Selasa, 25 Maret 2014

Mari Menikmati

“Musik itu untuk dinikmati, bukan untuk diadu”
Tagline dari sebuah merek kopi ini sedikit membuatku berpikir kemarin pagi.
Diantara kesibukan mempersiapkan diri untuk berangkat kuliah, kalimat itu membuatku berhenti sejenak dan berpikir sebelum akhirnya tersenyum tipis.
Kalimat itu menyadarkanku akan sesuatu. Juga mengajak untuk move on.

Aku dan teman-teman Padakacarma habis melewatkan weekend indah dan berkesan di Gunung Kidul. Kami ada ‘kelas’ cantik dan pintar bersama Ocean of Life Indonesia (OLi). Selama weekend itu, kami menghabiskan waktu kami untuk belajar dan tinggal bersama OLi. Kami tinggal di sebuah rumah limasan yang berdiri di sebuah bukit dan menghadap langsung ke laut. What a beautiful home. Lalu, kami juga belajar banyak hal. Tentang biogas, cara membuat MOL (mikro organisme lokal) dari buah Maja bahkan aku berkesempatan mencicipi buah Maja yang ternyata manis dan berbau seperti wine, tracking dan mengamati pantai juga memungut sampah yang ditinggalkan pengunjung yang datang ke pantai.

Di sana, kami merasakan betapa nikmatnya hidup sederhana.
Tanpa televisi, tanpa handphone.
Menikmati makan malam sederhana namun menjadi makan malam yang paling mengenyangkan dan nikmat.
Mendengarkan debur ombak dan angin laut.
Membaca sambil melihat pemandangan.
Ngobrol sambil glundungandan tertawa lepas.
Juga waktu yang terasa berjalan lambat. Aku tidak worry atau takut kekurangan waktu. Semua terasa sangat hidup.

Lalu, Minggu sore kami terpaksa harus meninggalkan itu semua.
Kembali pada kehidupan di kota. Ditengah keramaian.
Setelah tidak terganggu sama sekali dengan suara kendaraan, kami pulang ke Jogja dan harus cukup kaget mendengar dan melihat begitu banyak motor dan orang yang sibuk.
Kami pun terserang galau masal dan akut. Menyerang dengan telak.
Selama 2 hari aku masih pada titik tidak rela meninggalkan itu semua. Aku masih sibuk membayangkan dan ingin kembali menikmati hari di rumah kayu tersebut.

Aku sedikit membandingkan. Aku sedikit tidak terima.
Karena waktu terasa berjalan sangat cepat, terasa sangat kurang.
Karena lingkungan sekitarku tidak indah, hanya ada gedung bertingkat dan keramaian kendaraan bermotor.
Karena merasa terikat akan rutinitas, yang sudah seperti cycle yang kujalani by default, yang seakan sudah diatur.
Aku tidak puas dengan hidup dan rutinitasku. Hidup dan rutinitas bersama OLi adalah yang ingin aku lakukan.

Hingga taglinekopi itu menyadarkanku..
Bahwa, hidup itu tentang menikmati bukan untuk diadu.
Tidak ada yang perlu dibandingkan dengan hari-hari biasaku dengan weekend di bersama OLi. Tidak ada yang berbeda dengan hidup di rumahku di Sleman atau dirumah OLi di Watu Kodok.
Yang berbeda hanya aku sudah sejak kecil tinggal di rumah dan lingkungan ini sedang rumah OLi adalah rumah yang baru aku lihat dan tinggali selama 2 hari. Dan yang paling penting adalah, aku menikmati dan menghidupi 2 hari itu sedang aku hanya menjalani dan melewati hari-hari biasaku.

Aku lupa cara menikmati hidup.
Aku lupa bagaimana cara menikmati kamarku yang serba pink ini.
Aku lupa bagaimana harus menikmati hijaunya sawah di belakang rumah.
Aku lupa menikmati suara motor yang berjalan didepan rumahku.
Aku lupa menikmati ruang kuliah serba putih dan dosen yang mengajar.
Aku lupa menikmati ngobrol bersama teman ditemani sepoi angin di hall kampus.
Aku lupa menikmati rutinitasku dan aku membandingkan.
Aku lupa, benar-benar lupa, bahwa hidupku di kota juga harus aku nikmati dengan cara yang sama seperti saat aku di Watu Kodok.

Iya, hidup itu memang untuk dinikmati bukan untuk diadu.
Ini hanya soal perspektif. Soal kebosanan dan kelupaan kita.
Aku memang meninggalkan jejak hidup dan separuh hatiku pada rumah kayu di tebing itu, pantai bersih berpasir putih itu, atau suara alam itu namun aku tidak seharusnya membandingkan hidupku.
Yang harus aku lakukan adalah menjalani dan menikmati hidupku dengan cara yang sama dengan cara aku menjalani dan menikmati 2 hari hidupku itu.
Aku perlu belajar menikmati pemandangan belakang rumahku sama seperti tebing hijau dibelakang rumah OLi.
Aku perlu belajar menjaga kebersihan halaman depanku sama seperti aku menjaga kebersihan pantai.
Aku perlu belajar menikmati suara kendaraan sama seperti aku menikmati suara deburan ombak.
Aku perlu belajar untuk tersenyum dan tertawa sama seperti caraku tersenyum dan tertawa disana.
Aku harus kembali belajar.
Dan antusias dengan segala ornamen kehidupanku. Belajar seakan-akan baru pertama kali aku merasakannya.

Iya, aku harus menikmati hariku dengan cara yang sama aku menikmati hariku disana.
Selamat belajar menikmati hidupmu, Teman. Dan mari semangat juga antusias dengan segala pernik kehidupan rutin kita.

Mari move ondan bahagia.. Yeaaaayy!

Kamis, 20 Februari 2014

Kangen Cowok Pilihan Tuhan :D

Hari ini, ditengah masa galau perihal cari duit buat Asian Youth Day, tiba-tiba kangen sama sesuatu.
Kangen mendhesinFrater, upss hahaha :D

Jangan berpikir aneh-aneh dulu yaa~
Aku perhalus deh, bukan mendhesin, tapi berteman dengan para Frater.

Waktu SMA aku ikut sebuah organisasi pelajar katolik SMA se-Jogja, namanya B-Kompelk. Dari organisasi ini aku jadi deket sama Frater-frater. Dari sini juga aku bisa belajar banyak hal. Belajar melihat Frater dengan cara yang berbeda. Pertama mereka juga manusia. Kedua, walau mereka calon Imam, manusia pilihan Tuhan, tapi mereka juga gak serta merta hidupnya gak bisa kita jangkau.
Mereka aktif sosial media kok, mereka bisa diajak diskusi apa aja, bisa diajak ngobrol apa aja, bahkan bisa diajak nongkrong juga. Soalnya, beberapa kali setelah B-Kompelk suka jajan-jajan dulu, hehe

Aku menulis ini bukan karena aku ada apa-apa dengan para Frater. Ha mbok sumpah!
Seriusan, aku kangen sama deket sama Frater karena menyadari bahwa Frater pembimbing B-Komplek angkatanku, sudah semakin serius dengan studinya. Semakin tinggi. Frater Ipung sudah jauh di Papua, Frater Graha lebih deket dikit sih, di Mertoyudan. Dan ternyata, aku sudah cukup lama enggak ikut Taize di Seminari. Doa yang sering bikin nangis-nangis itu. Lama juga gak ngobrol dan diskusi tentang apa aja sama Frater, baik lewat Facebook atau secara langsung. Baik cerita tentang masalah pribadi sampe politik Indonesia.
Itu artinya, masa itu sudah 2 tahun yang lalu~

Sore ini, aku diajak Arum untuk bantu B-Komplek dan FKPK yang mau mengadakan Ekaristi Kaum Muda.
Dan disini nih, aku ketemu beberapa Frater dan ngobrol masalah Asian Youth Day. Pertimbangan untuk aku lepas atau enggak status partisipasiku untuk acara ini.
Belom kenal banget sama Fraternya, tapi tetep bisa ngobrol banyak, bahkan dapet info yang, semoga, bisa membantu permasalahan keuangan itu.
Dari sinilah, rasa kangen itu muncul.

Aku kangen masa-masa dekat dengan Frater.
Karena seperti Frater Wisnu yang mau membantu dan mengajakku untuk berusaha tetap ikut Asian Youth Day, Frater udah seperti motivator. Pasti mengajak kita untuk percaya dan berusaha. Mungkin di Teologi ada juga matakuliah menjadi motivator, hihi
Salah satu hal yang membuatku punya semangat optimis dan yakin saat ini mungkin salah satunya karena hal ini.

Dekat dengan Frater, walau kadang kudu diomongin banyak orang tapi punya banyak positifnya.
Ngobrol sama mereka itu, membuat aku belajar untuk percaya.
Percaya pada banyak hal, pada hal yang mungkin terlihat mustahil dan sulit untuk dilakukan.
Percaya pada siapa saja, orang yang gak kita kenal, bahkan kekuatan yang tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang, kekuatan Tuhan.

Beneran. Ngobrol sama mereka itu, without judging.
Terbuka. Mereka akan mendengarkan sampai selesai, lalu memberi banyak solusi. Kaya temenlah. Mereka juga akan memberikan banyak perspektif dari apa yang kita bicarakan.
Ngobrol sama mereka, saat berbicara tentang iman, akan berasa lagi ngobrolin pacar atau film terbaru di bioskop.

Aaahhh, semakin lama jadi semakin kangen.
Semakin lama jadi semakin sadar kalo sedang galau iman, hahaha
Mungkin itu artinya, aku kudu mulai aktif lagi mendhesin Frater, lalalala~


PS:
Ngomong-ngomong, beberapa hari yang lalu Frater Ipung ulang tahun. Happy birthday yak, Ter. Sehat selalu, semangat selalu, sukses selalu, bahagia selalu. Ternyata Frater sudah semakin tua saja, haha aku ucapkan selamt ulangtahun yang terlambat ini, dari waktu yang dua jam lebih lambat. Semakin yakin sama panggilan yaa, Ter. Tak tunggu Romo-mu~ Salam untuk Papua.

PPS:
Tulisan ini tidak bermaksud apa-apa, merendahkan status Frater atau apaun. Tulisan ini menjadi bentuk apresiasi dan terima kasih karena sudah banyak cowok-cowok ganteng dan baik yang menyeriusi panggilan Tuhan dan mau menjadi teman galau juga diskusi.

Oh iya, bersama dengan tulisan ini saya juga mau bilang, bahwa menghubungi Frater itu enggak susah kok. Apalagi saat teman-teman punya acara dan butuh pendamping. Seminari pintunya gede, Pak Satpamnya baik, jadi gampang kalo mau masuk. Fraternya juga bahagia banget kok kalo diajakin acara macem-macem. Dihubungi juga gampang kok. Seminari bukan sebuah tempat dibawah batu yang tidak ada akses internet, jadi kalo perlu Frater bisa menghubungi dulu lewat Facebook, tenan iki. Yaa Cuma kudu sabar aja, soalnya balesnya gak bisa langsung saat itu juga. Fraternya harus gantian pake komputernya, kadang rebutan juga, hehe tapi pasti dibales kok. Tenang aja, saya jamin *eh* haha

Minggu, 09 Februari 2014

My Power Ranger, My Guardian Angel


Haii Bunda.. Selamat Ulang tahun..
Sorry for my late utterance.Sudah 9 hari berlalu dari tanggal ulangtahunmu, aku menunggu hingga Tuhan memberikan mood terbaik agar aku bisa memberikan tulisan terbaik untukmu..

Aku tidak ingin menyebutkan berapa jumlah umurmu saat ini.
Somehow, aku tidak cukup siap dengan angka yang membayangi dirimu. Aku tidak siap, menyadari jika kau bertambah tua, bertambah, bertambah yang lain. Karena bertambah itu memunculkan banyak jika. Aku belum ingin membicarakan itu.
Terlebih lagi karena aku belum menjadi anak baik seperti yang kau inginkan.

Aku masih nakal, aku masih manja.
Aku masih suka bangun siang, aku masih males menyapu, merapikan tempat tidur.
Aku masih suka menggunakan kaos, tidak menyisir rambut, tidak membersihkan muka.
Juga sejuta kenakalan yang lain. Aku belum bisa menjadi anak baik yang engkau inginkan.
Maaf..

Aku sangat dekat denganmu..
Aku menghabiskan banyak waktu denganmu. Membagi berbagai cerita denganmu. Bercengkrama diatas tempat tidur. Bahkan, kadang kau melepaskan semua rahasia yang aku ceritakan padaku kesemua orang. Saking banyaknya hal yang aku ceritakan padamu.

Aku merasakan banyak sentuhanmu..
Dulu kau selalu menguncir rambutku. Mengepangnya, menghiasnya dengan berbagai jepit. Membuatku seperti puteri. Membuatku sangat senang dengan berbagai hiasan di rambutku. Hingga saat ini pun, kau selalu risih untuk merapikan rambutku yang berantakan.
Mencarikan kaos kaki untukku, menyetrika seragamku. Begitu juga saat ini. Setiap aku menyetrika, kau selalu mengulanginya dengan berkata “Adek gak pinter nyetrika. Ini masih lecek.”
Kau juga masih sering membantuku mencari kaos kaki. Aku jarang menggunakan kaos kaki dibalik sneakers-ku, karena aku malas, karena aku sulit menemukan kaos kakiku. Kau akan menyempatkan diri mencari sambil berkata, “Dicari yang bener, pake mata, jangan teriak-teriak terus.”
Tapi aku suka.
Walau kadang aku balas meneriakimu. Malas dengan segala kerapian yang selalu kau utamakan. Dibalik itu, aku menikmatinya. Aku merasakan kembali perhatian masa kecil yang dulu kau berikan.

Aku sudah cukup besar saat ini. Sudah cukup berego dan malu untuk memintamu memperhatikanku, medekapku.
Taukah kau, bahwa aku suka caramu membangunkanku?
Kau akan mendekatiku, naik ke tempat tidurku, mendesakku untuk memberimu tempat, lalu kau akan mendekapku sambil terus berbisik ditelingaku untuk membangunkanku.
Itulah cara licikku untuk merasakan dekapanmu. Tanpa harus malu, tanpa harus meminta. Aku akan mendapatkannya.

Namun, kadang aku juga sangat kesal kepadamu.
Aku tidak suka saat kau membandingkanku dengan adik.
Aku memang tidak serapi, serajin Dian. Aku tidak sepintar dan secemerlang Vincent.
Tapi aku selalu berusaha. Berusaha agar aku bisa cukup pantas untuk kau banggakan.

Tidak cukup puaskah kau dengan aku yang mau menghabiskan waktu untuk memasak?
Tidak cukupkah denganku yang menghabiskan banyak waktu diluar, meningkatkan segala kemampuanku agar bisa membuatmu bangga?
Tidak cukupkah aku dengan mengurangi jam tidurku untuk mengerjakan tugas kuliahku untuk nilai terbaik, juga tugas kuliahmu untuk meringankan bebanmu?

Ohh, I’m being the selfish person here. Always blaming you.
Tapi pernahkah kau sekali berfikir bahwa inilah aku yang sebenarnya?
Kadang aku butuh pengakuan, juga penerimaan.
Bahwa aku lebih pintar memasak daripada membersihkan rumah. Bahwa aku lebih kuat dan berani untuk melakukan segala sesuatu sendiri. Bahwa aku belajar dengan alunan musik, bahwa aku sering menangis karena terlalu perasa, bahwa aku menghabiskan banyak waktu dengan HP dan jejaring sosial untuk mendengarkan temanku yang curhat.
Hal-hal kecil ini sering tidak kau akui. Padahal aku merasa inilah diriku saat melakukannya.
Kadang, kamu masih tidak terlalu puas dengan yang telah aku lakukan, yang akhirnya membuatku patah hati.

Ingatkah kau suatu hari, waktu yang sudah lama itu, dengan iseng aku menghabiskan waktu mandiku untuk membersihkan kamar mandi?
Menyikat lantai dan dinding kamar mandi sekeras mungkin, sebersih mungkin. Merapikan barisan botol shampoo dan sabun, membersihkan tempat sikat gigi. Dalam pikiranku saat itu, aku ingin membuatmu terkesan, karena aku membersihkan kamar mandi.
Namun, begitu kau pulang kerja yang bertepatan dengan Tante dan Om yang datang, kau malah berteriak heboh, “Tante, mau make kamar mandiku gak? Barusan dibersihin cah ayu nih, sampe mengkilap!”
Aku tak tau apakah kau benar-benar ingin memujiku, tapi saat itu, untuk kesekian kalinya, kau membuatku patah hati. Aku hanya mampu tersenyum masam. Menatap buku jariku yang memutih karena terlalu lama terkena air dan sedikit lecet akibat gesekan sikat kamar mandi.
Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku tak sebebal atau semalas yang kau pikirkan. Tapi ternyata, kata-katamu membuatku berjanji dalam hati bahwa aku tak akan lagi dan tak mau lagi membersihkan kamar mandi. Dan hal itu aku lakukan hingga saat ini, walau kau sering berteriak, memintaku membersihkan kamar mandi.
Tidak lagi, Bunda. Aku tidak ingin sakit hati lagi.

Begitu juga saat aku memasuki masa ujian.
Aku selalu menyalakan laptop, membuat playlistlalu menyalakannya sebagai teman belajar. Kadang aku akan bernyanyi lirih agar tidak bosan. Selalu seperti itu. Hal itu menjadi caraku agar aku tidak malas belajar. Agar aku mau terus berkencan dengan Matematika, Bahasa Indonesia, Ekonomi, Fisika. Benakku saat itu, ingin memberikan nilai terbaik untukmu.
Namun, sering kali kau masuk kamarku, sedikit sebal dengan suara lirih dari laptop. Kau sering berkata, “Emang pelajarannya bisa masuk? Paling lirik lagunya doang yang hafal.”
Saat ini, dengan segala hafalan ‘lirik lagu’ yang mengantarku mencapai beberapa hal, sering kau banggakan. Kau sering berkata bahwa aku adalah kakak yang keren karena sukses belajar sambil mendengarkan lagu. Bahkan kau sekarang memberi kebebasan saat adik-adik belajar ditemani suara musik.
Aku senang karena kau membanggakanku, hanya saja disatu sisi, aku juga teringat akan patah hatiku dulu.
Tidak mudah sembuh dari luka yang diciptakan oleh orang yang kau sayangi, Bun. Begitulah dengan diriku.

Aku tidak ingin mengadu saat ini. Atau membuatmu merasa bersalah. Karena aku sudah mulai menerima semuanya bahkan mensyukurinya.
Aku hanya ingin mengutarakannya. Aku hanya perlu menceritakannya. Agar kau tidak membuat kedua adikku patah hati sepertiku. Cukup aku yang nakal ini yang harus merasakannya. Jangan pernah membuat kedua adikku patah hati, Bunda. Keluarkan semua kasih sayang dan pujianmu pada mereka. Jangan pernah sekali-kali membuat mereka merasa tidak berguna.

Selamat Ulang Tahun Bundaku. My power ranger, my guardian angel.
Kau adalah wanita kuat dan tangguh seperti power ranger dan wanita lembut, penyayang seperti malaikat.
Kau menghabiskan jutaan waktumu dengan membanting tulang.
Mengerahkan segala tenaga untuk memenuhi segala kebutuhanku dan adik. Kau adalah power ranger, seakan tidak memiliki rasa lelah untuk terus menyediakan yang terbaik bagi kami. Kau adalah malaikat, penuh cinta untuk siapa pun, membantu banyak orang sebisa dirimu.
Aku bangga memiliki Bunda sepertimu. Dan itu membuatku selalu jatuh cinta setiap menatapmu.

Kita menghabiskan banyak waktu untuk bercerita.
Kau menceritakan masa lalumu. Masa mudamu yang penuh dengan perjuangan. Penuh dengan kerja keras.
Kau juga bercerita bagaimana dulu kau pernah merasa tersiksa, yang membuatmu pergi jauh, mencari kehidupan baru. Bagaimana kerasnya Eyang dulu saat mendidikmu, bagaimana kau harus belajar ekstra keras untuk mempertahankan beasiswamu. Juga bagaimana dulu kau pernah jatuh cinta.
Aku mengenal orang itu, Bunda.
Aku tahu bahwa mungkin orang itu menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagimu, memberikan segala hal terbaik bagimu. Orang itu bisa memberikan waktu yang nyaman dan bahagia untuk kau jalani. Tapi kau memilih perjalanan hidupmu yang seperti ini. Yang kau bilang, kadang ingin membuatmu berlari, tapi inilah resiko dari segala pilihan kehidupanmu.
Kau selalu mengatakannya dengan tersenyum, Bunda. Seakan hal itu tidak pernah menyakitimu. Padahal, jauh didalam hatimu, kau merasa lelah dan sakit.
Dengan berani aku pernah bertanya, “Kenapa Bunda enggak sama Om itu aja? Pasti Bunda gak akan secapek sekarang.”
Tawa kecil. Hanya itu yang kau berikan. “Kalo Bunda sama Om itu, Bunda gak akan punya tiga orang anak baik dan pintar kaya kalian. Kalian adalah anugerah dan hadiah terindah yang selalu buat Bunda kuat.”
Bunda.. Jika bisa, aku masih ingin agar kau tidak memilih jalan ini, agar kau bisa lebih bahagia.
Kau sering berkata, “Untung Bunda punya anak kaya kalian, gak perlu dilesin, pinter semua. Gak banyak nuntut, selalu sederhana dan apa adanya.”
Bunda.. Sayangnya, aku tidak sebaik itu. Kadang pun aku masih menuntutmu untuk memberikan berbagai macam hal, kadang aku masih menginginkan banyak hal.

Bunda, bukan kau yang beruntung karena memilikiku tapi aku yang beruntung karena memilikimu. Aku beruntung karena memiliki Bunda setangguh dirimu, yang mendidikku, mengajariku dan membuatku menjadi seperti ini. Kau memberikan banyak pelajaran berharga. Aku beruntung karena berkesempatan belajar darimu, belajar banyak hal tentang kehidupan darimu.

Terimakasih karena engkau mau menghabiskan waktu untuk membesarkanku.
Terimakasih karena engkau memilih  dan bersedia menjadi seorang Ibu dari anak nakal dan berantakan ini.
Terimakasih karena kau dan Ayah memberiku kesempatan untuk merasakan hidup didunia ini.
Terimakasih atas segala waktu, tenaga dan perhatianmu.
Terimakasih karena engkau selalu ada untukku dan kedua adikku.
Terimakasih karena menjadi Bundaku, my power rangerberhati malaikat.
Terimakasih karena menyebutku sebagai hadiah dan anugerah terindah yang pernah kau miliki.
Dan maaf atas segala kenakalan, teriakan, sumpahan atau amarahku. Maaf karena aku sering menyakitimu.
Semoga aku bisa menjadi Bunda sebaik dirimu, sekuat dirimu. Tidak, aku harus menjadi Bunda yang lebih baik dan kuat darimu. J

Long life my guardian angel.
Kau harus melihat dan merasakan kesuksesan yang sedang aku persiapkan untukmu. Percayalah, apapun yang sedang aku lakukan saat ini adalah sesuatu yang sedang aku rintis. Untuk kehidupanku juga sebagai hadiah untukmu. Kau harus terus menemaniku hingga aku bisa mandiri. Kau harus bisa berdiri disampingku, disetiap momen bahagiaku.
Hanya itu permintaanku, teruslah ada untukku, teruslah hadir untuk menyemangatiku hingga aku yakin dan mampu berdiri sendiri.
Semangat yaa Bunda kuliahnya, Bunda gak boleh males, karena aku berniat untuk menantangmu. Kita lihat nanti, siapa yang lebih pintar diantara kita. Kau harus mau menerima tantanganku ini Jhahaha
Sehat selalu, sukses selalu dan bahagia selalu untuk Bunda. Tetap setangguh power ranger dan selembut hati malaikat..
I love you to death!

Jumat, 24 Januari 2014

Aku Juga Pengen Nyindir..

Aku makin gak paham dengan sarkasme dan sindiran kepada para pejabat pemerintah. Entah untuk siapapun. Yang lagi heboh sih untuk Bu Ani.
Jujur aku bingung dan agak pusing, dengan sarkasme dan sindiran yang terus menerus ada. Yang menuntut Bu Ani untuk berhenti main instagram dan hobinya dengan fotografi.
Mereka meminta Bu Ani untuk lebih peduli pada bencana alam, yang menurut salah satu stasiun televisi swasa membuat Indonesia menjadi darurat bencana. Mereka menuntut Bu Ani sebagai Ibu negara untuk membantu apa yang sedang terjadi diluar istana indah yang Beliau tempati dan kamera mahal yang selalu mereka tanyakan dengan uang apa Beliau membeli.

Mereka selalu berteriak, menuntut orang lain agar menyelesaikan masalah yg ada. Terutama para pejabat pemerintah. Kan sebagai pejabat pemerintah, udah tugasnya kan? Kata mereka.
Ibu Ani tidak pernah mencalonkan diri sebagai Ibu Negara, Beliau hanya kebetulan menjadi istri dari seorang politikus yang nyalon jadi presiden dan menang. Itu poin pertama.
Poin selanjutnya, ini gampang banget? Para orang yang menyindiri itu, apa yang sudah mereka lakukan untuk para korban bencana? Udah nyumbang? Udah jadi sukarelawan?
Penyindir yg tinggal di Jakarta, apa sudah jadi penduduk yang enggak buang sampah di kali? Udah punya kesadaran untuk buang sampah dengan benar?
Aku tanya aja, udah melakukan itu semua belom? Jangan-jangan para penyindir itu malah sedang liburan atau nongkrong di cafe?

Poin lainnya, aku suka karena banyak orang semakin sadar dan mau memberi kontrol sosial, atas peran dan status seseorang. Masalahnya, Ibu Ani hanya Ibu negara, bukan ibu peri dengan tongkat ajaibnya yang bisa menyelesaikan semua masalah di Indonesia yg terus dituntut penyelesaiannya.
Indonesia punya jutaan penduduk, kenapa tidak membangun kesadaran jutaan manusia itu lalu menggerakkan badan dan mencoba menyelesaikan masalah yg ada? Kenapa harus menuntut banyak hal, menunjuk satu orang yang seakan-akan sangat luar biasa dan sanggup menyelesaikan semua masalah?
Mungkin akan lebih baik lagi jika para penyindir itu memang tersadar, bukan hanya untuk memprotes namun juga bergerak untuk menyelesaikan. Mungkin sindirannya akan lebih jos dan berbunyi, iya kan?

Ada yang sudah mulai merencakan memberikan sindiran lewat aksi?

Itu sindiranku buat teman-teman, juga buat diriku sendiri..

Kamis, 23 Januari 2014

Kado Ulang Tahun: In Different Ways


Happy Birthday my girl, my best friend, my kind-hearted roommate, my always-rempong-with-so-many-rituals girl!!
Selamat datang di tahun 16! Gimana rasanya menjadi seseorang dengan umur 16 tahun?
Sengaja nih menuliskan kado ini setelah kamu melewati beberapa hari dalam 16 tahunmu, aku tidak ingin memberatkanmu dengan berbagai doa atau pesan. Aku ingin kamu menikmati dulu waktumu, hehe soalnya tahun-tahun ini kamu akan mulai banyak memikirkan berbagai hal. Lebih ribet, lebih dalam dan lebih galau lagi memikirkan tentang hidup, keluarga, sekolah, teman, kegiatan bahkan pacar. Pada tahun ini kamu akan memasuki fase galau dalam hidup. Mungkin bagian galau of life yang pertama.
Mungkin akan sedikit berat, karena kamu harus terbiasa dengan semesta dan keadaan yang memaksakan kamu untuk mulai memasuki dunia dewasa yang lebih cepat, lebih rumit lagi. Tapi, aku harap kamu mau menjalani fase ini. Tidak bersembunyi dalam zona nyaman dan hati-hati yang biasa kamu jalani. Fase ini, memang sebuah bagian dalam hidup yang harus kamu jalani karena kamu akan menjadi orang yang lebih baik dan siap untuk menghadapi fase lain dalam hidup.

Saat berumur seperti kamu dulu, saat itu aku adalah seorang Desti ganjen. Juga Desti yang nakal dan memberontak.
Kamu pasti ingat, aku sering berkaca sendiri didepan cermin, rajin menyisir rambut, dan mencoba berbagai gaya manis. Saat itu kamu hanya bisa berteriak, “Kamu gila yaa mbak? Ngaca terus!”. Namun, saat ini, sepertinya kamu sudah lebih berteman baik dengan sisir. Kamu juga sering senyum-senyum sendiri setelah merapikan rambut. Aku ingin membalas teriakanmu kala itu, tapi aku hanya bisa cemberut dan berkata, “Tuhkan, kamu belom ngerasain aja sih enaknya jadi cantik dan manis dicermin. Ketagihan deh sekarang.”
Aku benarkan? Kamu ketagihan berkaca sekarang?
Hahahaha, itu wajar. Itu memang salah satu pretelenhidup yang harus kamu lalui dalam fase ini.

Aku yang lain adalah aku yang nakal dan pemberontak.
Yang masih hingga sekarang. Masih suka main gak jelas, bahkan sekarang pulang hingga larut. Bangun siang dan malas-malasan, males mandi pula. Jarang mengikuti keinginan orang tua. Bebas semauku sendiri.
Kamu pasti ingat, bagaimana aku dulu memaksa masuk sekolah jauh, enggak mau berangkat naik bis, berantem memilih jurusan di sekolah dan kuliah dengan Ayah, bermain bersama teman, bahkan mengikuti kegiatan yang menyita banyak waktu. Saat itu, sebuah fase itu yang harus aku lalui.

Aku sering merasa terganggu saat kamu bilang, “Mbak enak, gak perlu belajar bisa masuk UGM. Aku harus belajar biar bisa masuk UGM. Pasti sulit buat aku ngejar UGM.”
Aku enggak tau gimana ceritanya aku bisa masuk UGM. Aku bilang karena aku beruntung. I’m a lucky girl. Untungnya pula, saat itu aku berani berantem dengan Ayah. Memilih IPS dan bisa memaksimalkan otakku sehingga ada tiket emas yang membantuku masuk UGM. Kebetulan juga aku bukan pembelajar formal yang harus duduk manis seperti kamu, sehingga terlihat betapa aku anak yang beruntung, yang tidak perlu banyak belajar.
Aku beruntung, Darl. Kamu rajin.
Itu kuncinya. Kamu harus mengakui bahwa kita memiliki cara belajar yang berbeda. Itu yang seakan mempermudah jalanku. Tidak juga. Aku juga mengalami banyak rintangan. Ayah dan Bunda tidak pernah benar-benar mempercayaiku belajar karena aku selalu menyalakan musik dan bernyanyi saat belajar. Aku harus melalui fase itu, tidak seperti kamu. Ayah dan Bunda selalu mendukungmu, mempercayaimu. Itu yang harus kamu gunakan untuk ikut menyusul UGM-ku.

Saat kamu iri dengan ‘kepintaranku’, aku hanya seorang kakak biasa yang juga iri padamu.
Lihatlah kamu sekarang. Kamu tumbuh menjadi gadis manis, dengan rambut panjang yang tertata rapi, berkacamata, rajin belajar, rajin beres-beres. Kamu juga lebih dewasa, lebih tenang, enggak pecicilan, sudah sangat wanita. Kamu tumbuh menjadi seorang anak gadis harapan orang tua dan sangat wife-able, mungkin saat ini sudah ada beberapa ibu yang menginginkanmu jadi menantunya. Itu sebabnya banyak cowok melihat kamu berbeda, kamu memiliki charm sebagai cewek yang manis. Yang bikin kamu punya banyak penggemar.
Tapi ada kalanya kamu bilang, “Enak ya Mbak jadi kamu? Ceria, banyak temen, aktif. Aku pengen kaya kamu.”
Saat itu pula, aku ingin menjadi seseorang yang seperti kamu. Aku juga pengen tau jadi cewek wife-able sejak dini, bukan cewek pecicilan dan stress kaya gini, hehehe. Kalo aku bisa, aku juga akan seperti kamu, biar Bunda gak ngomel-ngomel melulu sama aku. Tapi sepertinya Tuhan dan Semesta lebih ingin membentukku seperti ini. Tuhan dan semesta ingin aku menjadi cewek yang aktif, yang bisa loncat sana-sini, dan aku juga lebih nyaman seperti ini.
Percayalah, saat dewasa nanti, kamu pasti akan lebih tertata, titi dan telaten daripada aku. Aku pasti masih akan kebingungan mencari barangku.
Percayalah, Tuhan dan Semesta sudah bekerjasama untuk membentuk dirimu yang seperti itu. Coba saja, saat kamu harus melakukan banyak hal seperti aku, mungkin kamu akan tidak nyaman.

Manusia memang tidak pernah puas ya?
Begitu juga aku dan kamu.
Kamu selalu ingin seperti aku, aku selalu ingin seperti kamu.
Kamu selalu melihat apa yang aku lakukan dalam hidup ini adalah kehidupan yang kamu impikan, begitu juga dengan aku.

Setiap orang akan melalui pretelan hidup yang berbeda selama hidupnya.
Dan aku harus melalui berbagai pretelanitu. Jalan itulah yang harus aku lalui. Untuk bisa kuat dan menjadi Desti yang sekarang.

Kamu pasti juga akan melalui pretelan hidup. Mungkin saja berbeda dengan apa yang aku lalui.
Aku tidak minta kamu untuk melalui pretelanhidup yang sama denganku dalam fase ini. Kamu pasti akan mengalami hal yang berbeda, yang akan membentukmu menjadi Dian yang kuat, berani, tangguh dimasa depan. Tentu saja yang berbeda dengan kuat, berani dan tangguh yang aku punya.
Kamu tidak harus seperti aku dan iri denganku.

Kamu tidak harus melalui dan melakukan hal yang sama sepertiku.
Tuhan dan Semesta memang menyediakan jalan ini untukmu. Jalan inilah yang harus kamu lalui, untuk menjadi Dian yang seutuhnya. Kamu masih ingin seperti aku? Bisa, cobalah sedikitlah bersenang-senang dan rileks. Sedikitlah keluar dari zona nyaman dan kehati-hatian yang biasa kamu lakukan, tapi tidak merubah seluruh dirimu. Percayalah, aku lebih suka kamu yang seperti ini. Yang lebih dewasa dibanding aku, yang lebih rapi dan teratur daripada aku.
Kamu harus lebih menerima dan nyaman dengan dirimu. Aku juga harus mengalami pretelan hidup itu kok.
Semua orang punya sesuatu yang berbeda dalam hidupnya. Semua orang punya hal yang tidak dimiliki orang lain, yang menjadi nilai plus dan ciri khas orang itu.

Every person is worth to be and always have their own values, in different ways.
Kamu selalu punya nilai tersendiri akan dirimu, in different ways. Yang membedakan kamu dari orang lain. Yang membedakan kamu dari aku.
Itu yang harus kamu pahami. Perbedaan itu yang harus kamu lihat dan resapi, lalu hargai dirimu dan orang lain. Dengan segala perbedaan yang ada.

Welcome to sixteen years life, Girl!
Have a nice and beautiful life. Have a exciting and wonderful journey, enjoy it!
Wish the best for you J
Hidup tidak semudah apa yang kamu imajinasikan, semakin lama semakin banyak hal yang harus dilalui dan diselesaikan. Selamat menjalani, selamat belajar dan selamat menilai dan menghargai dirimu.
I always love you.. :*


PS: Karena kamu sudah sangat manis dan wife-able, kamu boleh lho pacaran duluan, aku iklass~ hihihi

Minggu, 19 Januari 2014

Surat Cinta Untuk Kamu, Teman yang Aku Rindukan..

Hari ini dapet kejutan..
Saat bergelung ditengah selimut karena merajuk dan kedinginan karena gak enak badan, satu stiker Cony memeluk Brown di Line jadi kejutan yang sangat menghangatkan.
With that sticker, i’m finally find my missing friend.
Begitu di chatsama ia langsung nangis, begitu di chatsama dia langsung sadar kalo kangen berat!

Ya Tuhaann..
Kapan ya kita terakhir ngobrol, Mel?
Kapan yaa kita terakhir diem-dieman ngeliatin jalan di dalem bis?
Kapan kita terakhir kali ngobrol gak jelas ngalor-ngidul?
Apakah udah selama itu?

Saking bingung dan senengnya, aku sampe bingung mau bales chatmu. Cuma bisa tanya kabar dan tanya apa udah ketemu aa EXO apa belom? Hahahaha, rasanya konyol banget. Sekonyol air mata yang jatuh lhoo, Mel.

Aku inget banget pertama kali kita ketemu.
Waktu itu kamu masih kucel, hahaha. Masih bingung karena baru pertama di Jogja. Dengan pede dan sok-sokan seperti biasanya, aku deketin kamu yang bingung. Lalu semesta berkonspirasi, menyatukan kita dalam satu kelas dan kita mendadak jadi kembar dempet. Nemenin kamu kemana-mana, ngajarin kamu naik bis dan nginget gang rumahmu bahkan berkesempatan bertemu ‘Om penjaga rumah’ Tantemu.
Maen, Photobox, nonton, makan mie ramen, keliling naik trans Jogja, opa-opaan sama pacar kamu dulu. Itu senengnya. Itu lucunya. Sama kamu, Mel..
Sedihnya ada, cemas juga. Waktu kamu telpon aku, Cuma diem aja, terus sms bilang kalo kamu sedih. Karena seseorang yang lagi jauh..
Waktu kamu tiba-tiba gak masuk sekolah, karena sakit. Terus aku dapet sms dari Tante kamu, dari pacar kamu. Khawatir banget rasanya, Mel. Sejak itu jadi agak lebay over protective-nya sama kamu. Takut kamu kenapa-napa, karena kamu dari jauh. Begitu juga sama kejadian yang menggemari seseorang itu, Mel. Aku Cuma pengen jagain kamu, tapi kayanya salah cara. My bad~

Kamu juga misterius. Sangat misterius malah..
Enggak bener-bener kenal kamu, Mel. Kaya ada sesuatu yang enggak kamu jelasin banget, yang bikin aku bertanya-tanya, yang lain juga kok. Keluarga kamu, kesukaan kamu, masalah kamu, kayanya enggak bener-bener tau. Itu kenapa kami suka kepo-kepo kamu, karena kami pengen kamu percaya sama kami, biar kamu enggak merasa sendiri.
Tapi kayanya salah cara juga, Mel. Another, my bad~

Tiba-tiba juga, semua terasa semakin jauh karena kamu beda kelas sama kami. Kamu dikelas sebelah, Cuma sering ketemu waktu istirahat dan dikit-dikit smsan. Kamu punya temen baru, kesenengan baru. Enggak papa sih, Mel. Kami seneng kok, karena mungkin kami belum bisa ngikutin kesukaan kamu dan mereka bisa. Jadi disatu sisi kami seneng, kamu semakin keliatan bahagia, kamu jadi semakin terbuka. Dari kelas sebelah, kami ikut seneng buat kamu, Mel. Sayangnya, kami gak gerak cepat untuk ngejar itu, jadi kami semakin ketinggalan. Aku juga salahnya gak berusaha ngejar, gak berusaha untuk bener-bener ngerti kamu..
Salah cara lagi yaa, Mel? Again, my bad~

Sekarang, kamu sudah di seberang samudra, sudah ditempat yang dua jam lebih cepat dari tempat aku menulis, Mel.
Sudah mengenal dunia yang lebih besar, lebih lebar, lebih penuh hal-hal baru. Mengejar hal yang emang sangat kamu sukai dan cintai, yang jujur luput dari kepekaanku sebagai teman. Kamu benar-benar selangkah lebih maju.
Aku jadi iri, juga sedih banget karena harus pisah dari kamu. Kamu masih tetap polos, masih tetep kangen sama pisang goreng Bunda-yang bikin aku tambah nangis kejer.

Aku kehilangan banyak momen tentang kamu, Mel.
Kehilangan banyak kesempatan buat kenal kamu lebih dekat, buat mengambil kesempatan dan memiliki posisi menjadi orang yang selalu mendukung kamu.
Aku juga terlambat karena gak nyari kamu sejak satu tahun yang lalu. Terlambat banget sampe tiba-tiba cemas karena menyadari Twitter dan Facebook kamu sudah deactive. Again and again, my bad~

Sekarang, dengan jarak terpisah ratusan kilometer dan waktu terlambat 2 jam dari tempat kamu bergelung dalam selimut, I just wanna say that I miss you, miss you like crazy!
Maaf yaa kalo aku pernah punya salah, maaf yaa kalo aku pernah menekan kamu dengan segala keegoisanku. Maaaaff sekali. A bunch of sorry..

Dan aku hanya berharap, kamu baik-baik disana. Sehat selalu, bahagia selalu, semangat selalu.
Jangan lupa makan, jangan keseringan makan mie instan. Jangan kecapekan, atur waktu jangan sampe sakit.
Tetap menyanyi, tetap berteman degan mixer, tetap bersahabat dengan piano dan berkencan dengan nada. And always be you, definitely you..

Dari Jogja yang hujan hari ini, untuk Seoul yang dingin malam ini ditambah setitik air mata, wish you always live your life up! Aku Cuma berharap kamu bahagia, selaluuuuu.

Cuma satu kata ini, Mel yang paling fasih aku ucapkan, saranghae! *bikin bentuk love ala drama Korea*

Sabtu, 04 Januari 2014

Menertawakan Luka

“Kamu akan sembuh saat kamu sudah bisa menertawakan luka yang pernah kamu alami..”

Kalimat itu, entah sudah berapa kali aku ucapkan untuk teman-teman, maupun orang yang bercerita padaku soal masalahnya. Kalimat itu juga yang sebenarnya menjadi salah satu ‘penyembuh’ saat aku ada masalah.

Kemarin, waktu Sekolah Kaca 23-angkatannya udah banyak anyway, materi dari Sekolah Kaca adalah bercerita. Bercerita apa saja. Terutama tentang dirinya. Maksudnya, selain menstimulus agar mereka biasa berbicara dan mengutarakan pendapat, juga agar mereka mau membuka diri. Itu penting lho, saat reportase, pasti akan ada banyak hal ‘ajaib’ dan mengagetkan yang akan mereka temui, makanya mereka harus belajar untuk membuka diri.

Dari hasil bercerita itu, mereka harus mengerjakan PR. 500 kata tentang cerita menarik dari teman mereka. Setelah aku baca, beragam yaa? Sebagian mulai berani bercerita lebih dalam tentang dirinya. Sebagian masih mencari aman dengan bercerita hal permukaan tentang dirinya. Intinya, semua sudah berani bercerita soal masalah-masalah yang pernah mereka alami. Sekecil apapun itu.

Aku juga pernah punya masalah kok.
Lumayan besar malah. Lumayan sempat bikin pengen kabur dan menghakimi hidup ini. Bahkan, bilang kalo Tuhan itu gak adil. Seriusan.
Tapi, akan ada satu titik dimana kita akan melihat batu untuk berpijak. Kita akan mampu berdiri dan perlahan akan menaiki tangga untuk mengejar ketertinggalan.

Aku suka sesi kemarin.
Aku merasa senang. Senang karena bisa kepo-kepo, hahaha.. Apalagi setelah baca tulisan dari temen-temen. Setiap orang pasti punya cerita, juga punya masalahnya sendiri. Dan gak dipungkiri kalo setiap masalah akan memunculkan luka.
Mas Agung pernah bilang, bahwa masalah remaja yang terbesar adalah merasa kalo masalahnya adalah yang terbesar dalam hidup ini. Itu yang bikin banyak remaja terpuruk karena merasa hidupnya sangat kelam. Padahal, kalo kita mau mendengarkan banyak orang, kita pasti akan ada pada titik menyadari bahwa masalah kita itu gak ada apa-apanya.
Pesan tersirat lain dari sesi kemarin sih sebenernya lebih pada menejem masalah. Ini tersirat banget sih sebenernya, apalagi buat yang masih sekolah, tapi berhubung aku udah berkali-kali ikut Sekolah Kaca, jadi makna tersiratnya udah agak gak tersirat lagi, hehehe. Dengan bercerita, harapannya teman-teman bisa dan mau menghadapi masalahnya. Dengan bercerita kita akan dihadapkan pada paksaan untuk mengutarakan yaa secara tidak langsung kita harus menghadapi fakta yang kita pendam sekian lama. Iya kan? Itu sih, menghadapi masalah dan apa yang pernah kita lalui dalam hidup.

Akhirnya, saat belajar untuk menghadapai masalah kita, kita akan menemukan solusi, akan menemukan ‘penyembuhan’-kaya sakit keras aja buk.
Kita akan merasa bahwa masalah kita ternyata sangat lucu, atau mungkin merasa bahwa masalah kita tidak begitu besar, mungkin kita akan menyadari lalu tertawa.
Dan kamu akan sembuh, saat kamu bisa menertawakan lukamu…

Any problem worth to be, kok J