan atas segala keanehanku.

Sampai sekarang aku menyadari, menjadi Desti, kerap kali aku akui merupakan hal yang sulit. Bahkan aku kerap kesulitan menerima pikiran-pikiran kecil yang muncul tiba-tiba dan memenuhi otakku seperti pop corn. Tapi Mas Agung menjadi teman, yang sebisa mungkin tidak kehabisan waktu untuk meladeniku. Penerimaan akan diriku membuat aku mencintai diriku dan aku sekarang menemukan Mas Agung-Mas Agung lain yang bersedia menyediakan waktu untukku. Mas Agung beserta Padakacarma menjadikanku Desti yang menerima dirinya. You have to know this, Mas. You are my real hero. Mas salah satu aktor paling berpengaruh yang membentuk aku menjadi seperti ini.

Aku kehabisan kata-kata saat Mas bercerita kalo Mas sudah tidak lagi menjadi penanggungjawab Rubrik Kaca, mungkin juga jadi pengasuh Padakacarma. Aku sampai hanya bisa glundungan dan tidak menyentuh skripsiku. Seperti yang Mas bilang, Mas tidak suka perpisahan, Mas menyukai bagian besar dari sebuah lambaian tangan yang berarti kerinduan. Dan belum apa-apa aku sudah merindukan Mas. Walau sangaaaaaaatt jarang berkomunikasi, tapi aku benar-benar belum bisa membayangkan datang ke sekre Kaca dan tidak menemukan Mas memenuhi sekre. Aku patah hati, Mas. Mungkin sama seperti apa yang Mas rasakan karena harus berpisah dengan anak-anak Mas.
Tapi aku ingat sebuah curhatan Mas saat itu. Mas juga ingin menjadi besar. Mas juga ingin mengambil sebuah kesempatan agar Mas bisa lebih baik. Ini saatnya, kami anak-anakmu membiarkan Ayahnya menjadi lebih besar. Adakalanya seorang anak harus berjalan sendiri untuk meneruskan hidup, bukan? Ini saatnya kami menunjukkan padamu bahwa kami juga mampu dan ingin menjadi besar seperti yang Ayahnya lakukan.

Teruslah seperti Mas Agung yang penuh dengan waktu kosong untuk membantu orang, yang menyempatkan dirinya untuk terus belajar, yang selalu berusaha menjadi lebih baik dan kompeten. Semoga di ladang baru Mas, Mas tidak lagi terlalu cingkimin hihihi. Ayo buatlan inovasi baru Mas dan buktikan itu. Biar mimpi-mimpi Mas, sebagai Ayah di sekre Kaca kami wujudkan dan kami usahakan. Sama seperti Mas, ini juga saat kami untuk tidak cingkimin, bukan?

Banyak hal yang membuat aku percaya bahwa luka yang sudah sembuh adalah saat kita mampu tertawa bersama luka itu dan penerimaan yang baik adalah awal luka yang sembuh. Terima kasih Mas karena membantuku menertawakan lukaku dan menerima apapun diriku. Terima kasih Mas Agung! I love you, sincerely. Now, I’m happy being weirdo!

Selasa, 02 Februari 2016

Like Untuk Foto Indah

“Baru pertama kali ini Des, aku nemuin kalo gunung itu macet! Aku kira itu Cuma di foto-foto aja. Tapi ternyata beneran. Gek sampahnya dimana-mana. Naik gunung bukan lagi jadi hobi untuk nyepi, Des. Tapi ada kebutuhan untuk berfoto di tempat indah untuk dimasukkan Instagram.” – Umarudin Wicaksono

Tiba-tiba aku teringat penggalan cerita Umar disebuah kelas. Pembicaraan yang sudah sangat lama sebenarnya. Saat itu, sedang marak pemberitaan seorang pendaki gunung yang terjatuh ke kawah Gunung Merapi. Awalnya kami hanya membahas soal resiko dan safety dari aksi yang dilakukan, sampai obrolan panjang kami berakhir pada gerutuan Umar karena tidak lagi bisa menikmati gunung.
Cerita Umar saat itu bukan untuk pertama kalinya aku dengar. Mas Girindra sebagai sesama pecinta Gunung juga menyerah pada hasratnya ingin mendaki. Bukan apa-apa, karena Umar dan Mas Girindra tidak lagi menemukan ‘euphoria’ dan keseruan saat naik gunung malah ngedumel dan emosi sendiri. Yang mereka lihat bukan lagi ketenangan dan keindahan alam yang mereka kagumi dengan lensa mata, namun gerombolan orang yang sibuk dengan lensa kamera mereka. Menangkap apapun yang bisa mereka simpan dan bagikan dalam media sosial mereka nantinya.
Beberapa saat yang lalu memang, mendaki gunung menjadi sebuah kegiatan yang hits. Lebih tepatnya, kegiatan apa pun yang bisa mencitrakan diri menjadi seorang traveler atau explorer. Yang menarik, mendaki gunung bukan lagi sebuah kegiatan ‘sakral’. Menjauh dari keramaian, menikmati ketenangan sekaligus kebersamaan, menjaga hati dan ucapan, mensyukuri keindahan dari Tuhan juga misi sosial dengan membersihkan sampah, tapi karena sebuah komersialisasi like. Jika bersedia mengingat agak mundur kebelakang, pada saat itu, memang sedang banyak-banyaknya foto dari puncak gunung. Melihat gumpalan awan putih yang seperti kapas, sinar matahari terbit yang memunculkan flare syahdu atau pemandangan dari atas yang membuat segalanya menjadi kecil menakjubkan. Saat itu, seperti kata Umar, semua berlomba-lomba ingin merasakan pengalaman yang sama. Tunggu dulu belum selesai. Pengalaman yang sama, itu berarti foto ditempat yang sama dan like yang sama banyaknya saat mengunggah foto tersebut di media sosial. Aku dan Umar lalu berakhir pada satu kesimpulan. Semangat mendaki gunung tidak lagi soal ‘melarikan diri’ tapi soal mengabadikan momen dengan prospek like yang banyak.
Social media nowadays: viral and hits. Dengan aksesibilitas yang tinggi, anak muda bisa menciptakan sebuah kesempatan ketenaran yang viral. Membentuk budayanya sendiri. Yang jika tidak hati-hati malah akan menjerumuskan pada sebuah budaya dalam media yang terstrukturisasi secara ekonomi. Apa bentuk ekonominya? Like! Like menjadi sebuah harga yang sangat tinggi. Membuat anak muda melakukan banyak cara agar cukup memiliki pride saat melihat akun Instagram yang menunjukkan tanda hati dengan ratusan angka dibelakangnya. Like menjadi sebuah komponen yang membiaskan dan memberi pemakluman pada sifat konsumtif anak muda. “Gak papa beli outdoor gear ratusan ribu, demi naik gunung. Kan aku lagi hobi naik gunung.” Padahal, demi naik gunung, jika yang kamu cari adalah fotonya, kamu tidak harus memiliki beragam outdoor gear kan? Dan yakinkan kamu bahwa naik gunung memang benar-benar hobimu?
Pada sebuah kelas terbuka di Februari 2010, Denis Dutton seorang filsuf seni sekaligus editor Arts & Letters Daily dalam TED Talk mencetuskan Teori Kecantikan Darwinian. Dalam teori ini, sebuah kecantikan merupakan sebuah ekspresi emosi dan perasaan yang terpengaruh oleh psikologis sesorang. Menurutnya, kecantikan merupakan salah satu bentuk adaptasi dari teori Darwin. “Beauty is an adaptive effect, which we extend and intensify in the creation and enjoyment of works of art and entertainment.” Dalam dunia modern, ekspresi ini membantu manusia menciptakan imanginary world dalam dunia seni. Dalam kasus ini, anak muda membentuk sendiri konsep kecantikan dalam imaginary world. Menggunakan ranah seni fotografi, konsep kecantikan bukan lagi pengemasan keindahan alam yang dibentuk dalam sebuah foto. Kecantikan ala anak muda sekarang adalah mengejar prospek like dengan sebuah keindahan dalam foto. Tujuan utama naik gunung adalah menikmati hasilnya dalam sebuah foto dengan like yang banyak. Budaya mengejar like foto jalan-jalan ini juga berpengaruh dengan konsepsi cantik atau indah yang ada pada anak muda. Dalam imaginary world anak muda, enjoyment menikmati karya seni dan hiburan tidak dilihat dari seni menangkap keindahan melalui foto, namun menikmati sensasi memiliki banyak like pada keindahan didalam foto.
Oke, naik gunung memang tidak ada salahnya kok. Tapi coba pikirkan ulang alasanmu dan tanyakan pada hatimu apakah kamu sudah benar-benar memahami konsep naik gunung? Kalo sudah, bagaimana dengan sampah yang banyak di camp area? Atau bagaimana dengan alat pemantau aktivitas gunung yang dengan iseng kamu mainkan? Mas Girindra dan Umar bercerita bahwa hobi baru ini memang banyak membawa keuntungan. Masyarakat sekitar punya lapangan pekerjaan baru. Namun, masyarakat juga secara tidak langsung banyak ‘kerugian’ karena pendaki yang asal sasak jalan atau merusak tanaman. Dan foto indah di gunung membawa tamparan baru. Karena hobi ini adalah efek viral dari media sosial, aku mengingat sebuah kelas sehari-semalamku bersama Ocean of Life Indonesia.
Saat itu, setelah susur pantai dan melihat banyaknya permasalahan pariwisata dadakan, aku mengajukan sebuah pertanyaan. Bagaimanakah kita menyikapi potensi wisata yang kita temui, bolehkah kita mengunggahnya ke media sosial? Mas Bintang menjawab jika pariwisata yang berkelanjutan menekankan pada kebijakan dan pertimbangan. Pantaskah wisata tersebut dipublikasikan? Sudah siapkan manajemennya, sumber daya manusia yang akan mengelolanya? Jika belum, jangan pernah mengunggahnya. Sekali tempat itu kotor dan rusak, akan susah mengembalikannya seperti semula.
Lalu bagaimana dengan hobi baru kamu itu? Apakah saat kamu naik gunung, mengunggah foto apik dalam Instagram, Path atau media sosialmu yang lain, tempat itu sudah siap untuk didatangi ratusan teman dalam lingkaran pertemanan media sosialmu, dan teman-temannya temanmu? Dan apakah teman-temanmu sudah siap menjaga tempat baru itu dengan tidak merusak, membuang sampah sembarangan? Kalo belum, semangat mencari foto apik dengan prospek banyak like itu harus kamu tahan dulu.
Hobi baru ini dan viralnya foto yang kamu unggah, tanpa disadari menggeser banyak hal. Komersialisasi like, salah satunya. Setelah kita sibuk dengan mengabadikan momen dengan adanya diri kita dalam sebuah frame, like ini menggeser sensasi itu. Mencari keindahan dititik tertinggi, pantai tersepi dan mendapatkan sensasi foto yang apik dengan jumlah like yang banyak. Setelah tidak cukup puas dengan mencuri momen dalam sebuah foto, kita tidak lagi puas hanya dengan mencuri. Kepuasaan semakin tinggi dengan banyaknya double tap yang diberikan. No one ever satisfied with photo.

Oh iya, sudah menjadi isu lama bila sesuatu yang digemari di Indonesia ini hanya soal waktu kan?

Lalu bagaimana kabar ransel gunung 80 liter dan seputu gunung-mu itu? Semoga masih kamu beri banyak perhatian yaaa~~ Dan semoga hasrat hobi barumu masih terpuaskan~~

Rabu, 23 September 2015

Remind Me Of....

This novel remind me of you, Mas.

Aku berhenti lama pada bab 2.
Menyadari bahwa sampai bab 2 sudah banyak hal dalam novel ini menceritakan hal yang sama dengan yang aku rasakan. Ya, walau bisa jadi bab selanjutnya tidak serta merta bercerita soal permasalahan yang sama. Yang pasti, banyak bagian dari 2 bab itu dekat denganku. Bercerita tentangmu dan semua kerisauanku. Buruknya, juga bisa soal kehidupan kita berdua besok. Seperti aku yang masih berhenti membaca novel itu, tulisan tentang kamu dan kerisauanku juga berhenti. Seperti 2 file tulisan yang hanya berhenti dengan menjadi draft.

Novel itu bercerita soal kesulitan dalam hubungan pria dan wanita dalam kehidupan pernikahan mereka. Menghadapi banyak permasalahan, berusaha menyelesaikannya dan harus bernegosiasi dengan jarak yang nyata memisahkan. Dan, tahukah bahwa pekerjaan si pria sebagai offshore operation engineer? Iya, bekerja di sumur bor lepas pantai. Bekerja dengan waktu kerja 5/5. Bahkan tanpa membaca penjelasannya aku sudah tau. Hapal luar kepala. Si pria akan pergi bekerja selama 5 minggu, di lepas pantai dan memiliki waktu libur 5 minggu. Sounds good right? 5 minggu untuk bersenang-senang.
Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya ada soal melepaskanmu lagi dan lagi untuk pergi beberapa lama setelah waktu libur itu selesai.

Oke, pekerjaanmu memang tidak seperti si pria yang harus bekerja dilepas pantai, tapi sebagai geologist kamu melakukan kegiatan yang bahkan lebih ekstrem. Sudah berapa kali ceritamu berakhir dengan kalimat, "untung waktu itu aku gak mati, Dek." Aku juga beruntung, Mas. Beruntung waktu aku mendengarkanmu cerita jantungku tidak berhenti berdetak karena kaget walau kamu bercerita sambil tertawa. Sudah berapa banyak cerita nyaris matimu itu, Mas?
Digigit kelabang putih, disengat lebah tambuan, bertemu macan dihutan, atau hal mistis seperti nyaris mati diguna-guna kepala suku atau karena salah mengolah hasil buruan yang memiliki pantangan. Terlebih lagi kamu suka mendaki gunung lalu sekarang bekerja untuk kebencanaan. Keluar masuk hutan, membuat jalan baru didalam hutan yang belum pernah dilewati, naik hingga puncak gunung untuk memasang alat. Aku ingat pernah membaca sebuah blog dimana, seorang wanita bercerita soal kehilangannya karena pacarnya, yang kebetulan juga geologist, meninggal. Memang bukan karena dimakan harimau, tapi ia meninggal dalam kecelakaan pesawat yang membawanya ke tempat yang cukup sulit dijangkau. Lalu siaran televisi soal pendaki gunung yang hilang. Semua menambah kerisauanku. Oh lihatlah, aku adalah mahasiswi komunikasi yang bahkan tidak bisa meliterasi dirinya sendiri dari membaca atau menonton media karena takut kehilanganmu.
Jika dalam novel yang belum selesai aku baca itu, memunculkan rasa kosong karena 'membiarkan' permasalahan tidak terselesaikan dengan baik. Waktu dan jarak yang mengurangi waktu bersama dari para tokoh. Kosong? Mungkin ada. Kosong karena seluruh perasaan mati sekejap, hanya meninggalkan cemas yang berusaha disembunyikan rapat-rapat. Hatiku terlalu dipenuhi rasa cemas saat kamu menjalani angka pertama sebelum garis miring itu. Jangan tanyakan apakah aku percaya padamu atau tidak. Aku percaya, aku tau bahwa kamu tidak mungkin melakukan hal yang tidak baik selama kamu pergi. Tapi soal cemas, tidak bisa begitu saja hilang bukan? Aku cemas karena harus menjalani hari tanpamu, tanpa kabar yang jelas darimu. Ya Tuhan, aku jadi ingat ceritamu dulu. Kamu bercerita bahwa kamu dan teman-temanmu mengenal baik resiko pekerjaanmu. Yang membuat kamu selektif memilih dari banyaknya wanita yang mengejarmu. "Kami harus siap, Dek. Begitu juga pasangan kami jika suatu saat kami tidak pulang."
Lupakan soal banyak waktu penting yang harus kita lalui terpisah. Biar aku belajar memasang bola lampu sendiri, membayar pajak kendaraan atau mendatangi bengkel untuk service rutin kendaraan. Biar aku yang mengajarkan banyak hal pada anak kita, merekam setiap hal kecil dari anak kita untuk aku ceritakan lagi padamu dan terus menyebut namamu setiap hari agar dia bisa mengucapkankan kata 'Ayah' dengan lancar. Aku cemas karena itu. Resiko yang katamu sudah kamu dan teman-teman siapkan matang-matang saat belajar dulu. Aku tau resikomu. Hanya saja, butuh waktu yang lama hingga aku siap jika harus berada di posisi itu.

Lalu seperti saat kamu bercerita bahwa kamu sedang menjalani hubungan yang serius denganku, aku hanya meminta satu padamu. Dari sekian banyak kemungkinan dan cerita nyaris matimu itu, simpan satu nyawamu untukku. Simpan satu saja untukku.



I'm here, Nya. I'm here. Until you realize that I've here eventhough I am not here. - Aldebaran Risjad, Critical Eleven karya Ika Natassa.

Senin, 07 September 2015

Terlambat

Aku pernah merasa sangat terlambat….
Lagi-lagi menyesali keterlambatan yang fatal.

Akhir-akhir ini aku sangat risau. Risau yang membuatku malah tidak bisa memutar cerita selama dua bulan yang aku jalani.
Semua media sosialku dipenuhi teman-temanku yang berbagi cerita mereka, pada ‘tempat pelarian’ mereka. Entah kemana ceritaku selama 60 hari itu. Apakah mungkin aku tidak bisa membuat cerita seindah dan seapik teman-temanku? Atau aku yang terlalu dingin menjalani 60 hariku itu?
Semakin lama aku berpikir sambil melihat kiriman teman-temanku itu, semakin sesak rasanya dadaku.

Sejujurnya, aku kehilangan separuh hatiku pada kepolosan anak-anak Lereng Merapi bagian barat. Waktu itu, aku menjalani sebuah program penanggulangan resiko bencana berbasis sekolah di daerah Magelang. Selepas melewati program itu, aku tidak henti merindukan mereka. Aku selalu teringat antusiasme dan semangat mereka. Aku selalu mengingat mereka. Aku jatuh cinta pada anak-anaknya, juga mulai jatuh cinta pada kebencanaan.

Sedikit kehilangan hati, lalu dengan ‘egois’ aku memilih untuk menjalaninya lagi. Memilih tema pelarian yang sama, kebencanaan. Saat itu, aku datang dengan hati yang sedikit kosong. Mampukah aku menjalani hari-hariku disini? Dengan bayang-bayang wajah polos itu?
Aku sempat berucap. Aku tidak ingin terlalu dekat dengan anak-anak disini. Aku tidak ingin jatuh cinta lagi dengan mereka. Aku akan menjaga jarak. Aku akan berusaha untuk menjaga hatiku.

Tapi apalah daya, Tuhan menginginkan aku jatuh cinta lagi.
Tuhan ingin aku membuat cerita yang lebih banyak lagi di Lereng Merapi. Tanpa sadar, anak-anak nakal yang biasa tidak mau diatur itu, mulai melunak. Mereka semakin senang menempel dan memberikan tebakan-tebakan lucu. Mereka bahkan dengan antusias mengikuti kegiatan. Mereka bersorak saat bosan, namun mengerjakan banyak tugas dengan tekun.
Sampai suatu ketika, mereka benar-benar mencuri hatiku bersamaan dengan 60 hari yang mendekati ujungnya.

Kenapa anak-anak itu baru menurut sekarang? Saat kita sudah akan selesai program? Besok kita harus kesini lagi ya, ujar temanku.
Tapi kapan, kalian habis ini pada sibuk semua, sahut temanku yang lain.
Aku akan kesini. Aku akan kesini lagi. Aku tidak ingin terlambat lagi. Karena aku sudah tahu apa rasanya terlambat, jawabku tegas.

Aku tau rasanya terlambat. Benar-benar terlambat.
Aku pernah menangis tanpa henti suatu malam. Saat aku menyadari bahwa aku sudah terlalu jatuh cinta pada Lereng Merapi tempat aku berpijak saat itu, namun tetap merindu pada sisi Lereng Merapi yang lain. Aku menangis sesenggukkan karena mengingat sudah dua tahun berlalu dari kegiatan itu. Bahwa sudah dua tahun berlalu, dengan rindu yang selalu menghimpit namun tidak kunjung disembuhkan. Aku ingat bahwa dua tahun waktu yang cukup untuk membuat anak-anak polos itu lulus dari SD. Lalu dimanakah mereka bersekolah saat ini? Kemana aku bisa mencari mereka lagi? Dimana?
Pertanyaan-pertanyaan dan rindu itu yang hingga kini membuatku resah.

Inginku bukan lagi sekedar ingin datang ke tempat itu dan membuat cerita yang sama menyenangkannya. Inginku hanya satu, jangan sampai aku terlambat lagi. Jangan sampai aku terlambat menyembuhkan lukaku dan menyadari bahwa waktu sudah berjalan cukup lama. Jangan sampai aku terlambat menyadari, bahwa waktu sudah membuat beberapa hal berubah dan membuatmu kesulitan untuk menyembuhkan rindumu.


Salam sayang untukmu, anak-anak polos penuh kehangatan di Lereng Merapi. Aku merindukan kalian.

Rabu, 01 Juli 2015

1 Juli

Halo 1 Juli!
Akhirnya harus bertemu denganmu. Dan akhirnya harus menghadapi semuanya sekarang.
Tidak ada lagi waktu untuk mengelak. Mau tidak mau, siap tidak siap. Semua harus dihadapi agar segera selesai.
Oh mengapa hari ini harus 1 Juli? Mengapa awal bulan ini tidak membawa semangat yang besar? Mengapa seperti enggan untuk menjalani bulan-bulan kedepan?

Huft, terlalu awal untuk mengucapkan selamat tinggal bukan?