Senin, 21 Juli 2014

Jawab Ini Dulu

Besok KPU akan mengeluarkan hasil rekapitulasi suara pilpres..
Aku mau bertanya sesuatu, siapakah kalian, yang mengaku warga Indonesia yang menuntut perubahan juga siapa untuk berubah? Terlepas dari pasangan nomer berapa yang terpilih. Terutama untuk pendukung atau yang memiliki kecenderungan mendukung pasangan tertentu untuk konsisten dengan visi dan misi yang diusung calonnya?

Salah satu pasangan mengusung soal pembenahan mental Indonesia dan aku mempunyai teman yang sangat membanggakan visi dan misi ini. Sayangnya, saat kami jalan-jalan bersama menaiki sebuah motor, ia menerobos lampu merah karena jalan yang nanggung jika tidak “belok kiri jalan terus.” Sudah ada instruksi, namun dia tetap berbelok. Nanggung katanya kalo enggak belok. Seperti inikah semangat dan bentuk konsistensi kita pada visi dan misi untuk merubah mental orang Indonesia?
Kasarnya, saat harus menaati tata tertib berlalu lintas yang in case untuk keselamatan kita saja kita masih punya seribu alasan, apalagi untuk memperbaiki hal besar seperti korupsi atau KKN yang membawa hajat hidup orang banyak?

Siapkah kita untuk berubah? Dan mampukah kita untuk melawan diri kita sendiri untuk melakukan perubahan yang lebih baik?
Siapapun presiden terpilih, lupakan soal polemik dan permasalahan didalamnya, yang akan menjalankan visi dan misinya adalah kita jutaan manusia di Indonesia. Kita terlibat langsung didalamnya. Maukah kita menjalankan ini? Selama lima tahun? Setelah selama sebulan kemarin kita habis-habisan mendukung dan menyakini visi-misi pasangan jagoan kita?

Mari jawab ini dulu sebelum kita meributkan rekapitulasi KPU dan hasil yang akan diumumkan besok.

Minggu, 20 Juli 2014

Mengusahakan Axel


Kemarin aku membuat seorang anak menangis. Hmm, tepatnya, masih mewek sih.
Axel, semoga benar nulisnya, adalah anak dari kakak sepupu aku. Dia susaaaah sekali dekat dengan orang baru. Bahkan, aku dibuatnya berusaha habis-habisan untuk mendapatkan hatinya. Harus pake jurus merayu dengan jelly dan ayunan dulu sampai dia mau bersamaku.
Untungnya, Tuhan baik. Bocah kecil ini mau menghabiskan banyak waktu bersamaku. Bahkan, saat bersamanya, bila aku diam-diam menjauh darinya, dia akan mengejarku. Aduuuhh itu bikin terharu, hehe usahaku tidak sia-sia ternyata. Aku berhasil membuat dia nempeeeell sama aku.
Hingga akhirnya, aku melihat wajah sedih dia saat Ayahnya mengajaknya pulang. Bahkan, dia gak mau aku ajak tos. Melihatnya menatapku seperti itu, sedih seakan tidak mau pulang, membuatku ikut sedih.

Hanya sebentar inikah kebersamaan kita Axel? Semoga aku tidak membuatmu patah hati. Semoga saat kita bertemu, kamu tidak membuatku berusaha habis-habisan lagi untuk mendapatkanmu.

Permintaan Tinggi Hati

“Liat nih Dek, Mbak yang lebih gede malah minta digendong. Gak papa ya? Kan Mbak lagi sakit.”
-Ayah, kepada adikku saat aku sakit, belasan tahun yang lalu-


Kalimat itu adalah kalimat pelengkap dari sebuah momen kedekatanku dengan Ayah. Yang masih teringat hingga saat ini.
Waktu itu aku sedang sakit, malas ke sekolah. Dan Ayah, saat itu, adalah pahlawanku. Ayah adalah sosok paling lembut dan kuat yang mampu menjagaku. Tubuh tingginya menggendongku sekaligus menjaga adikku yang masih harus selalu diawasi. Adik saat itu juga merengek minta digendong dan kalimat itu adalah gurauan yang dikeluarkan dari mulut Ayah.
Saat itu, aku hanya bis bergelung manja dalam dekapan Ayah. Menyembunyikan kepalaku pada lekukan hangat leher Ayah. Mencari ketenangan dan perlindungan disana. Aku tidak peduli pada adik yang merengek iri ingin digendong. Saat itu, Ayah hanya milikku. Saat itu, Ayah adalah sosok yang masih belum rela aku bagi.

Kenangan belasan tahun lalu itu menjadi sebuah kenangan, yang membekas dan paling bertahan ditengah begitu banyak momen perselisihan yang pernah terjadi denganku dan Ayah. Kemarin, saat pernikahan sepupuku, melihat Ayah menangis haru karena keponakannya yang bersujud meminta restu pada orang tuanya menyadarkanku. Tiba-tiba aku merindukan sosok kuat dan tangguh yang dulu menjadi sandaranku. Tiba-tiba aku ingin kembali memeluknya, kembali bersembunyi lekukan lehernya. Mencari perlindungan disana.
Sekelebat kalimat itu menyadarkanku, bahwa momen itu mungkin menjadi momen terakhir dimana aku dekat dan masih bersandar padanya. Momen, yang teringat, dimana aku sudah tidak pernah lagi menyentuhnya atau merengek manja meminta perlindungannya.

Time flies, Ayah. Waktu membuatku keras kepala dan banyak berselisih paham denganmu. Waktu juga berjalan cepat, membuatku menyadari bahwa aku sudah tidak pernah lagi berlari padamu. Bermanja padamu pun sepertinya sudah tidak lagi.

Waktu berjalan cepat, Ayah. Aku rindu saat itu, saat dimana aku masih polos dan bersedia bersandar padamu. Menggantungkan seluruh diriku padamu. Ayah, aku masih terlalu tinggi hati untuk meminta permohonan ini. Memintamu kembali memelukku. Bolehkah aku memintanya? Suatu saat, diwaktu aku siap?

Sabtu, 19 Juli 2014

Patah Hati Yang Pertama

Sebelum jatuh cinta dan cinta mati sama Bhebe, aku pernah punya anjing bernama Ucil.
Aku enggak tau gimana ceritanya bisa punya Ucil. Pokoknya, tau-tau begitu pulang sekolah udah ada anjing kecil nangkring di depan rumah. Sejak itu, secara sepihak aku mengakui bahwa anjing itu adalah punyaku dan aku beri nama Ucil. Aku eggak punya banyak pengalaman memelihar anjing, yang jelas aku sayang sama dia dan sering main bersama. Setiap pulang sekolah yang aku cari adalah Ucil.
Sampai suatu hari, aku lupa pastinya berapa lama memelihara Ucil, aku tidak bisa menemukan Ucil dimana pun. Biasanya pulang sekolah aku bisa dengan mudah menemukannya. Karena kehilangan si Ucil, aku bertanya pada Bunda dimana Ucil. Kata Bunda aku suruh tanya Om dan kata Om Ucil sedang main. Percayalah aku kalo Ucil sedang main dan pasti akan kembali. Namun, aku tunggu-tunggu sekian lama, Ucil tidak pernah kembali. Aku bertanya lagi pada Bunda, dan Bunda masih memberikan jawaban yang sama. Karena tidak sabar akhirnya aku memaksa Om.
Jawabannya cukup membuat syok.
Om menyuruhku bertanya pada supir bis yang dimiliki keluargaku kala itu. Kata beliau, Ucil sudah jadi tongseng. Oh maaaaii, aku enggak tau maksudnya Ucil jadi tongseng kala itu. Lalu setelah bertanya dan dijelaskan banyak orang, barulah aku paham Ucil pergi kemana..

Rasanya kala itu itu, sakiiiiiittt. Patah hati dan sakitnya tepat banget didada akuuuu~

Jumat, 18 Juli 2014

Begini Rasanya?

Jadi begini rasanya?
Nyesek karena merasakan dua perasaan yang berlawanan dalam satu waktu? Tertawa lalu dibarengi rasa sedih yang datang.
Jadi begini rasanya?
Kehilangan teman bicara, melawan dinginnya hari? Kehilangan bahu untuk bersandar juga tangan untuk digenggam?
Jadi begini rasanya?
Merasakan letupan euphoria lalu rindu yang menggebu dalam satu waktu? Senang karena bertemu lalu dihantam rindu walau baru sebentar mengucap selamat malam?

Jadi begini rasanya.. Seperti ini.. 

Ketagihan Fly Over

Di deket rumah, tepatnya didaerah Jombor dibangun sebuah fly over. Fly overini belum lama dioperasikan, bahkan sepertinya belum diresmikan.
Aku tidak begitu suka melewati fly over. Entahlah. Aku terlalu parno karena ada kemungkinan jatuh kebawah. Membayangkannya sangat mengerikan. Itu yang membuat aku memilih melewati jalan memutar ketimbang melewati fly over. Beneran. Aku selalu parno. Adik dan Bunda sampai harus memaksaku untuk melewati fly over, kata adikku “kali-kali nyoba, Mbak.”
Dan tiba-tiba sekarang aku ketagihan~~ hahahaha
Ketagihanku ini berawal dari Senin kemarin. Saat mengantarkan Vincent, adiku, ke sekolahnya, mau gak mau aku memang harus melewati fly over untuk jalan pulang. Terpaksa yaa ini terpaksa. Gak mau kejebak macet di jalan bawah.
Saat melewati fly over itu aku melihat pemandangan paling indah. Membuat mataku yang sedikit mengantuk langsung terbuka lebar dan menghilangkan rasa dingin yang membuat ingin segera sampai rumah. Langit yang biru bersih, lalu ada Gunung Merapi yang tinggi menjulang di sebelah utara dengan Gunung Merbabu mendampingi dibelakangnya. Di Barat Laut juga ada sebuah gunung yang tidak aku ketahui namanya.

Oh Tuhaaaaaann, itu indah sekali. Indah pake banget! Fiks maksimal.
Merapi, Merbabu terlihat sangat jelas. Aku bisa melihat Merapi dari puncak yang mengeluarkan asap tipis hingga kaki gunungnya yang besar dan memanjang. Merapi terlihat sangat gagah hingga aku ingin memeluknya. Gunung lain yang tidak aku ketahui namanya pun terlihat dengan dengan jangkauan tanganku.
Selain pemandangan pagi hari, malam ini saat melewati fly over, aku juga bisa melihat kerlip lampu di kaki Gunung Merapi. Seperti kota mainan atau perhiasan di kaki langit. Indaaaaahh sekali. Rasanya aku ingin mengambilnya.

Aaaaaaaakk! Pokoknya fiks, aku ketagihan fly over. Aaaaakk!

Bersembunyi Dibalik....

Salah satu sifatku saat kecil adalah iseng. Dan ada banyak kekacauan yang pernah aku lakukan karena keisenganku.
Waktu kecil, Bunda masih tinggal satu rumah dengan 2 adik lelakinya. Saat itu, salah satunya sudah mempunyai istri. Aku cukup dekat dengan kedua om-ku, walau ada salah satu om yang agak galak. Dan suatu ketika aku harus berurusan dengan om yang galak ini, hehehe
Saat itu, Om punya sebuah teko lucu dengan motif sapi juga berbentuk seperti sapi. Itu adalah salah satu barang yang dimiliki Om yang paling aku suka. Suatu ketika, dengan niat isengku, aku mengendap-endap, ingin mengagetkan Om dan Tante. Rumahku kala itu punya banyak jendela, bahkan hampir setiap kamar ada jendelanya. Dari jendela kamar itulah aku ingin mengagetkan Om dan Tante.
Aku bersembunyi dibalik gorden, menunggu saat yang tepat untuk menyibakkannya. Agak lama Om dan Tante tidak keliatan dari tempat persembunyianku. Akhirnya, aku menyibakkan gordennya lebih luas, megulurkan tanganku masuk melalui celah jendela. Lalainya, aku tidak sengaja menyenggol teko sapi. Praaaang! Jatuhlah ke lantai.
Karena panik, aku segera berlari menuju kamar dan pura-pura tidur. Bergelung dalam selimutku, menutup mukaku agar tidak keliatan. Tak lama, suara derap kaki tante memasuki kamarku. Membangunkanku dan tidak percaya bahwa aku tidur. Dipaksanya aku agar bangkit dari tidurku. Kebebalankulah yang menang. Membuat Tante kembali berjalan keluar, berhenti membangunkanku.

Aku sangat mengingat momen itu.
Selain karena merusak barang yang aku sukai, aku juga semakin takut pada Om dan Tante karena kejadian itu. Aku menyukai si teko sapi. Sering merengek agar aku bisa memilikinya. Namun, aku malah memecahkannya. Memupuskan keinginan memiliki teko lucu. Ditambah lagi, aku jadi semakin takut pada Om dan Tante yang memang memiliki watak cenderung keras dan tegas. Aku jadi sering segan dan tidak begitu dekat dengan mereka lagi. Aku terlalu takut, bahkan hingga saat ini.

Awalnya aku ingin memberi kejutan dan tawa riuh dari persembunyianku di balik gorden kamar, namun yang terjadi aku malah bersembunyi dibalik selimut karena ketakutan dan merasa bersalah.